Ciuman yang Mengikat


SAYA mengenal Liana, sekretaris direktur di sebuah perusahaan Jepang, sebulan lalu. Tika, kawan saya di perusahaan pengelola gedung, memperkenalkan kami dalam pertemuan tidak sengaja di sebuah mall yang dilanjutkan dengan obrolan di sebuah coffee shop. Diakhiri dengan saling bertukar nomor telepon.

Itu sebulan yang lalu. Sepuluh hari terakhir ini, jari-jari saya memiliki daya ingat yang kuat untuk menyambungkan saya pada Liana. Setelah 4 kali makan siang, 3 kali nonton, 5 kali makan malam, dan obrolan lewat telepon sekian puluh jam (yang semakin lama semakin provokatif), area terlarang antara Liana dan saya semakin sempit dan luluh. Sungguh terasa menyenangkan memeluk pinggang seorang perempuan dengan tubuh yang hanya dapat Anda lupakan ketika ia mencapai usia menopause atau tubuh Anda berhenti memproduksi testosteron. Hanya butuh sedikit waktu lagi maka dia akan menyerahkan bibirnya dengan gairah yang sulit untuk ditolak.

*******************
Dalam seks, satu kesalahan terkadang harus Anda tanggung seumur hidup. (Michael Sinz)
*******************

Kencan berikutnya……semua tiba-tiba bergerak seperti roller coaster. Kami membuat janji bertemu di coffee shop tempat kami pertama berkenalan. Saya tiba lima menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Selang empat menit kemudian Liana muncul dengan kecantikan yang matang seorang perempuan berumur 27 tahun. Masih mengenakan setelan kerja: blazer abu-abu dan blouse putih yang dua kancing atasnya sengaja dibuka. Roknya sedikit di atas lutut, memperlihatkan pangkal betisnya yang putih. (Rok mini akan membuat segalanya lebih mudah). Tangannya memegang sebuah tas kecil dari bahan kulit berwarna hitam. (Saya ingin tahu apakah ada kondom di dalam tas kecil itu).

“Saya tidak terlambat, kan?!” katanya ketika saya mencium pipinya sambil melirik ke arah belahan dadanya yang sedikit terbuka.

Wangi green tea menyeruak dari bagian bawah lehernya. Saya berdoa semoga parfum saya masih memiliki tenaga agar apa yang sudah saya bayangkan akan terjadi malam ini –dan membuat saya tidak konsentrasi selama sisa jam kerja tadi- tidak hancur berantakan.

“Senang kamu datang terlebih dulu,” kata Liana lagi.
“Ah, saya hanya tidak ingin membiarkan kamu duduk sendirian di sini dan membiarkan lelaki lain menggaet kamu,” jawab saya, jujur saja, dengan ketulusan yang penuh dengan kepura-puraan.
“Hanya lelaki yang memegang komitmen yang tepat waktu,” tandas Liana.

Ini seperti peringatan agar saya membuang jauh-jauh rencana yang hendak saya lakukan atas Liana malam ini. Komitmen, bagi perempuan seperti Liana, adalah cara Anda menunjukkan bahwa Anda loyal, bertanggungjawab, punya integritas, dan siap menjalani sebuah hubungan yang serius.

Padahal, apa sih yang tidak akan dilakukan seorang lelaki untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dari seorang perempuan? Untuk sebuah ciuman, saya akan menciptakan alasan yang paling masuk akal untuk menghindari tugas lembur dari bos (bagaimanapun juga tidak akan ada pemecatan karena satu kebohongan kecil yang tidak ketahuan) atau mengarang “rapat penting” agar tidak harus menjemput si Noni sehabis latihan aerobik (dia akan selalu memaafkan saya). Tapi komitmen sebagai balasan untuk ciuman yang belum tentu juga berujung ke tempat tidur? Itu sudah terlalu serius.

*******************
Tuhan memberikan penis dan otak kepada lelaki, tetapi sayang tidak memberikan cukup banyak darah untuk menggunakan keduanya sekaligus. (Robin Williams – mengomentari affair Clinton dan Lewinsky)
*******************

Liana sudah menuliskan daftar rencana hebat dalam kehidupan asmaranya dengan lengkap. Menikah pada umur 29, bertunangan 6 bulan sebelumnya, berpacaran tidak lebih dari 1 tahun, dan memiliki dua anak pada usia 33.

“Kalau begitu kamu harus segera bertemu dengan lelaki yang akan menjadi ayah dari anak-anakmu itu”, saya melihat sekeliling mencari pegangan.
“Sudah. Kurang lebih sebulan lalu,” ujar Liana sambil tertawa menggoda.

Berarti agenda Liana akan bergerak lebih cepat dari rencananya semula. Padahal yang ada di hadapan Liana sekarang ini adalah sisi kelelakian saya yang egois dan siap memuntahkan luapan hasrat.

Tiba-tiba saya merasa seperti orang yang pertama kali naik limosin dan dirampok lima menit kemudian. Dan saya sedang duduk di samping kepala perampoknya.

“Ikuti saja rencana perempuan itu,” bujuk sebuah suara yang membela libido saya. Sebuah ciuman bukan dosa yang terlalu besar untuk mendapatkan pengampunan. “Memang sudah waktunya. Mungkin kamu akan kalah dalam perjudian ini. Mungkin juga kamu tidak akan pernah menemukan perempuan seperti itu lagi……” Tetapi bagaimana kalau ia menuntut diperkenalkan kepada ibu saya setelah satu ciuman?

*******************
Saran saya untuk Anda: menikahlah – jika Anda mendapatkan istri yang baik Anda akan bahagia; jika tidak, Anda akan menjadi filsuf. (Socrates)
*******************

Saya menjalankan mobil dengan kecepatan sedang sambil berpikir. Wajah Liana yang mempesona terbayang di setiap kelokan. Dia benar-benar cantik. Tidak dapat disangkal lagi, sangat mampu membangkitkan hasrat seksual saya. Saya menyesal tidak menciumnya tadi.
*******************
(Tulisan ini pernah dimuat dalam Men’s Health Indonesia, Juni 2003)

Advertisements

  1. komitment hahaha 😀
    suatu momok yang paling menakutkan bagi lelaki

    tapi suatu saat kita akan terjerat di dalamnya

    termasuk gw hehehe




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: