Pemangsa (Men’s Health, Februari 2004)


Sebuah jebakan pasti berupa godaan yang menggiurkan.

Ada sebagian lelaki yang bernasib demikian buruk. Seperti teman saya, Donny, seorang fotografer. Ia pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan. “Jenis yang pasti tidak akan pernah bisa kamu abaikan,” kata Donny mencoba menggambarkan seorang perempuan cantik dengan tubuh sempurna.

Sebagaimana yang biasa terjadi, hubungan mereka pun berakhir karena satu alasan umum yang enggan dijelaskan lebih lanjut oleh Donny. Apa yang kemudian meluluh-lantakkan kelelakian Donny justru terjadi beberapa bulan setelah hubungan mereka berakhir. Dari teman yang baru dikenalnya kemudian, ia mendengar cerita bahwa, ketika hubungannya dengan perempuan itu sedang hangat-hangatnya, ia bukanlah satu-satunya lelaki di dalam jadwal kencan perempuan itu.
“Ketika kami sedang bermesraan di teras rumahnya, di bawah keremangan lampu taman, ternyata aku hanya salah satu catatan kaki di agenda percintaannya,” kata Donny dengan kehancuran harga diri yang mati-matian berusaha disembunyikannya. “Pada saat yang sama ia punya hubungan dengan empat orang pria yang lain.”
“Bagaimana kamu bisa tidak tahu soal itu sampai sekian lama?” tanya saya heran.
“Tetapi bagaimana dia bisa mengatur semuanya?” tanya saya.
“Dia selalu siap dengan jawaban yang masuk akal untuk setiap pertanyaan, tenang, tidak tergagap-gagap, dan menggunakan satu panggilan mesra yang sama untuk semua kekasihnya.”
Gila! (Ungkapan kekaguman saya kepada perempuan itu).
Betapa malangnya! (Untuk Donny).

======================
“Perempuan itu seperti teh celup. Anda tidak akan pernah tahu berapa kuat dia sampai ia diseduh dengan air panas.” – Nancy Reagan –
======================

Saya tertarik untuk mengenal lebih jauh perempuan yang diceritakan Donny. Tetapi sebagaimana lelaki lain, Donny lebih suka menyimpan nama dan nomor telpon perempuan itu untuk dirinya sendiri – meskipun saya tahu pasti ia tidak akan pernah lagi bisa mengambil manfaat dari itu.
Untunglah masih ada Sherly, seorang pialang saham yang saya kenal di gym tempat saya berlatih, yang bisa membantu saya mengenal perempuan seperti itu – dirinya sendiri. Kulitnya agak gelap – jenis kulit yang sebenarnya bukan favorit saya. Walau saya tidak bisa berbohong bahwa tubuhnya memancarkan aura eksotis yang sangat menggoda. Ia begitu lugas – seperti tidak ada yang disembunyikan. (Meski saya yakin setiap orang punya rahasia kecil yang hanya ingin disimpannya sendiri). Dan tatapannya begitu memabukkan – membuat saya seperti satu-satunya lelaki yang ada di dunia setiap kali berbicara dengannya.

======================
“Baiklah. Sex itu bolehlah. Seks itu bagus. Seks itu luar biasa! Oke, oke, kami butuh pria untuk seks… Tapi apakah kami membutuhkan sebanyak itu?”
– The Bumpy Road to Love, Martin Sage dan Sybil Adelman –
======================

Ketika saya bercerita tentang perempuan yang diceritakan Donny kepada saya. Ia menanggapinya dengan kejutan yang tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya tentang dia.
“Dua. Semula empat,” katanya enteng seakan poliandri-lah –bukan poligami- yang paling biasa di dunia. Saya tiba-tiba merasa berada di bawah tatapan tajam pemangsa saya.
“Apakah tidak cukup satu lelaki untukmu?” tanya saya.
“Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan,” jawabnya. Klise. Pacarnya yang satu bertubuh kurus namun padat dan berotot. Yang satu lagi gemuk tetapi sangat kaya. Saya tidak tahu bagaimana dua yang lain.
“Tidak ada kaitannya sama sekali dengan uang walau aku tentu saja tidak menolak Dior sebagai tanda cinta,” katanya lagi seakan tahu apa yang saya pikirkan.
“Ini seperti sport,” katanya lagi. Rasanya saya pernah mendengar jawaban ini di suatu tempat.

======================
“Perempuan adalah teka-teki; karena itu Anda juga harus menjadi teka-teki untuknya.” – Berahi, Jean Baudrillard –
======================

Saya kira itu adalah alasan yang sangat “lelaki”. Apa yang salah dengan perempuan-perempuan jaman ini? Apakah alam telah menyuntikkan terlalu banyak testosteron ke dalam tubuh mereka?
“Mungkin,” kata Nonik, perempuan yang menjadi pasangan tetap saya hampir setahun terakhir, “kamu tahu kami sekarang memiliki kehendak berkuasa yang sama besarnya dengan pria. Bukankah dengan memiliki beberapa pria sekaligus akan memberikan juga banyak pilihan kepada kami – sebuah kekuasaan yang lebih besar.”
“Kalau begitu kamu juga membutuhkan kekuasaan yang lebih besar dariku?” tanya saya lagi.
“Tidak terlalu besar. Selama kamu tidak membuatku merasa terancam,” jawabnya.
Apapun alasannya saya tetap yakin bahwa perempuan seperti mantan pacar Donny ataupun Sherly suatu waktu nanti tetap akan berakhir di kehidupan satu lelaki – hanya satu. Pada saat sport sudah melelahkan, monogami adalah peristirahatan.
Bagaimanapun juga, bila saya berada dalam posisi Donny, saya tidak ingin berlama-lama menunggu saat itu berlaku. Dan saya lebih baik segera menyingkir – memilih jadi pemburu daripada yang diburu.

======================
“Ketika lampu dimatikan, semua perempuan sama saja.” – Plutarch, Morals –
======================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: