Bukan Sekedar Seks (Men’s Health, Agustus 2004)


Seks tidak pernah benar-benar sekedar seks..

Di meja bar sebuah kafe. Kehidupan bergerak marak. Kegembiraan akhir pekan meluap – atmosfir seperti sesak dengan gairah. Sementara saya gelisah berusaha melupakan deadline dan menunggu mood yang tidak juga bersahabat. (Yah, ke-moody-an saya juga membuat jadwal bercinta saya dengan Noni menjadi tidak menentu). Saya merasa hidup di dalam sebuah roller-coaster. Sialnya saya tidak bisa meloncat keluar dan hanya bisa membiarkan waktu lewat begitu saja bersama beberapa gelas bir.
Seorang perempuan melintas dengan langkah yang anggun – seperti macan betina yang mengendus bahaya. (Saya membayangkan cakaran kukunya di punggung saya ketika bergulat di tempat tidur). Kilatan lampu menjilat tubuhnya – menciptakan siluet yang kontras antara bayangan gelap dan kulitnya yang lencir. Ia berjalan ke arah deretan bangku di meja bar yang melingkar, melewati saya, dan berhenti di sebuah bangku kosong di sisi luar sebuah kelompok – empat perempuan dan dua orang pria, teman-temannya. Di sisi luar yang lebih dekat ke arah saya – hanya terpisah dua bangku. Untunglah!
Dan saya pun beringsut.

====================
“Jika segala sesuatunya masih di bawah kendali Anda artinya Anda belum bergerak cukup cepat.”
– Mario Andretti –
====================

Perempuan itu masih seperti semula – tubuhnya sedikit menyerong sehingga saya hanya bisa melihat sebagian wajah dan garis hidungnya membentuk garis yang manis dan bahunya yang telanjang. Ia sedikit bersandar pada meja bar dan tangan kirinya bertelekan pada meja. Tangan kanannya berada di atas pahanya dengan gaya yang memukau. Kaki dan kepalanya bergerak kecil mengikuti irama lagu. Saatnya untuk menegaskan kehadiran saya, pikir saya.
“Hai, musiknya bagus, yah?” kata saya agak mencondongkan badan ke arahnya (tetap dalam jarak yang aman) sambil mengangkat dagu ke arah band amatir yang memainkan akustik di panggung.
“Apa?” teriaknya mencoba mengatasi kerasnya vibrasi musik.
“Saya tahu tempat yang musiknya lebih asyik daripada ini,” bisik saya di telinganya.
Ia tersenyum masam sambil mengangkat bahu. Dan saya tahu saya telah mulai dengan langkah yang tidak terlalu pintar.

====================
“Perbedaan antara (foto) pornografi dan erotika adalah pencahayaan.”
– Gloria Leonard –
====================

Dalam banyak hal, saya percaya bahwa pria dan wanita adalah binatang yang sama. Keduanya mencintai seks dengan cara yang berbeda. Tetapi Erin, 27 tahun, administrator di sebuah perusahaan asing, 170/58/34C, bukan perempuan yang gampang diajak ke tempat tidur. Saya mengingat kembali kencan kami beberapa hari lalu (tiga hari setelah perkenalan di kafe yang saya kira tidak dimulai dengan cukup bagus) – ketika ia demikian kukuh menghantam para pria di kiri maupun kanannya dengan sebutan: binatang jalang di musim kawin.
“Pria dimana-mana sama saja. Seks memakan terlalu banyak tempat di otaknya,” kata Erin beralasan – seperti ingin menjelaskan mengapa ia begitu sulit untuk dimintai nomor teleponnya pada perjumpaan pertama kami. Itu juga sebabnya mengapa ia selalu pergi dengan lebih dari dua orang teman untuk bersenang-senang. Sebuah perlindungan – yang baru bisa saya kuasai setelah saya meminta bartender untuk menyediakan beberapa shot flaming bikini untuk mereka.
“Hei, bukankah berprasangka seperti itu tidak baik?” protes saya.
“Aku bisa merasakannya dari cara memandang, bicara, ataupun caranya menyentuh,” jawab Erin bersikukuh.
Biar bagaimanapun saya tetap merasa itu tidak adil – bagaimana bisa menang melawan prasangka?
“Tunggu sampai kamu menemukan suasana dan waktu yang tepat,” kata setan kecil di kepala saya. Harus begitu! Atau semua kesibukan saya malam itu akan sia-sia. (Saya harus mengumpulkan semua nomor telepon teman-temannya malam itu dan keesokan harinya kebingungan ketika berusaha mengingat-ingat yang mana nomor telepon Erin).

====================
“Anda bisa mendapatkan lebih banyak dengan kata-kata dan senjata daripada hanya dengan kata-kata.”
– Al Capone –
====================

Dia menjatuhkan dirinya di atas dada saya setelah guncangan-guncangan yang membuat tempat tidur seperti berada di episentrum gempa bumi lokal itu berhenti. Setelah desahan nafas yang memburu lewat, tubuhnya bergulir ke samping.
Ini adalah ulangan dari kegiatan kami semalam setelah pulang dari makan malam di restoran Vietnam yang penuh dengan keluarga-keluarga yang makan malam bersama dan diikuti dengan acara nonton pertunjukan balet di gedung kesenian. (Saya berusaha keras untuk tidak terlihat ingin cepat-cepat menggumulinya di tempat tidur).
Matanya masih terpejam – membentuk garis halus yang dihiasi bulu mata yang lentik menggeletar. Dadanya menggelembung – naik-turun dengan irama yang seakan-akan membuatnya lebih besar daripada apa yang diingat oleh syaraf-syaraf di lidah dan bibir saya ketika mengecapnya. Butir-butir kecil keringat yang merembes dari pori-pori kulitnya yang melebar diterobos gelombang nikmat – menguap bersama hawa dingin AC.
“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya sambil kembali berguling menghadapkan wajahnya ke arah saya. Matanya menyorotkan tatapan seorang perempuan yang baru saja dihempaskan kembali ke tempat tidur dari awan ekstasi.
Perasaan? Mengapa ia harus menyelipkan satu kata itu di dalam pertanyaannya? Di hari yang masih terlalu pagi seperti ini?
“Feel good,” jawab saya dengan suara tidak terlalu bersemangat.

====================
“Tidur adalah cara terbaik untuk menikmati pertunjukan opera.”
– James Stephens –
====================

Sudah sebulan lewat sejak terakhir saya meninggalkan apartemen Erin di pagi buta. Dan belakangan saya seperti tersedot ke dalam pekerjaan dan perjalanan-perjalanan ke luar kota yang seperti tidak ada berhentinya. Sialnya, saya benar-benar tidak sempat untuk memenuhi janji saya kepada Erin untuk menelpon dan mengajaknya pergi bersama lagi (dan mungkin satu sesi bercinta setelahnya).
Saya pikir itu bukan masalah besar. Sampai ketika saya menghubungi Erin untuk mengatur kencan kami berikutnya.
Dan pria cenderung bertindak pada waktu dan suasana yang justru membawanya menjauhi tempat tidur perempuan yang dikejarnya – terutama setelah ia selesai mengancingkan celananya di akhir kencan yang tidak diinginkannya terlalu serius. Sementara perempuan selalu membutuhkan semacam pembenaran sebelum memasuki hubungan yang diwarnai dengan seks – sedikit perhatian yang membuat ini bukan sekedar seks, meskipun juga bukan cinta.
“Hai, Erin. Bagaimana kalau kita keluar malam ini?”
Sejenak diam.
“Hei, kamu tidak bisa datang, bersenang-senang, lalu pergi dan datang lagi semau-maumu seperti itu!”
Hanya itu. Lalu suara Erin hilang digantikan oleh denging yang menyakitkan di telinga saya.

====================
“Tidak adakah seorang pria pun yang NORMAL di dunia ini?”
– Tokoh Beth dalam “Road Trip” –
====================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: