Jalan Keluar (Men’s Health, Januari 2004)


Tidak penting pintu mana yang Anda gunakan – selama membawa Anda keluar..

Sabtu pagi, minggu kedua, bulan kedua. Linda menjulurkan handuk lewat tirai shower. “Aku sudah siapkan sikat gigi baru untukmu di wastafel,” katanya. Saya merapatkan kembali tirai yang sempat tersingkap. Masih sempat melihat pantatnya, berbalut piyama, menghilang di balik pintu.
Saya harus bergegas pergi dari sini. Saya membersihkan shampo dari rambut saya, mengeringkannya, dan berpakaian. Linda seharusnya sudah berakhir. Dan sekarang adalah minggu kedua di bulan kedua. Sudah terlalu lama. Saya benci ketika permainan berkembang seperti saat ini.
Saya bersiap-siap untuk pergi ketika Linda menyorongkan sebuah mug – kepulan uap panas melayang tipis di atasnya. Kami kemudian duduk di sofa. Ia bersandar pada tangan kursi, tubuhnya hampir-hampir berbaring, mug di tangan, dan kakinya menyilang di atas lutut saya. Perlahan kakinya yang jenjang bergerak ke atas dan mengelus-elus sesuatu yang sudah saya simpan rapi di bawah ritsleting.
“Aku harus pergi sekarang,” kata saya tersenyum seperti sedang menahan kentut di ruang rapat. “Ada deadline yang harus diselesaikan hari ini.”
“Katanya kamu tidak pernah bekerja di akhir pekan?” ujar Linda.
Suara saya pasti terdengar sumbang ketika berkata, “Nanti malam aku telepon lagi, yah?!”

==================
“Pintu yang kita buka dan tutup setiap hari menentukan kehidupan yang akan kita jalani.”
– Flora Whittemore –
==================

Linda adalah seorang perempuan berusia 28 tahun, bekerja di sebuah perusahaan konstruksi yang sedang guncang. Di malam perkenalan kami di Two Face saya menelusuri motif garis yang rumit di bajunya, mencari simpul atau ujung dimana garis motif tersebut berakhir. Dan saya tersesat……di sebuah tonjolan samar di tengah dadanya yang menggunung. Sackdress sutra-nya yang luruh tidak mampu menyembunyikan kekuatan hasrat di balik gelembung itu. Poni yang lucu, lengkungan tubuh yang sempurna, hidung dan garis wajah yang menarik. Manis, ramah, seksi, tetapi bukan tipe yang ingin saya temui setiap hari.
Ini adalah fakta yang terlambat saya antisipasi. Saya tahu begitu kami selesai bercinta di akhir kencan kami ke lima – setelah empat kencan tanpa seks. Semuanya, -dentuman yang saya rasakan setiap kali bersentuhan dengannya-, seperti hilang begitu saja selesai kami menuntaskan keliaran di tempat tidur. Ini hanya sekedar seks! Saya merasa tertipu oleh ketertarikan yang sebelumnya punya daya betot begitu besar terhadap kesadaran saya.
Dan seks-pun akhirnya membosankan. Terutama ketika Linda mulai membuntuti saya seperti bayangan.
Tetapi saya tidak bisa mencampakkan Linda begitu saja saat ini. Tidak sekarang. Itu sama saja dengan memberikan cap kepada diri saya sendiri sebagai lelaki gila seks yang segera kabur begitu ejakulasi. Dan, sungguh, saya bukan pria seperti itu. Bahkan perilaku seperti itu sesungguhnya tidak saya sukai. (Saya seperti sedang berbicara di depan mikrofon yang mengeluarkan suara dengingan menyakitkan telinga untuk setiap kata yang saya ucapkan.)
Keadaan sulit ini mendorong saya untuk mengambil taktik licik guna melepaskan diri dari Linda. Saya harus menghentikan interaksi saya dengannya sampai Linda melupakan saya dan kami mencapai hubungan tanpa kontak yang lebih dewasa – tidak ada yang perlu disalahkan dan dicaci-maki. Curang memang. Tetapi perempuan juga berbuat curang. Saya pernah mengalaminya sendiri. Jadi kenapa saya tidak lakukan kalau Linda juga bisa saja melakukan hal serupa terhadap saya?

==================
“Seorang perempuan tahu ia telah mengenakan pakaian yang tepat, ketika lelaki teman kencannya melucuti pakaian yang dikenakannya tersebut.”
– Robert Paul –
==================

Jumat malam, minggu ketiga, bulan kedua. Saya dan Linda duduk di sofa di apartemennya. Ia memasang CD. Women is losers. (Nyanyian serak Janis Joplin seperti menyindir rencana licik saya.) Jika menurut kebiasaan kami, -setidaknya kebiasaan yang terbentuk seminggu kemarin-, begitu selesai satu lagu kami sudah telanjang.
“Kamu pasti sedang marah padaku,” kata saya sambil mengetuk-ngetuk jari saya di atas paha. “Setelah menghilang selama minggu ini tanpa berita. Aku pasti menjadi orang yang menyebalkan bagi kamu.” Menunjukkan perasaan menyesal, ingin tahu keadaannya, dan perhatian-perhatian kecil yang palsu. Saya menjelaskan bahwa saya mendapatkan tugas mendadak ke Malaysia. Dan langkah terakhir, menolak seks untuk malam ini dengan alasan terlalu letih oleh tumpukan deadline menjelang Tahun Baru – ini adalah titik penting dalam taktik memutuskan hubungan yang sedang saya terapkan.
Linda hanya menggeram. Ia pasti punya sedikit kecurigaan bahwa saya main gila dengan perempuan lain atau sedikit sakit jiwa. Apapun kecurigaannya, saya ingin pulang dengan bebas malam ini. Kecuali bila ia tetap menelpon saya keesokan harinya dan memutuskan untuk tidak membiarkan saya lolos begitu saja tanpa memberikan penderitaan di dalam sisa hidup saya.

==================
“Pria sejati selalu menginginkan dua hal: bahaya dan petualangan. Karena alasan tersebut ia menginginkan perempuan, sebagai permainan yang paling berbahaya.”
– Friedrich Nietzsche –
==================

Senin, minggu keempat, bulan kedua. “Kue untuk Anda,” kata resepsionis kantor kami, menyodorkan sebuah kotak putih yang sudah dibuka, ketika saya memasuki koridor kantor Senin pagi.
“Have a good day,” begitu tertulis dalam kartu yang disisipkan Linda. Brownies. Buatan sendiri. Dan saya, dengan tanpa rasa bersalah, makan lima potong. Saya belum juga menelpon Linda. Sampai akhirnya Linda-lah yang menelpon saya.
“Ada apa denganmu kemarin malam?” suaranya mencicit di telepon. “Sepertinya kamu tidak tertarik lagi padaku.”
“Apa?” seru saya berusaha menyembunyikan ketidakmantapan. “Itu tidak benar. Semuanya baik-baik saja. Apa ada perbuatanku yang salah?”
Ia tidak memberikan jawaban kecuali minta saya menelpon ke apartemennya nanti malam. Saya menelpon ke kantornya pukul 13.45, meninggalkan pesan dan segera menutupnya kembali begitu seseorang di ujung sana mengatakan Linda sedang keluar kantor.
Selasa pagi ada email di mailbox saya yang menyatakan saya telah meninggalkan pesan ke alamat yang salah. Komunikasi di antara kami benar-benar salah alamat.
Bajingan licik, kutuk saya dalam hati, dengan rasa bersalah tersangkut di tenggorokan. Taktik ini memang membuat tangan saya tetap bersih, terhindar dari kemungkinan mendapatkan hinaan yang diludahkan ke muka saya tanpa dapat saya tangkis. Dan ini adalah cara licik yang mengingatkan saya, mungkin seperti ayah saya, untuk memperingatkan putri saya kelak tentang pria yang harus ia hindari. Setiap bajingan memiliki kehormatan mereka sendiri.
Begitu saya kira semuanya sudah selesai, Linda meninggalkan pesannya yang terakhir di handphone saya. “Kamu benar-benar menjengkelkan. Aku sungguh-sungguh berharap kamu menelponku.” Dan saya tetap tidak menelponnya.

==================
“Pria itu makhluk sederhana. Mereka tetap dapat hidup sepanjang akhir pekan hanya dengan tiga hal: bir, celana boxer, dan remote control.”
– Diana Jordan –
==================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: