Perburuan Jodoh (Men’s Health, Agustus 2003)


Tempat itu penuh dengan orang, tetapi semuanya kesepian.

Saya berjalan mondar-mandir dengan gelisah di ruang tamu, seperti ikan mas koki yang terlempar keluar dari aquarium – megap-megap di atas lantai. Sudah 26 hari ikatan emosional antara saya dan Noni sampai pada titik yang paling menjemukan. Sepuluh menit lalu perbincangan kami di telepon berakhir tanpa ada titik terang lebih lanjut tentang arah hubungan kami. Dan tiba-tiba saya menemukan diri saya begitu kesepian. Saya kembali sendirian.
Sebetulnya tidak ada masalah dengan itu kalau saja saya punya “cadangan”. (Lenny sedang melancong ke Malaysia mengikuti hasrat berpetualangnya yang gila-gilaan.) Dan sekarang status saya yang kembali “available” membuat saya begitu kesepian sampai-sampai saya ingin bercinta dengan seorang perempuan yang mana saja. Seorang perempuan baru. Sekarang juga. Bagaimanapun juga seorang lelaki tanpa perempuan adalah seekor anjing yang lepas kendali.
Sampai kemudian pandangan saya jatuh pada sebuah pengumuman. Iklan sebuah biro jasa perjodohan yang akan mengadakan acara temu jodoh minggu depan di sebuah kafe di bilangan selatan menarik perhatian saya. Malamnya para lajang. Malam yang dijanjikan akan menjadi kencan terpanas bagi para lajang.
“Akan menghadirkan para lajang paling panas di kota ini.”
Serta-merta saya membayangkan sebuah ruangan yang dipadati oleh kepala botak dan tampang aneh yang jumlahnya lebih banyak daripada yang ada dalam film Star Trek sekuel yang manapun.
“Coba sajalah. Kelihatannya tidak akan seburuk yang kamu kira,” kata setan kecil yang duduk di atas bahu kiri saya. Lagu “I Can’t Get No” – The Rolling Stone meraung-raung di telinga saya. Saya sudah kembali seperti sedia kala. Horison emosi saya sudah padat dengan semangat dan hasrat.

====================
“Untuk cinta – sebuah kebakaran yang tidak ada jaminan asuransinya”.
– Kakek saya dalam pernikahan sepupu saya –
====================

Kamis, pukul 20:00, saya pergi dengan kemeja kasual di bawah jaket saya. Seorang wanita berusia 35-an memakai pantalon kulit berwarna hitam berdiri di depan saya dalam antrian di depan pintu masuk kafe.
“Pertama kali ikut dalam acara seperti ini?” tanyanya setelah beberapa kali menoleh ke belakang tanpa mengatakan sesuatupun.
Seringai jelek di wajah saya langsung menghilang. “Ya,” saya mengangguk, mencoba untuk sopan. “Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Hanya rasanya saya belum pernah melihat Anda di acara seperti ini,” katanya. “Semoga sukses.” Dia tersenyum, memberikan cubitan kecil di perut saya. Pintu terbuka.
Yah Tuhan, saya tergagap-gagap, melihat bongkahan pantatnya yang gempal bergoyang menuju ballroom. “Jika dia….berpikir ini akan……”
“Mudah-mudahan saya tidak bertemu dia di dalam,” saya mencoba menenangkan diri.
Saya dorong pegangan pintu dari bahan kuningan, berharap dunia saya yang membosankan akan berubah menjadi gambaran yang penuh dengan erotika. Ketidaksabaran menciptakan gemuruh dentum perkusi di dada saya ketika memasuki ruangan yang lebih gelap dan menghirup aroma perempuan yang sangat tebal di sana.
Pandangan saya menebar ke seluruh ruangan. Sejumlah pria dan wanita berbaur, berumur antara 20-an sampai 40-an, memadati ruangan yang remang, musik yang berisik, dan penuh kilatan lampu (entah bagaimana cara mereka bisa menemukan jodohnya di sini?). Tiga orang pria separuh baya berdiri bertelekan sikunya di meja bar, gelas berisi Chivas Regal di dekat siku mereka, mengamati sekelompok wanita muda yang sedang bicara ngalor-ngidul. Di meja bar panjang, sekelompok yuppies memandang dengan picingan mata yang optimis ketika seorang wanita bertubuh seksi lewat di depan mereka. Lusinan wanita karir berpakaian ketat; memperlihatkan belahan dada mereka yang dalam. Beberapa wanita yang rajin berkeliling bahkan kelihatan seperti hendak berpose setengah telanjang di internet….mungkin mereka sengaja didatangkan untuk memanaskan suasana. (Saya yakin saya bisa melucuti seluruh pakaian mereka dalam tiga langkah.)
Saya sedang melihat para lajang.
Tiba-tiba saya dipenuhi oleh bayangan yang mengerikan. Saya tidak tahu lagi siapa yang memburu siapa di sini.

====================
“Satu-satunya perbedaan antara seks dan kematian adalah: kematian harus Anda hadapi sendirian dan tidak ada seorangpun yang akan main-main dengan anda”
– Woody Allen –
====================

“Hai,” sapa seorang wanita berbaju hitam dengan rambut dicat coklat dan tubuhnya menebarkan aroma citrus.
“Hai, cantik,” kata saya sambil menuangkan Cointreau untuknya.
Dia adalah seorang akuntan. Lita. Usia 33 tahun.
“Oke, tiga pertanyaan,” dia berusaha bicara dengan suara keras dan mendekatkan bibirnya ke telinga saya untuk menyaingi suara dentuman musik. “Apakah kamu tinggal sendiri di rumah?”
(Saya bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat dan harum di telinga saya. Lumayanlah.)
Saya bilang ya.
“Apakah kamu punya masalah dengan obat-obatan atau alkohol?”
Saya menggelengkan kepala. “Mungkin untuk lelaki lain. Kalau saya sih tidak.”
“Apakah kamu lelaki sejati?”
Sambil membenahi kerah jaket saya, jawab saya dengan jujur, “Saya kira saya bisa memeriksanya kalau kamu menginginkannya.”
Deejay dengan potongan rambut seperti Johnny Deep dalam film Edward The Schissorhand meraih mikrofon dan berteriak, “Rocking good times! Yeah! Who’s gonna hook up tonight?”
Suara sorak-sorai kegembiraan menyambut. Seorang pria menjelang usia 40-an mengangkat gelas vodkanya. Dia mengenakan jaket kulit yang tidak mampu menutupi perutnya yang buncit, kantong mata seperti bola golf. Jaket biru dan belasan helai rambut yang berminyak disisir ke belakang; dia kelihatan sedikit kewanita-wanitaan. Tidak sengaja pandangan matanya bersirobok dengan pandangan mata saya dan dia mengangkat gelasnya ke arah saya. Saya hanya bisa berdiri dengan canggung. Nafas tiba-tiba terasa berat.
Saya melihat sosok hantu yang lain.

====================
“Lelaki yang tidak pernah membuat seorang perempuan marah adalah sebuah kegagalan dalam hidup.”
– Christopher Morley (1890 – 1957) –
====================

“Saya tidak percaya saya bisa berada di sini malam ini. Apakah Anda juga merasa begitu?” suara lembut Lita kembali menyapa saya. Saya memutar tubuh pelan-pelan.
“Sadar ngga kalau semua pria yang ada di sini ternyata biasa-biasa saja?” sambungnya. “Ganteng atau… jelek. Pendek atau jangkung. Semuanya sama saja.”
Wow, saya pasti sedang berhadapan dengan seorang perempuan yang baru saja mengalami hubungan yang buruk dengan pria.
“Saya beritahu alasan: saya sudah pernah berhubungan dengan beberapa orang – yang pendek, gendut, tinggi, kurus, jelek, ataupun ganteng – dan tidak ada yang berbeda sama sekali. Mereka semua sangat tidak apresiatif dan sama egoisnya,” kata Lita menunjukkan kebosanannya.
“Lita…..mungkin saya bisa membantumu,” kata saya sambil melingkarkan tangan di pinggangnya dan menyeretnya keluar dari tempat itu.

====================
“Pria selalu ingin menjadi cinta pertama perempuan – perempuan selalu ingin menjadi cinta terakhir pria.”
– Oscar Wilde –
====================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: