Teman Tapi Mesra (Men’s Health, Juli 2003)


Dia menawarkan seks, tanpa ikatan. Buat apa saya mengikatkan diri?

Pukul 2 dini hari. Perempuan bertubuh lencir di sebelah saya menyusupkan kepalanya ke dada saya. Kami baru saja selesai bercinta untuk kedua kalinya malam itu. Dan dia bercinta seperti angin puting-beliung.
“Bercinta selalu membuatku kelaparan,” katanya sambil menggigit puting dada saya setelah badai di atas tempat tidur itu reda. Untuk sementara! Tubuhnya yang sempurna seperti patung dewi Yunani melenggang turun dari tempat tidur, mengambil setangkup roti dari atas meja.
Lenny, 25 tahun, staff humas sebuah hotel ternama, salah seorang teman baik yang saya kenal sejak di universitas. Dia adalah seorang sarjana di bidang psikologi. Saya kira dia sedikit tergila-gila pada teori psiko-sosial yang radikal. Dalam banyak percakapan kami, dia sering menyatakan ketidaksetujuannya pada aturan-aturan tertentu dalam masyarakat. Masyarakat adalah penjara, katanya suatu kali.
Kami benar-benar sekedar teman dekat sebelumnya sampai, -entah dengan cara bagaimana-, sashimi di restoran Jepang tadi –sebenarnya mungkin karena kami terlalu bergembira malam itu- merangsang hormon kami untuk mengakhiri malam ini di tempat tidur. (Saya sendiri sudah tidak bisa lagi menahan godaan untuk menjamah buah dadanya setelah sekian tahun terkekang persahabatan kami).

========================
Orang yang tidak pemilih adalah orang yang bercinta lebih sering daripada Anda. (Victor Lownes)
========================

“Sejujurnya, Lenny, kita bukan pasangan yang tepat untuk cinta yang serius. Ini tidak akan berkembang ke arah……”
“Saya kira juga begitu. Tetapi itu bukan berarti kita tidak bisa melakukan hal yang menyenangkan ini di lain kesempatan, kan?!” katanya sambil mengoleskan selai strawberry ke atas tangkup rotinya yang kedua, sambil menatap saya.
“Tapi bagaimana dengan persahabatan kita?” tanya saya ragu.
“Jadi kamu belum pernah menjalin hubungan seperti ini?” Pertanyaannya itu menyentak saya yang sedang membayangkan dia akan segera mengoleskan selai strawberry itu ke bagian tubuh saya yang lain begitu ia selesai dengan setangkup rotinya.
Sesaat kemudian, saya hanya bisa mengiyakan ketika Lenny menawarkan semacam “kesepakatan”, begitulah dia menyebutnya, untuk hubungan kami selanjutnya. Kami boleh bercinta, tidak ada ikatan. Tidak harus ada kencan setiap akhir pekan. Tidak harus menjemputnya sepulang kerja. Tidak harus mengantar berbelanja ke mall. Tidak perlu diganggu dan mengganggu dengan kewajiban menelpon hanya untuk mengucapkan “selamat tidur” atau menjadi pendengar yang baik untuk semua keluh-kesah. Kami saling kenal begitu dekat; sekaligus asing dalam setiap hal, kecuali satu: kami bercinta.
“Kamu kira saya tidak berkata serius?” kata Lenny yang rupanya melihat ekspresi keterperangahan yang tidak berhasil saya sembunyikan.
“Oh, tidak. Tentu saja tidak. Saya juga pernah kok menjalani hubungan seperti itu. Lima kali!” kelit saya.
Kemudian saya merangkak turun dari tempat tidurnya dengan lutut yang benar-benar goyah.

========================
Cinta datang di bawah nama persahabatan. (Ovid)
========================

“Bodoh. Jadi kamu bilang tidak?” kata Gilang, penulis rubrik kesehatan Men’s Health, iri dengan keberuntungan saya.
“Saya tidak bilang begitu.”
“Kamu sungguh-sungguh beruntung. Itu tawaran paling menguntungkan yang pernah saya dengar selama ini. Teman tapi mesra. Kamu harus memperkenalkan perempuan itu kepada saya.”
“Saya sendiri tidak yakin apakah kami bisa berteman dalam arti yang sebenarnya setelah itu – tapi terus terang saya menyukai bagian seks-nya.”
“Tanya Rinto – dia punya beberapa pengalaman dengan hubungan seperti itu,” seru Gilang menyebut nama kenalan kami yang seorang manajer di sebuah perusahaan consumer goods.
Rinto memang pernah menjalin hubungan seperti ini dengan seorang rekan kerjanya dulu. “Menurutnya kami bukan orang yang cocok untuk menjalin hubungan cinta, satu-satunya kecocokan kami ada di tempat tidur,” cerita Rinto. “Masalahnya, kemudian saya jadi jatuh cinta kepadanya, dan itu benar-benar menyebalkan.” Ketika akhirnya Rinto memberikan ultimatum kepada teman wanitanya itu untuk memilih: jadi kekasihnya atau tidak sama sekali – perempuan itu benar-benar pergi.
“Jadi, kawan, jangan terlalu memaksakan keberuntunganmu,” kata Rinto.
Lelaki mendapatkan sensasi emosional melalui seks, sebaliknya perempuan menggunakan emosi sebagai pintu masuk menuju kenikmatan seks – semacam surat ijin bagi mereka untuk membuka paha mereka lebih lebar.
“Tetapi bukankah seharusnya kita merasakan ‘sesuatu’ terhadap satu sama lain jika…..”
“Ahhh… yang kamu bicarakan itu adalah pandangan yang idealistik tentang seks. Itu hanya ada dalam pikiran seorang plonco dalam hubungan seperti ini.”

========================
Cinta bukan apa-apa, melainkan seks yang salah dieja. (Harland Blison)
========================

Jumat pukul 19.00. Noni entah dimana dengan tugas luar kotanya. Kebosanan membuat saya mengorek lagi catatan nomor telepon Lenny di agenda saya.
“Ayolah, kawan. Ini adalah peruntungan yang hanya bisa dinikmati oleh sedikit lelaki.”
Dan satu jam kemudian saya sudah berdiri di depan dan mengetuk pintu apartemen Lenny. Beberapa menit kemudian kami sudah menggelepar di atas ranjangnya. Celana dan baju saya tidak tahu ada di sebelah mana. Bantal seingat saya tadi terlempar ke pojok sebelah kanan kamar. Hampir-hampir sebuah porselen Cina pecah berantakan.
Hubungan saya dengan Lenny benar-benar menyenangkan. Luar biasa, tetapi juga menyeramkan, sebab saya tahu bahwa persahabatan kami sedang berada dalam pertaruhan yang berbahaya. Saya seperti sedang berada di showroom mobil dan melihat-lihat mobil yang sekiranya cocok untuk kelelakian saya padahal saya tidak berkeinginan membeli mobil. Buat apa terus melakukan test drive kalau Anda tidak mau membawa mobil itu pulang? Apa yang berusaha saya jangkau lewat keringat yang membasahi tubuh kami berdua adalah tetap mengapung di antara persahabatan dan cinta. Saya tidak mungkin kembali ke persahabatan kami yang dahulu – semuanya sudah berbeda. Tetapi saya juga tidak ingin melangkah lebih jauh lagi karena saya tidak melihat kecocokan yang cukup untuk itu (Lenny sendiri tidak menginginkan hubungan seperti itu). Tapi Lenny bukan hanya pencinta yang hebat di tempat tidur – dia adalah tempat tidur itu sendiri. Harus saya akui ada rasa possesif yang sentimentil muncul di dalam diri saya. (Entah berapa banyak kesepakatan seperti ini telah dia buat).
Dalam perjalanan pulang, saya hanya punya satu pikiran egois: saya tidak akan memperkenalkan perempuan yang satu ini kepada Gilang.

========================
Seorang lelaki bisa bahagia dengan perempuan manapun selama dia tidak mencintai mereka. (Oscar Wilde)
========================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: