Tanda Tanya (Men’s Health, Juli 2004)


Ini adalah masalah yang tidak akan pernah Anda ketahui akhirnya sebelum Anda sampai ke sana.

Ada suatu waktu ketika hubungan saya dengan Noni diselingi oleh orang ketiga. Bukan. Sayang sekali, bukan juga three-some yang selalu saya impikan itu.
Perempuan itu teman lama Noni. Namanya Margi. 28 tahun, cantik, lulusan sekolah bisnis di London, dan bisa memainkan piano sekelas pianis yang biasa tampil di resital musik klasik. Ia bekerja di sebuah perusahaan brand consulting.
Hubungan Margi dengan seorang pria bernama Jefri baru saja berakhir dengan penyelesaian yang tidak terlalu menyenangkan. Jefri tidak juga bisa memberikan keputusan tentang masa depan mereka berdua sementara Margi sudah menginginkannya segera sampai pada ujung yang membahagiakan – seperti dongeng H. C. Andersen di ingatan kanak-kanaknya.
“Aku tidak bisa mengerti kenapa Jefri tidak bisa mengambil keputusan tentang hal ini. Apalagi yang membuatnya menjadi sulit?” kata Margi tanpa bisa menyembunyikan sisa-sisa emosinya yang tertinggal.
Kelihatannya memang sesederhana menutup sebuah buku dan melanjutkannya ke dongeng yang lain.
“Apalagi yang harus diuji ketika kami sudah menempuh hubungan ini dalam waktu dan jarak yang panjang. 5 tahun dan Jakarta-London bukan ujian yang enteng,” sambung Margi.

===============
“Ciuman bisa berarti koma, tanda tanya atau tanda seru – atau bukan apa-apa. Itu adalah tata bahasa paling dasar yang harus Anda tahu.”
– Margi –
===============

Saya tidak tahu kenapa Noni merasa perlu mengajak saya dan mendengarkan satu lagi obrolan yang seakan-akan ingin mendorong saya ke pojok. Sudut sempit yang membuat saya benar-benar tidak bisa berkelit dari serangan yang ringan sekalipun.
“Mungkin Jefri membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan lebih dalam. Kenapa Margi tidak menunggu saja sampai saatnya tiba?” tanya saya.
“Berapa lama seorang perempuan bisa bertahan dalam situasi yang tidak pasti?” Noni balik bertanya. Sebuah serangan balik!
Saya heran mengapa Noni belum juga mengajukan pertanyaan yang sama secara langsung kepada saya. Entah apa lagi yang ditunggunya. Tapi saya lega Noni tidak menanyakannya. Saya sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana bila pertanyaan tersebut diajukan sekarang.

===============
“Ijinkan saya menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat kepada Anda, kawan; Anda berhasil mendapatkan satu vagina untuk seumur hidup. Pintar sekali, kawan!”
– Tokoh Beanie dalam “Old School” –
===============

Belakangan saya sadar Noni secara tidak langsung mengajukan pertanyaan sulit itu kepada saya melalui situasi yang dengan cerdik diciptakannya. Margi adalah sebuah umpan yang tepat. Saya tidak pernah mengira Noni bisa memanfaatkannya dengan siasat yang begitu jitu. (Kalau saya tahu dari awal pasti saya menolak untuk ikut dalam kencan segitiga itu). Noni berhasil mendorong saya ke sudut yang menakutkan itu – tanpa bertanya langsung. Apakah saya akan seperti Jefri yang membutuhkan injury time untuk menimbang segala sesuatunya – dan akhirnya kehilangan Noni seperti Jefri kehilangan Margi? Atau memberikan kepastian itu sementara saya sendiri tidak bisa memastikan untuk diri saya sendiri?
Saya baru tigapuluh tahun. Masih terlalu muda untuk membuang semua pilihan untuk satu perempuan. Bagaimana kalau saya kemudian beruntung mendapatkan kesempatan untuk bercinta dengan Angelina Jolie?

===============
“Kemanapun aku pergi mendaki, seekor anjing bernama ‘Ego’ selalu mengikuti”.
– Friedrich Nietzsche –
===============

Saya kira pria punya kecenderungan poligami. Dan catatan saya kelihatannya tidak jauh dari situ. Noni, Lenny, Tika, Liana, Widya, Linda, ….. Itu adalah rahasia yang juga dimiliki setiap pria – yang karena satu atau lain hal sebaiknya ia simpan untuk dirinya sendiri. (Semakin panjang deretan nama itu, semakin beruntung Anda – dan keberutungan selalu mengundang rasa iri, kawan!)
Apa yang saya rasakan mungkin juga banyak dialami oleh pria-pria lain. Kenyataannya, kepastian memberikan rasa aman. Dan perempuan membutuhkan rasa aman yang besar. Sedangkan bagi saya, -mungkin juga Jefri-, rasa aman adalah kepastian bahwa masih ada cukup banyak waktu untuk semua pilihan.

===============
“Suami itu seperti api. Bila dibiarkan akan menjalar kemana-mana.”
— Zsa Zsa Gabor —
===============

Di tengah kekeruhan, saya menjelajah ke dunia maya dan mencari tahu berapa banyak yang disodorkan oleh Google kepada saya bila mengetik kata “true love”. Dan nyatanya saya harus berhadapan dengan ratusan lembar halaman maya. Sampai halaman ke 100 saya menyerah dan mengakhiri penjelajahan saya pada sebuah halaman web yang menawarkan kalkulator untuk cinta. Semacam mesin matematis yang bisa memperhitungkan peluang hubungan Anda dengan seorang perempuan. Menarik. Saya ingin tahu apa yang akan dikatakan mesin ini tentang peluang hubungan saya dengan Noni.
Tulis nama lengkap Anda di sini.
Tulis nama lengkap pasangan Anda di sana.
Tekan enter.
Selang beberapa lama, seseorang bernama Dr. Love muncul dan berkata bahwa hubungan saya dengan Noni hanya memiliki peluang berhasil sebesar 45%. Singkatnya, masa depan hubungan saya dengan Noni tidak terlalu bagus. (Wow! Kesimpulan yang terlalu berani untuk dugaan yang hanya berdasar pada serangkaian huruf vokal dan konsonan).
Tetapi tentu saja tetap ada peluang – meskipun kecil. Jika saya dan Noni menginginkan agar hubungan ini berhasil, kami berdua harus siap berkorban apapun yang diperlukan untuk itu, kata bajingan yang menyebut dirinya Dr. Love itu lagi. (Apapun? Apakah itu tidak terlalu banyak?) – harus meluangkan sebanyak mungkin waktu bersama-sama. (Noni pasti senang sekali mendengar ini).
Saran berikutnya dari Dr. Love: Anda juga harus bisa menerima bahwa tetap ada kemungkinan hubungan ini tidak berakhir bahagia seperti yang Anda mimpikan – tidak peduli berapa banyak yang sudah dikorbankan untuk itu. (Gila! Bagaimana kalau kami mengetahuinya ketika segala sesuatunya sudah terlanjur?).
Dr. Love, siapapun Anda,…..Anda pasti seorang penipu.
Saya tidak mau memikirkannya lebih larut lagi sekarang ini. Toh, Noni belum mengajukan pertanyaan itu secara terbuka. Masih banyak waktu.

===============
“Banyak orang tidak bisa membedakan antara managemen yang buruk dengan takdir.”
– Kim Hubbard –
================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: