Cinta Perempuan Kaya (Men’s Health, Maret 2004)


=====================================
“Berapa banyak uang, kesuksesan, dan kekuasaan yang harus diraih seorang perempuan sebelum Anda tega menonjok mukanya?” – O.J. O’Rourke –
=====================================

Saya mengenal Noni, dengan siapa saya memiliki hubungan serius belakangan ini, di sebuah acara makan malam di restoran Italia. Rambutnya dibiarkan tergerai agak berantakan (membuatnya kelihatan seperti perempuan yang sangat terbiasa dengan tempat tidur), mengenakan blazer ketat berwarna hitam. Di usia 33 tahun, ia kelihatan matang dengan bentuk rahang yang terkesan tajam. Saya kira dia punya sedikit (entah berapa sedikit) darah Belanda. Tatapan matanya memberi kesan judes. Barangkali ia bukan pesolek yang terlalu pandai mematut-matut rias wajah, gaya rambut, dan model baju. Dan dalam beberapa hal, ia seperti perempuan jalang. Tetapi di luar itu semua, segala sesuatunya benar-benar sempurna: cantik, kaya, seksi, lulusan Utrecht. Mungkin tidak terlalu sempurna – tapi siapapun pasti sulit mencari kekurangannya ketika ia telanjang.
“Mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan pasar bebas”, katanya bercerita sedikit tentang pekerjaannya sebagai program director di sebuah lembaga donor asing. Lalu berceloteh tentang banyak hal – dengan selipan bahasa Belanda yang tidak saya pahami di antara kalimat-kalimatnya. (Tapi siapa sih yang mempersoalkan isi obrolan seorang perempuan selama ia bicara dengan cara yang seksi?)
Dari situ perkenalan kami berlanjut ke minum kopi sepulang kerja di keesokan harinya sampai kemacetan di jalan-jalan Jakarta berkurang. Dan ini menjadi kebiasaan sampai akhirnya acara minum kopi di suatu sore yang bebas deadline berlanjut ke makan malam dan beberapa gelas Chardonnay.

=====================================
“Seorang perempuan membuat saya mabuk dan saya bahkan tidak memiliki kesopanan sama sekali untuk mengatakan terimakasih.”
– W.C. Fields –
=====================================

Sampai pada satu malam yang riuh, -seminggu setelah saya meninggalkannya telanjang berselimut kain satin-, saya semakin pasti bahwa saya tengah membangun ikatan dengan seorang perempuan kosmopolitan – tipikal perempuan yang dewasa bersama pemujaan terhadap Victoria Beckam. Begitu sebuah pikiran yang melintas di kepala saya sambil mengamati kuku-kuku jari lentiknya (bercat merah menyala) merapikan rambut (berarsir warna emas yang samar) dengan gaya yang terkesan sembarangan.
Di tengah kencan kami, pendengaran saya sesaat terasa kosong. Hanya bibirnya terus bergerak mengeluarkan rentetan kata-kata bak mitraliur. Dia, -di tengah-tengah cerita tentang hiruk-pikuk kehidupannya-, baru saja mengatakan bahwa penghasilannya sekitar tiga kali lipat daripada saya. Dia pasti bohong, pikir saya seraya diam-diam mulai berhitung – rumah di sebuah kompleks elit, mobil keluaran terbaru, caranya menghamburkan uang di tempat-tempat mahal……

=====================================
“Jika Anda masih dapat menghitung uang Anda berarti Anda bukan jutawan.”
– J. Paul Getty –
=====================================

Awalnya semua berjalan baik. Yah, ini memang hubungan yang belum tentu berakhir di suatu tempat dimana sumpah abadi diikrarkan. Tetapi, lebih atau kurangnya, Noni adalah teman kencan yang oke. Mampu bicara tentang banyak hal: buku, film, atau masalah apapun – kecuali sepakbola. Dan seks juga tidak mengecewakan.
Yang kemudian mengganggu adalah kebiasaan Noni menghujani saya dengan berbagai perhatian kecil berupa hadiah-hadiah – ia selalu bisa mencari suatu alasan untuk dirayakan. Sungguh saya menyukai semua barang yang ia hadiahkan kepada saya. Yang mengganggu adalah karena ini kemudian menjadi kebiasaan. Noni seperti selalu tahu barang-barang apa saja yang saya impikan dan rencanakan untuk membeli. (Seperti ada yang memata-matai kebiasaan saya dengan uang). Dan ia merampok impian itu sebelum tabungan saya cukup untuk merealisasikannya sendiri.
Semakin parah ketika kebiasaan ini terus berkembang dan melahirkan kebiasaan baru. Kartu kreditnya selalu lebih mengilap dibanding kartu saya di atas meja restoran atau kafe. Mungkin tidak lama lagi di atas meja resepsionis hotel.
Situasi dimana penghasilan Noni lebih besar daripada saya sampai pada titik dimana aturan main dalam kencan yang normal dijungkirbalikkan. Saya juga merasa tidak diijinkan melakukan sesuatu untuknya dan untuk saya sendiri. Saya seperti dipaksa mengenakan T-shirt konyol bertuliskan “PENIS SAYA KECIL.” Noni telah membuat saya impoten.

=====================================
“Tidak ada yang lebih sukar ditolerir daripada perempuan kaya.”
– Juvenal –
=====================================

Bercinta dengan perempuan yang lebih kaya mungkin adalah impian banyak pria. Perempuan-perempuan seperti ini lebih mandiri, tidak merepotkan, bisa membayar sendiri acara belanjanya yang tidak penting, dan punya asuransi kesehatan sendiri. Jadi bukan sebuah kerepotan. Maka saya juga seharusnya senang dengan keberhasilan Noni dalam menangani kehidupan keuangannya. Lagipula, saya tidak selalu kalah dari Noni. Saya hanya kalah di bidang hukum, geografi, atau soal wajah dan nama-nama pemain sinetron. Jadi buat apa merasa terintimidasi oleh deretan angka dalam rekening Noni?
Bagaimanapun cara saya menghibur diri, hati kecil saya tetap tidak bisa menerimanya. Tidak cukup alasan untuk bisa menenangkan harga diri saya yang gelisah – terus-menerus dihantui oleh superioritas yang dicapai Noni atas saya. Apakah Noni nantinya tidak menganggap saya seperti sepotong tulang yang bisa dikunyah di waktu senggang dan kemudian diludahkan?
Hal-hal yang paling kecil sekalipun kemudian jadi sangat mengganggu setiap kali saya bersama dia. Kecepatan Noni mengeluarkan dompetnya (di akhir setiap kencan kami) selalu memprovokasi saya untuk mencari-cari alasan kecil untuk bertengkar dan mendebatnya mati-matian – berupaya meruntuhkan superioritasnya ke derajad yang paling bawah. Rasa tidak aman bahkan mendorong saya untuk bertindak lebih jauh lagi – sampai batas dimana saya jadi orang yang sangat menyebalkan. Harga diri saya menuntut pengakuan yang pantas.

=====================================
“Tidak ada yang lebih enak daripada makan siang gratis.”
– The Moon is a Harsh Mistress, Robert A. Heinlein –
=====================================

Semua kekacauan di dalam hubungan kami mendadak berbalik 180 derajad ketika Noni menelepon saya dan berbicara tentang tambalan giginya yang lepas, dokter gigi yang tidak kompeten, tikus-tikus yang berkeliaran di atas plafon kamar dan membuatnya tidak bisa tidur, kecintaannya pada makluk mitos Unicorn, sampai rencananya untuk mencari pekerjaan baru karena kontrak kerjanya akan habis dalam dua bulan lagi. Inilah saat dimana seorang lelaki dibutuhkan.
“Adakah yang bisa aku lakukan?”, saya bertanya dengan semacam euforia seorang pria yang mendapatkan kembali keperkasaannya setelah lama mengalami masalah ejakulasi dini. Saya rasanya ingin mengelus punggungnya dan mengatakan kepada Noni bahwa saya akan memastikan semua baik-baik saja.
Begitu pembicaraan di telepon tadi berakhir, buku bersampul “Don’t Sweat The Small Stuff….blablabla” pemberian Noni (inilah pertama kali Noni menghadiahkan saya dengan sesuatu yang tidak ada –dan tidak akan pernah ada- dalam rencana belanja saya) saya lempar ke sudut kamar. Tepat masuk ke keranjang sampah. Rasanya saya tidak perlu membacanya lebih lanjut. Saya sudah tahu isinya hanya dengan membaca judulnya.

=====================================
“Bagaimana bisa Anda menjadi seorang pria kalau tidak pernah sukses?”
– Bertolt Brecht –
=====================================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: