Puncak yang Semu (Men’s Health, Juni 2004)


Tidak salah jika tidak ada hal untuk dikatakan….sampai saat Anda memaksakan diri untuk mengatakannya.

Pagi yang terlalu ribut. Sebuah sms masuk. Dari Noni. (Dia tidak suka kalau saya membiarkan pesannya diabaikan tanpa balasan). Jadi saya harus membalasnya meskipun saya sangat membenci kebiasaan Noni menggunakan handphone di belakang kemudi.
“Wah, hari masih begini pagi dan aku sudah berpapasan dengan sebuah skandal di balik meja kantor,” katanya melalui sms.
Yang dimaksudnya dengan skandal adalah hubungan gelap antara seorang teman baru Noni di kantor barunya, Lina (manager marketing communication, istri, dan ibu satu anak), dengan Toni (brand manager, suami, dan ayah dua orang anak).
“Mereka terlihat panik dan salah tingkah ketika aku terlalu pagi datang ke kantor dan tiba-tiba masuk ke ruangan departemen marketing.”
“Pakaian mereka berantakan atau ada yang tidak lengkap?” tanya saya melalui sms juga.
“Tidak juga. Mereka berpakaian lengkap. Lina bangun terlebih dulu dan berbuat seakan baru saja hendak menyeduh teh di dispenser. Toni masih duduk di bangku Lia dan rambutnya sedikit acak-acakan. Hei, apakah Toni baru saja memberikan seks oral untuk Lia?”
“Yah, ampun. Ini masih terlalu pagi untuk mengurusi masalah orang lain dan aku tidak tahu. Mungkin saja.”
Sebuah topik gila di pagi hari yang sudah terlalu berisik untuk gosip.

================
“Bos tidak pernah kekurangan cewek.”
– Bob Fosse –
================

Hidup adalah perlintasan suara yang riuh, begitu kata seorang penulis kenalan saya yang pernah bekerja di sebuah tabloid yang dibredel oleh pemerintah. Seperti jalan di depan saya – sebuah persimpangan jalan yang macet, suara klakson yang berisik, sempritan polisi, kapak merah, suara gitar pengamen, dan sumpah serapah. Bayangkan secarik surat tilang, tawar-menawar, kompromi, dan keputusan-keputusan bodoh yang menambah kemacetan jalan.
Dalam kehidupan setiap pria mestinya ada satu atau dua persimpangan yang penuh dengan kompromi dan keputusan tolol. Dalam kehidupan saya, Noni adalah persimpangan jalan yang paling berisik. Dan meskipun tanpa kompromi dan keputusan tolol, Noni sungguh berisik di tempat tidur. Saya tidak punya masalah dengan itu. Nyatanya saya baik-baik saja. Lagipula keberisikan yang terakhir justru memanjakan testosteron saya.
Itu sebelum saya sampai di kantor, membuka mailbox dan menemukan begitu banyak email bersubyek “fake orgasm”.
Yah, ampun, darimana datangnya semua suara bising ini!

================
“Seks tidak pernah benar-benar hanya sekedar seks.”
– Shirley Maclaine –
================

“Hei, sebenarnya laki-laki itu bisa tahu apakah pasangannya benar-benar mencapai orgasme atau berpura-pura? Apakah kalian peduli apakah itu palsu atau sungguhan?” email itu dari seorang perempuan bernama Santi – bekerja di sebuah perusahaan distributor hardware dan software computer.
Setelah gosip tentang pria, oral seks, dan seorang perempuan pagi ini, ternyata ada yang lebih sial dari saya. Entah pria mana itu yang mengalami bencana lebih parah daripada kemacetan yang sudah membuat kopi pagi saya serasa air comberan.
Saya percaya pria memang egois. Itu sudah pasti. Tapi apakah mereka akan tetap egois selama menyangkut harga dirinya?! Saya kira setiap pria peduli dengan hal ini. Maksud saya, pria mana yang bisa terima bahwa ia tidak selalu berhasil memuaskan pasangannya? Persoalannya, pria mana yang mau membicarakan hal seperti itu di sebuah milis? Saya rasa sudah cukup tolol bila ada seorang pria yang menyombongkan kehebatan permainan cintanya dengan seorang perempuan –tidak ada seorang pria pun yang akan mempercayai cerita itu. Tetapi lebih tolol lagi kalau ada seorang pria yang mengakui kegagalannya dalam sebuah hubungan cinta ataupun aksi di tempat tidur.
“Tahu ngga?! Aku sudah menyelidiki beberapa perempuan yang kukenal dan 95% menyatakan pernah memalsukan orgasme mereka. Bahkan ada yang terus-menerus melakukannya,” kata Santi dalam emailnya yang menuntut. “Salah satunya tidak pernah merasakan orgasme walaupun sudah 6 tahun menikah.”
Yah, ampun! Kemana perginya para lelaki hebat itu?

================
“Pacar saya selalu tertawa ketika kami bercinta – apapun yang dibacanya.”
– Steve Jobs –
================

Setelah hari yang padat, akhirnya saya sampai pada bagian hari yang menyenangkan. Batang tubuh Noni yang telanjang rebah di samping saya setelah sebuah sequel pergulatan cinta yang berisik.
Sambil menikmati sisa-sisa getaran sensasi yang menyenangkan, pikiran saya terbang kembali ke email-email Santi siang tadi dan juga sms Noni pagi tadi. Apakah Lina, teman Noni itu, tidak bahagia dengan kehidupan perkawinannya? Apakah tempat tidurnya tidak cukup panas sehingga ia akhirnya menjadi khianat? Apakah ia juga salah satu perempuan yang menipu suaminya dengan orgasme palsu? Dan apakah jerit histeris Noni sepanjang pergumulan tadi juga hanya untuk menyenangkan hati saya?
Apakah saya harus bertanya soal itu kepada Noni? Tapi untuk apa? Toh, saya tahu apapun jawaban Noni tidak akan memuaskan saya. Bila Noni mengatakan bahwa ia selalu mendapatkan kepuasan itu, pasti saya tidak akan percaya. (Terimakasih buat email Santi!). Sebaliknya bila Noni mengatakan bahwa ia pernah (atau selalu?) memalsukan orgasme – itu pun bukan kebenaran yang ingin didengar oleh lelaki manapun.

================
“Semua orang terlalu mudah percaya pada apapun yang membuat mereka takut atau apapun yang sangat mereka harapkan.”
– Jean de La Fontaine –
================

Dan testosteron sekali lagi mendorong saya untuk melakukah hal tolol yang tidak perlu. Saya tanyakan kepada Noni tentang arti jeritan histerisnya di tengah-tengah pergumulan kami tadi.
“Semuanya oke-oke saja, sayang. Aku pernah sampai di sana bersama kamu. Memang tidak selalu. Tapi aku benar-benar menikmati saat-saat bersama kamu,” kata Noni. (Persis seperti kata Santi lewat email tadi siang: “Kami juga merasakan kepuasan dalam bentuk lain ketika kalian mencapai puncak itu.” Dan Erna: “Aku sangat menikmati momen penetrasi ketika kami sedang bercinta.”)
Sial. Entah kenapa saya sepertinya sudah menduga akan mendapatkan jawaban seperti itu. Saya menyesal telah menanyakan hal ini kepada Noni. Jelas pertanyaan saya kepada Noni adalah salah satu keputusan tolol. Dan saya harus memperbaikinya.
“Baiklah, sayang. Bisa kita ulangi yang tadi lagi?” tanya saya berusaha menggapai langit-langit terdekat yang bisa saya raih.

================
“Golf dan seks adalah dua hal yang bisa Anda nikmati tanpa harus menjadi seorang ahli.”
– Jimmy Demaret –
================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: