Malam Jahanam (Men’s Health, Oktober 2003)


Perkara Anda melakukan seks aman, lebih aman, atau tidak aman, itu urusan Anda.

Sosok tubuh berbalut lingerie merah tergolek dalam posisi yang menantang di tempat tidur saya. Saya berusaha mengingat-ingat lagi runtutan malam yang baru saja lewat. Kejadian yang tidak terpola berkelebatan – perlahan-lahan membentuk sebuah ingatan yang penuh dengan bayangan gelap. Nightclub, gelas-gelas berisi cairan hijau, coklat, dan hitam, musik hip-hop, sorot lampu, dan banyak sekali perempuan cantik (ladies night!). Denting gelas, tawa renyah, dan tubuh-tubuh yang mulai merapat. Kemudian deretan mobil parkir di basement, udara pengap, dan ciuman dahsyat di pintu mobil. Diakhiri desah nafas yang memburu di atas seprai satin. Udara dingin. Keringat perlahan menguap.
Tubuh di atas tempat tidur itu menggeliat pelan, mengubah posisi ke arah yang justru membuat tubuhnya mengundang untuk dijamah. (Apakah perempuan selalu dalam postur terbaiknya jika di tempat tidur?) Paha kirinya menekuk. Semburat cahaya membentuk siluet bentuk pahanya yang sempurna di balik lingerie. Payudaranya tidak terlalu besar atau kecil. Saya taksir 34B. (Ukuran favorit saya).
Sial! Bahkan saya tidak ingat nama perempuan di atas tempat tidur itu. Mestinya dimulai dengan huruf D? Dini? Dori? Dina? Saya masih ingat putingnya berwarna merah jambu, tapi lupa bagaimana rasanya bercinta dengannya. Yang terasa sekarang ini cuma tubuh saya terasa remuk-redam dan tulang-tulang dilolosi. Saya menggelengkan kepala keras-keras berusaha menggebah rasa pusing yang berasal dari sisa-sisa alkohol di pembuluh darah saya.

===================
“Saat yang menyenangkan adalah saat ketika Anda mendapatkan lalat”.
– Kermit, si Kodok –
===================

Perempuan itu memicingkan matanya. Merentangkan tangan ke atas kepala dan menggeliat di tempat tidur. Buah dadanya semakin membusung.
“Hai,” katanya kemudian turun menuju ke kamar mandi.
“Selamat pagi,” gumam saya saat tubuh semampainya sepintas lewat dan tangannya mengelus pipi saya sambil lalu. Masih belum tahu apa yang harus saya lakukan terhadap perempuan ini. Menyuruhnya pulang begitu ia selesai dengan urusannya di kamar mandi saya atau sekali lagi menggumulinya supaya saya bisa ingat bagaimana rasanya bercinta dengan dia semalam?
Dia begitu muda. Saya jadi khawatir. Jangan-jangan saya baru saja bercinta dengan seorang perempuan di bawah umur. Ah, bahkan saya tidak ingat apakah saya benar-benar bercinta dengannya atau langsung terkapar karena minum terlalu banyak Jack Daniels semalam.

===================
“Satu gelas lagi dan saya akan berada di bawah tindihan tubuh tuan rumah.”
– Dorothy Parker –
===================

Tidak berapa lama di dalam kamar mandi, perempuan itu keluar dengan handuk melilit tubuhnya dari batas dada sampai pangkal paha. Entah dimana dia taruh lingerienya. (Sial! Saya baru ingat kalau lingerie itu adalah milik Noni yang sengaja dicadangkannya di lemari saya bila ia menginap di sini. Laundry. Satu lagi pekerjaan tambahan untuk sebuah malam yang tidak bisa saya ingat dengan jelas.) Ujung handuk tersebut seperti tersangkut begitu saja di antara belahan dadanya.
Ia kemudian duduk di depan meja rias sementara saya menghampiri dan mengecup bahunya – tepat di pangkal leher. Ia menggelinjang kecil. Dan saya membiarkannya untuk berpakaian. Saya tidak ingin menceburkan diri untuk kedua kalinya ke situasi yang belum saya pahami benar. Ini bukan kebiasaan saya.
Perempuan itu –ternyata bernama Desi- baru saja lewat 18 tahun. Itu saya tahu setelah kami bicara –kegiatan yang sangat sedikit kami lakukan sejak semalam- sambil menghabiskan omellete. Dia terlihat terlalu dewasa untuk usianya. Apakah permainan cinta selalu berhasil membuat seseorang menjadi lebih matang?
“Kapan kita bersenang-senang lagi?” tanyanya.
“Hmmm…..nantilah kita atur lagi.” Saya benar-benar seorang pemula di hadapan perempuan seperti Desi.
“Oke, hubungi saja aku bila kamu membutuhkan teman.”

===================
“Orang punya banyak alasan gila untuk bermain cinta – kenapa uang bukan salah satunya?”
– Ben Gazzara –
===================

“Itu bukan salahmu. Bukan juga salahku,” kata Roni, teman saya yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi. Kami pergi bersama-sama ke bar itu semalam. Dia-lah yang mendorong-dorong saya agar mendekati Desi agar dia leluasa mendekati Ami – temannya Desi. “Semua perempuan tampak sama di tempat-tempat seperti itu dan kita hampir-hampir tidak bisa membedakannya satu sama lain.”
Bukan saya punya antipati pada perempuan seperti Desi. Hanya merasa kurang nyaman dengan gagasan ‘sex untuk uang’. Saya lebih suka bercinta dalam keadaan sadar dan tidak tergesa-gesa memasukkan kembali penis ke dalam celana karena jatah jam saya sudah habis. Itu membuat saya merasa seperti sedang mengerjakan soal matematika yang sulit dan 5 menit lagi lonceng turun minum akan berdentang. (“Selesai tidak selesai, kumpulkan!” teriak guru matematika saya di SMA).
“Apa salahnya dengan hal itu?” tanya Roni. Menurut Roni, langsung ataupun tidak langsung ada biaya yang harus Anda keluarkan untuk setiap permainan cinta. “Satu-satunya perbedaan antara ‘seks demi uang’ dan ‘seks cuma-cuma’ adalah yang pertama biayanya lebih murah,” kata Roni lagi sambil menunjukkan hitung-hitungan yang dibuatnya. Ini adalah akuntansi kehidupan kencan a la Roni: x = “seks cuma-cuma” (makan malam, nonton, emosi, dst.), y = “seks demi uang” (Rp/short/long time), x > y.
Saya tidak terlalu peduli dengan rumus Roni soal kencan dan seks. Satu-satunya keinginan saya sekarang adalah mengingat-ingat kembali kesalahan apa saja yang sudah saya buat. (Noni tidak boleh pernah tahu soal hal ini). Bagaimanapun juga seks selalu mahal ketika Anda lakukan dalam keadaan mabuk.
Mungkin saya juga tidak akan pergi dengan Roni lagi. Saya menyukai seks; tetapi tidak dalam hubungan jual-beli. Dalam perjalanan pulang saya hampir membuang catatan nomor telpon Desi ke tempat sampah kalau saja sebuah pikiran tidak melintas tiba-tiba. Desi sudah mengenal banyak lelaki – sebagian besar adalah pecundang. Saya harus bicara dengan dia. Setidaknya saya bisa belajar untuk tidak jadi pecundang.

===================
“Anda tidak perlu mencintai mereka. Cukup hormati hak-hak mereka.”
– Edward Koch –
===================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: