Kencan yang Membosankan (Men’s Health, Mei 2004)


Terkadang, kebohongan adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan Anda.

Saya berjalan menyusuri labirin mal terbaru di Jakarta bersama Rani – perempuan yang saya kenal lewat seorang kawan yang mengenalnya melalui jalur percakapan di internet. Sore tadi saya memutuskan untuk menghabiskan waktu dengannya ketimbang memenuhi undangan sebuah klub yang saya tahu berisi orang-orang yang membosankan. Sampai belakangan saya menyesal karena jatuh ke sebuah kencan yang ternyata lebih membosankan dari itu.
Rani berusia 31 tahun. Staf senior di sebuah perusahaan sekuritas ternama. 168/54/32A. Baru saja putus hubungan dengan pacarnya yang ke-4. Mengaku sedang kesepian dan depresi karena hubungan yang tidak pernah bisa berjalan mulus dalam waktu lama.
“Dalam keadaan seperti ini biasanya aku pergi ke mal – shopping therapy,” katanya ketika kami berjalan pelan sambil sekali-sekali berhenti di depan etalase sebuah toko.
“Pernahkah kamu masuk ke tengah keramaian mal, melihat banyak orang, lelaki-perempuan, begitu bising, tetapi kamu merasa kesepian, hampa,” tanya Rani sambil mencomot sepotong spicy fungi yang disodorkan seorang pramuniaga ketika kami lewat di depan sebuah gerai fastfood.

===================
“Menjadi dewasa berarti menjadi kesepian.”
– Thoughts of a biologist, Jean Rostand –
===================

Saya tidak tahu ada berapa banyak perempuan seperti Rani. Yang jelas sejak tadi kami sudah berulangkali berpapasan dengan perempuan-perempuan karir dalam berbagai postur, gaya rambut, dan model pakaian. Sendirian dan berjalan dengan langkah lebar. Mereka memiliki karir bagus, cantik, cukup uang untuk dihamburkan. Sebagian mereka pasti kesepian dan penuh keputusasaan seperti Rani.
“Apa itu bukan sekedar perasaan kosong karena kamu baru saja kehilangan pacar?” tanya saya.
“Mungkin,” jawabnya.
“Jadi mengapa harus khawatir soal itu? Ini hanya masalah waktu dan semuanya akan segera berubah, kan?!”

===================
“Sungguh enak pergi ke terapis. Saya menghabiskan satu jam hanya untuk bicara tentang diri saya. Seperti menjadi pria dalam sebuah kencan.”
– Caroline Rhea –
===================

Sampai akhirnya kami terdampar di salah satu kursi sebuah lounge. Musik akustik mengalun. Piano. Dan seorang perempuan menyanyikan lagu Unbreak My Heart dengan suara yang dimirip-miripkan dengan Toni Braxton.
“Aku suka lagu ini,” kata Rani.
“Mengapa tidak mencari lelaki lain?” tanya saya.
“Rasanya aku selalu jatuh ke pelukan seorang bajingan,” jawabnya.
“Mungkin semua lelaki baik itu sudah menikah,” katanya lagi.
Perempuan! Selalu membesar-besarkan hal kecil dengan cara yang paling melankolis.
Tentu saja hal itu tidak bisa saya ungkapkan kepada Rina.
“Hei, omong-omong, hal paling bodoh apa yang pernah kamu lakukan ketika begitu kesepian dan merasa putus asa seperti sekarang?” tanya saya mencoba membawa percakapan ke hal yang lebih tidak membebani.
“Well, apa yah?” gumamnya membiarkan pertanyaan saya menggantung tanpa jawaban.
Saya benar-benar mengajak kencan seorang perempuan yang salah.

===================
“Saya tidak pernah benar-benar sangat membenci seorang pria sampai mengembalikan cincin berlian yang diberikannya.”
– Zsa Zsa Gabor –
===================

Saya sadar saya sedang terbentur pada tubuh seorang perempuan yang terlibat masalah cinta klasik – selalu sama dan membosankan. Lelaki yang menipu, khianat, dan gombal.
Yah, ini adalah hal yang paling biasa. Sama biasanya dengan fakta bahwa Anda hanya bisa menaklukkan hati seorang perempuan bila Anda cukup cerdas untuk membohonginya dalam beberapa hal. Cukup lihai untuk membuatnya percaya bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja walaupun sudah jelas yang akan terjadi adalah sebaliknya. Kebohongan bagi seorang pria adalah ibarat fake orgasm bagi seorang perempuan. Kejujuran untuk segala hal hanya boleh Anda lakukan apabila Anda sudah bosan dengan perempuan itu.
“Kamu harus mencium banyak kodok sebelum akhirnya menemukan pangeran ganteng idamanmu,” kata saya sebagai kilah terakhir dari seorang lajang yang membela kumpulannya yang tertuduh.

===================
“Pria itu seperti mobil bekas – gampang didapat, murah, dan tidak dapat dipercaya.”
– Rani –
===================

Saya mengantar Rani sampai ke depan pagar rumahnya dan memutuskan untuk melangkah lebih jauh lagi ke dalam.
“Kamu benar-benar ingin tahu hal bodoh apa yang pernah aku lakukan ketika merasa sangat kesepian dan begitu putus asa seperti saat ini?” tanya Rani.
“Yah?” gumam saya dengan agak bosan.
“Membuat profil di sebuah situs kencan di internet,” katanya.
Dalam perjalanan pulang saya memikirkan petualangan yang lain. Saya juga harus mulai melakukan hal bodoh seperti yang dilakukan Rani.

===================
“Kesalahan banyak pria adalah menikahi seorang gadis hanya karena suka pada lesung pipit gadis itu.”
– Stephen Leacock –
===================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: