Khianat (Men’s Health, November 2003)


Untuk satu alasan Anda tidak bisa memilikinya.

Rasanya malas sekali menggelinding di jalanan Jakarta yang sore itu tidak terlalu ramai. Mungkin saya tadi terlalu banyak melahap sushi di perhelatan pernikahan Lina dan Ferry – keduanya teman SMA saya, Untung ada Noni di sebelah saya yang memberikan sentuhan-sentuhan beraliran listrik untuk membuat saya tetap terjaga di belakang stir.
“Pengantin wanita tadi cantik sekali. Ia punya bola mata yang menawan,” kata Noni memecah keheningan, “pengantin prianya tidak sebanding.”
“Aku heran kenapa kamu bisa membiarkan wanita seperti itu luput begitu saja,” kata Noni lagi.
Sebuah pertanyaan jebakan! Tidak pernah ada yang pasti pada ucapan seorang perempuan selama menyangkut perempuan lain. Apalagi bila hal tersebut keluar dari bibir perempuan yang sudah berusaha keras untuk tampil paling cantik di sebuah pesta.
Dan ingatan saya melambung ke masa lalu.

=======================
“Jangan mengusir lalat dari dahi kawan Anda dengan kapak.”
– Pepatah Cina –
=======================

“Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia juga selalu menyimpan pikirannya sendirian. Aku jadi selalu salah dan tidak tahu apa yang ia inginkan,” keluh Lina malam itu ketika kami menikmati kopi di salah satu meja Dome – di sisi jendela yang menghadap ke arah air mancur Bundaran HI.
“Bukankah itu hal yang biasa?” saya balik bertanya. Bagaimanapun juga seorang pria membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Dan saya sudah bertemu banyak perempuan seperti Lina. Cantik, kosmopolit, independen, dan punya karir bagus. Tetapi mereka semua adalah prototipe sebangun dari gambaran Cinderella modern yang terombang-ambing di antara keinginan emansipatif dan tetap menuntut untuk mendapatkan posisi utama dalam kehidupan seorang pria.
“Apakah setiap lelaki selalu seperti itu?” tanya Lina. Lina merasa dirinya tidak menjadi perhatian utama dalam kehidupan Ferry. Menurutnya, Ferry membuang waktu terlalu banyak untuk mengejar mimpi-mimpi dan kesuksesannya sehingga sering lupa bahwa ada perempuan bernama Lina di dunianya. (Apapun kata seorang perempuan yang punya hubungan dekat dengan Anda – “Aku baik-baik saja – pergilah bermain dengan kawan-kawanmu” – itu adalah kebohongan besar. Tidak ada perempuan yang tidak ingin menjadi urusan nomor satu dalam kehidupan Anda.)
“Apa nantinya kamu tidak akan merasa terganggu apabila Ferry selalu ingin di samping kamu setiap saat – seperti seekor Chihuahua yang cerewet?”, saya kembalikan persoalannya kepada Lina.

=======================
“Ketika sedang mencium ‘sesuatu’ di rumah kawan, jangan makan terlalu kenyang sehingga Anda terjepit di pintu ketika hendak kabur.”
– Pooh’s Little Instruction Book, A. A. Milne –
=======================

Apapun persoalan di antara Lina dan Ferry, saya tidak bisa berbuat apa-apa selain menjadi pendengar yang baik. Itu sebabnya pada waktu-waktu berikutnya saya tidak bisa menghindar – saya jadi lebih sering lagi bertemu Lina. Akhirnya Lina lebih sering makan malam dan berbicara dengan saya daripada dengan Ferry. Saya akui bahwa saya mulai menikmati kebersamaan dengan Lina. Saya kira Lina juga begitu. Masalahnya, saya tidak ingin ini berkembang lebih jauh lagi seperti apa yang saya kira saya tangkap setiap kali Lina memandang saya. Ini sudah benar-benar berkembang menjadi situasi yang berbahaya.
Semua keluhan Lina tentang Ferry dan hubungan mereka berdua harus saya telan mentah-mentah sambil memandangi air mancur yang mulai gemerlap ditimpali cahaya. Saya kira pembicaraan dan pertemuan seperti ini harus segera kami hentikan. Sebelum saya tergoda untuk melakukan pelanggaran paling berat yang bisa dilakukan seorang pria: menikam teman dari belakang.
“Mengapa Ferry tidak bisa menjadi seperti kamu?” gumam Lina pada suatu malam yang ditemani lapaella dan sangria. Sole Mio mengalirkan suasana romantis bersamaan dengan aroma seksi sangria di mulut saya.
“Hmm…maksud kamu?” tanya saya dengan batin yang sepenuhnya terteror.
“Yah, pria selalu lebih seksi ketika ia bisa menjadi pendengar yang baik,” jawab Lina.

=======================
“Tiga kata apa yang tidak akan pernah Anda ingin dengar ketika sedang bercinta? Sayang, aku pulang.”
– Ken Hammond –
=======================

“Saat paling baik untuk meluluhkan hati seorang perempuan adalah pada saat ia rapuh, tidak mendapatkan perhatian, dan butuh didengarkan,” kata Bekti, kenalan saya di sebuah anak perusahaan otomotif. Dengarkan semua keluh kesahnya dan ia akan merasa nyaman dengan dirinya seperti seekor keong yang menemukan rumah baru dan merasa hangat tinggal di sana.
Seperti kata Lina beberapa malam lalu sebelum saya mengantarnya pulang (sebelum Ferry pulang dan membuat semuanya berantakan), pria yang bisa dengan sabar memahami kata-kata tidak kenal juntrungan yang keluar dari mulut seorang perempuan – segala macam masalah kecil dan paranoid – adalah pria luar biasa menarik. Anda menjadi lebih seksi karena membuat perempuan itu merasa dirinya seksi. Pikiran dan hati perempuan itu akan terbuka….dan kakinya juga akan terbuka untuk Anda tidak lama setelah itu.
“Hei, aku tidak pernah bilang bahwa aku mau merebutnya dari temanku sendiri,” sergah saya agak jengkel dengan tuduhan tidak langsung itu.
“Kalau begitu untuk apa kita bicarakan?” jawab Bekti dengan enteng. Lambat laun saya mengerti. Ini bukan persoalan yang bisa dibahas di antara sesama pria. Jangan pernah membicarakannya atau –bahkan- hanya memikirkannya sekalipun. Tidak ada gunanya menyimpan seorang pengkhianat di samping Anda.
Saya bersyukur akhirnya Ferry dan Lina bisa menyelesaikan persoalan mereka dan menikah. Sementara saya masih terjebak di belakang stir bersama dengan pertanyaan Noni.

=======================
“80% pria Jakarta selingkuh di Jakarta. Sisanya selingkuh di kota lain”.
– Widya, mantan pacar saya –
=======================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: