Perempuan Masa Lalu (Men’s Health Indonesia, edisi Desember/2003)


************
Ma n’atu sole cchiu’ bello, oi ne’ (Tetapi matahari lain masih lebih terang, sayang)
– O Sole Mio –
************

Dalam kehidupan seorang pria, selalu ada satu atau dua torehan yang panjang. Dendam masa lalu, cinta yang sudah lewat, dan lembar-lembar foto di tumpukan paling bawah pakaian dalam. Bagai tato permanen yang bisa dihilangkan hanya dengan merobek kulit. Dalam kehidupan saya, rasa gatal itu bernama Widya.

Perempuan ini berasal dari kehidupan muda saya yang bergayut dari pesta, ke buku, sampai cinta. Itu lima tahun yang lalu. Dan sebelumnya kami baik-baik saja kecuali kebosanan saya pada obrolannya tentang teori Darwin dan biologi molekular yang berbaur dengan gagasan inkarnasi.

“Dengan satu atau lain cara, kita berdua pasti pernah bertemu dan bercinta dalam sejarah,” katanya suatu kali.
“Bagaimana bisa begitu?” tanya saya.
“Cinta adalah reaksi kimia yang meledakkan impuls-impuls rangsangan pada denyut nadi dan detak jantung. Dan kita adalah kumpulan genetika yang bermutasi dalam hitungan tahun cahaya,” jawabnya.

Saya sedang memandang bentuk mutasi antara Charles Darwin dan Stephen Hawkin.

************
“Setiap pahlawan pada akhirnya membosankan.”
– Ralph Waldo Emerson –
************

Kemudian, kami bertengkar hebat. Ia tidak percaya bahwa gadis manis anggota marching band itu hanya teman biasa yang pernah saya jadikan obyek hobi fotografi saya.

“Pembohong,” dia menyumpahi saya 5 tahun lalu, dengan kebencian yang menyekat segala alasan di tenggorokan saya.

Kenyataannya, gadis manis itu adalah selingan yang menyenangkan saat saya bosan dengan kecerdasan Widya. Kenapa tidak boleh ada tempat untuk rasa bosan dan penawarnya? Tapi Widya memiliki kepercayaan yang berlebihan pada keabadian. Ia lalu menghilang. Sampai bertahun-tahun kemudian.

Semula saya kira akan mudah untuk melupakan semuanya. Ternyata belakangan entah kenapa saya sering berpikir tentang dia. Jika saya melihat seorang perempuan berambut gelap tertawa renyah di sebuah kafe, atau saya terbangun lebih awal di pagi hari – pada musim hujan -, seakan-akan dia ada di sana, seperti tidak pernah pergi sebelumnya. Hidup seperti disapu puting-beliung.

Suatu hari tiba-tiba dia menelpon saya. Kemudian hal itu seperti menjadi rutinitasnya setiap ada kesempatan untuk bertanya kabar. Dan setelah itu kami akan bercakap-cakap seperti bekas tetangga lama yang kebetulan bertemu di sebuah mal.

Sampai suatu saat, dalam percakapan yang ke sekian kalinya, secara mengejutkan tiba-tiba saya merasa lepas. Seperti ada angin segar ketika perlahan-lahan saya tidak merasakan apa-apa lagi dalam hati saya ketika kami bicara di telepon. “Perasaan itu akhirnya mati,” pikir saya, sambil menenggak bir dan membolak-balik katalog pistol mainan, sewaktu ia bicara tentang poros perdagangan dunia yang tidak adil dan hal-hal rumit lainnya. Klik.

************
“Seorang pembohong harus memiliki ingatan yang baik.”
– Quintilian, De Institutione Oratoria –
************

Saya baru bertemu muka dengannya lagi dalam pesta reuni kecil yang diadakan di rumah seorang kawan dari universitas kami.

“Haiii,” sapanya begitu ujung matanya menemukan bayangan saya di antara tubuh-tubuh berpakaian formal yang mulai membusung di bagian perut (kecuali saya). Saya lebih mendekat dan mencium kedua pipinya – menunggu reaksinya.

“Kamu kelihatan oke,” katanya seakan menekankan bahwa ia selalu mengenal saya secara mendalam.
“Kamu juga kelihatan luar biasa,” kata saya kepadanya, dalam arti yang sebenarnya, diam-diam mengutuki diri sendiri kenapa dulu dia tidak secantik sekarang ini. Tentu saya tidak bosan dengan obrolannya dan tidak merasa perlu mengisi waktu senggang dengan gadis marching band dulu itu.

Di ujung acara kami menuju sebuah lounge di Kemang. Widya bilang ingin makan, ngobrol, dan tertawa lagi tentang pokal lucu orang-orang yang kami kenal. Tentu saja, saya mengiyakannya selayaknya kawan baik.

Setelah dua gelas Robert Scally, appetizer, dan alunan Por Una Cabeza, perasaan saya menjadi lebih ringan.
“Aku belum bertemu dengan orang lain,” katanya kepada saya. Ia tidak pernah jatuh cinta lagi setelah dengan saya.
“Bagaimana dengan kamu?” tanyanya.
“Tidak juga,” jawab saya. Entah kenapa saya terdorong untuk menjawab seperti itu. Mengabaikan beberapa perempuan yang sempat lewat tahun-tahun belakangan.

************
“Kompromi adalah seni membagi kue dengan cara sedemikian rupa sehingga setiap orang percaya bahwa mereka mendapatkan bagian terbesar.”
– Anonim –
************

Di depan pintu apartemennya, pukul satu dini hari, saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal. Kata-kata yang harusnya sudah saya –kami- ucapkan bertahun-tahun lalu.
“Oke, selamat tinggal,” kata saya.
“Aku berharap kita bisa bertemu lagi,” katanya dengan nada yang riang.
“Yah, itu cuma masalah pengaturan waktu, kan?” jawab saya berusaha menyampaikannya dalam nada yang sama. Saya masukan tangan ke dalam saku belakang celana panjang saya agar tidak kelihatan terlalu gugup.

Dia bergerak maju untuk mencium pipi saya, menarik leher saya turun ke bawah, tapi bibirnya terlalu dekat ke bibir saya dan berhenti satu cm dari sana. Isyaratnya cukup bagi saya untuk tahu bahwa ia tidak sedang mencoba mencium seorang anggota keluarganya. Atau seorang teman yang tidak terlalu dia kenal. Atau seorang lelaki yang ia cintai.

Sepanjang perjalanan pulang saya berpikir tentang ciuman tadi. Dan kemudian saya tanyakan hal itu kepada Vita, public relation manager sebuah lounge yang saya kenal. “Ketika itu terjadi padaku dan pacar lamaku,” kata Vita, “kami tahu tidak ada gunanya memaksakan apa yang tidak bisa berjalan di masa lalu. Sekali sudah cukup.”

Yah, saya kira Vita benar. Saya dan Widya juga pernah berusaha mempertahankan apa yang kami miliki. Dan gagal. Semoga saja Widya tahu itu.

************
“Pengalaman – kata yang dipakai pria untuk menyebut kekeliruan mereka.”
– Noni –
************

Advertisements

  1. cool keren bgt
    kayak membaca jalan hidup gw sendiri hehehe 🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: