Badai Dalam Sepotong Cinta (Men’s Health, April 2004


Cinta yang berlebihan tidak menguntungkan Anda.

Apa yang Anda ketahui tentang perempuan? Itu adalah pertanyaan yang muncul ketika saya melihat Medusa – perempuan berambut ular yang membuat setiap orang yang menatapnya menjadi batu – di salah satu halaman buku mitologi Yunani. Dan pada saat yang bersamaan, bayangan Melani berkelebat.
Saya pertama mengenalnya di sebuah gedung yang sering digunakan oleh sebuah kine club untuk memutar film-film klasik. Tubuhnya kurus seperti model yang biasa melenggang di atas catwalk. Matanya hitam dan dalam. Kulitnya putih dan wajah sedikit pucat dengan rona merah muda yang kontras di pipi. Mencintai komposisi Come, Gentle Death-nya J. S. Bach.
“Bagaimana Oliver Stone menurutmu?” tanyanya saat kami keluar dari gedung itu pada akhir pekan ke lima dalam sejarah perkenalan kami.
“Aku lebih suka Tarantino,” jawab saya.
“Oh, jadi kamu tipe pria yang menyukai hal-hal yang radikal dan mendobrak, yah?”
Yah, ampun! Ini cara baru untuk menebak-nebak karakter seseorang. Apakah Anda adalah seorang psikopat, pecundang, atau pemula tergantung pada jenis film yang Anda tonton. Seperti apa perempuan yang menyukai film sejenis Natural Born Killers?
“Tapi untunglah kamu bukan jenis yang membuat aku kehilangan selera. Ada pria-pria tertentu yang seperti itu,” katanya lagi sambil tertawa kecil sembari membenahi anak rambutnya yang jatuh ke belakang telinga.
“Pria seperti apa yang membuat kamu kehilangan selera begitu melihatnya?” tanya saya penuh ketertarikan.
“Pria yang hobi memakai sepatu sandal,” katanya.
“Kenapa? Apa yang salah dengan sepatu sandal?” tanya saya sedikit kecewa karena mengharapkan jawaban yang lebih masuk akal dari itu.
“Tidak ada yang salah, hanya membuat saya hilang selera saja,” katanya lagi.
Oke, saya tetap nekad mengencaninya meskipun dalam banyak hal saya tidak bisa memahami Melani dan kepribadiannya yang terpecah-pecah antara kegilaan intelektual dan kemanjaan seorang Cinderella. Itu juga mungkin yang membuat saya merasa Melani berbeda daripada sekian banyak perempuan yang saya pernah kenal sebelumnya.

================================
“Cinta adalah khayalan bahwa seorang perempuan berbeda dari perempuan lain.”
– H.L. Mencken –
================================

Belakangan ini saya menjadi orang yang paling tidak setuju bila ada yang bilang bahwa inovasi telpon seluler adalah terobosan revolusioner dalam metode komunikasi antar manusia.
Dering telpon sudah cukup untuk membuat saya menjadi seorang paranoid. Melani terus-menerus menelpon saya selama seminggu ini – menyodorkan berbagai rencana atau mengucapkan selamat atas sesuatu yang tidak penting.
Senin: “Nomat, yuk?!”
Selasa: “Makan siang, yuk?!”
Rabu: “Bisa temani aku ke Glodok?”
Kamis: “Hei, di Pasar Seni – Ancol ada musik Jazz nanti malam!”
Jumat: “Bagaimana kalau kita pergi ke Kemang – ada pemutaran film Indie malam ini?”
Sabtu: “Met bobo, yah.”
Minggu: “Ini akhir pekan yang paling menyenangkan buatku.”
Dan selama seminggu itu, saya kehilangan waktu dan -terutama- mood untuk menyelesaikan artikel ini.

================================
“Jika ini kopi, tolong bawakan saya teh; tetapi kalau ini teh, tolong bawakan saya kopi.”
– Abraham Lincoln –
================================

Semula saya kira saya punya masalah dengan waktu atau pengaturannya. Tetapi kemudian saya sadar berapapun waktu yang saya miliki tetap saja tidak akan pernah cukup sepanjang itu terkait dengan Melani. Terlalu banyak tuntutan – terlalu sedikit waktu.
“Menurut survey, perempuan usia menjelang 30 sedang menggebu dalam urusan seks dan menuntut perhatian lebih besar,” kata Melani ketika saya dengan sehalus mungkin memintanya agar tidak terlalu sering mengganggu saya dengan segala macam rencana dan telpon yang tidak penting.
“Apa sih susahnya bicara sebentar di telpon denganku di sela-sela kesibukanmu,” rajuknya sengit. Saya tidak tahu harus sehalus apa lagi yang bisa saya lakukan agar tidak muncul respon yang emosional dari Melani.
Pre menstruasi syndrome, pikir saya. Saya kira itu hanya fiksi.
Kenyataannya, Melani adalah orang yang selalu lupa waktu begitu memegang gagang telpon. Ia selalu mengembangkan kembali pembicaraan begitu saya bersiap menyelesaikannya. Akhirnya percakapan kembali menjadi berkepanjangan. Sungguh-sungguh menyebalkan ketika hal tersebut harus berlangsung cukup lama sampai Anda merasa telinga Anda ditempelkan ke microwave atau penis Anda pegal menahan kencing.
Hanya ada dua cara untuk menghentikan Melani bicara di telpon: larut dalam seluruh obrolannya sambil menahan kencing dan bosan atau membuatnya marah dan membanting gagang telpon.

================================
“Itu memang godaan yang sangat mengundang…tetapi percayalah, itu hanya umpan yang akan memenjarakan Anda.”
– Andre William –
================================

Apakah Melani adalah perempuan seperti Medusa? Atau Hera – mahadewi pencemburu yang selalu membuat Zeus terbirit-birit menyembunyikan perselingkuhannya? Cleopatra – perempuan yang membuat pria-pria penakluk dunia kehilangan akal? Atau Lady Machbet? Ophelia? Nyai Dasima?
Ada berapa banyak tipe wanita? Mana yang akan membawa bencana dalam hidup Anda? Saya pernah mencari jawaban atas pertanyaan itu kepada banyak pria. Ada banyak jawaban berbeda. Semuanya terdengar begitu menyakinkan. Sama menyakinkannya dengan sekian banyak gambaran tentang perempuan di buku-buku psikologi populer.
Kenyataannya saya tidak juga berhasil menemukan cara terbaik menyelesaikan masalah saya.

================================
“Jika seks adalah fenomena alami, kenapa ada begitu banyak buku tentang cara bercinta?”
– Bette Midler –
================================

Berapa banyak yang harus Anda lakukan untuk seorang perempuan? Jangan pernah melupakan hari ulangtahunnya, hadiah intim – memenuhi kriteria sensualitas sekaligus perhatian yang tulus (supaya tidak terkesan seperti sedang melakukan transaksi seks), menelponnya tiga kali sehari untuk menanyakan hal-hal kecil (Hai, lagi ngapain? Sudah makan?), mengosongkan agenda Anda untuk akhir pekan bersamanya (Lupakan hobi off-road atau diving Anda), menjadi keranjang sampah dari segala macam persoalannya emosionalnya (“Itu adalah bagian dari masalah yang harus kamu tangani,” kata Melani). Dan hal sepele apapun bisa membuat Anda harus menerima vonis bahwa Anda kurang memberikan perhatian – tanpa kesempatan membela diri. Dengan perempuan seperti Melani, detil-detil dunia Anda yang lain adalah pendatang liar yang setiap saat harus siap digusur. Anda harus mengebiri seluruh diri Anda. Menjadikan citra dirinya sebagai peraduan utama bagi kelelakian Anda – memasung kebebasan Anda di atas tempat tidurnya. Dan Anda tidak diperkenankan turun – membatu di situ.
Apakah cinta memang selalu begitu?
Apapun itu, belakangan ini bayangan Melani yang sedang mengangkangi meja kerja saya menjadi satu-satunya imajinasi erotis yang dominan dalam diri saya. Kelihatannya saya harus menata-ulang ruang kerja.

================================
“Pria harus melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang pria.”
– Seseorang –
================================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: