Cinta Hitam Putih (Men’s Health, September 2004)


Ini masalah sederhana – situasi hitam dan putih. Anda hanya perlu menentukan tempat Anda berdiri.

20:00, 06/07/2004. Malam di acara launching Modesto. Shanty menyanyi dengan gayanya yang energik di atas panggung. Sementara saya terdampar di atas sofa bersama sebotol bir. Seluruh ruangan padat dengan perempuan dan lelaki berkulit kuning, bermata sipit – mengingatkan saya pada Lisa.
Dan ketika seorang gadis bergoyang di antara teman-temannya tepat di depan saya duduk, ingatan saya pada Lisa semakin tajam. Dengan baju terusan berwarna hitam yang menempel ketat – mencetak jelas lekuk pinggul dan tonjolan di dadanya (payudara paling indah yang saya lihat malam ini). Matanya semakin menyipit ketika ia tertawa bersama teman-temannya sambil tetap menggerakkan pinggul dengan ayunan yang mengingatkan saya pada gerak liar pinggul Lisa ketika berada di atas tubuh saya.
Persetan! Saya harus bisa mendapatkan nomor teleponnya.

==================
“Hanya itu kemampuanmu, George?”
– Muhammad Ali, dalam pertarungan melawan George Foreman, Zaire, 1974. –
==================

06:00-22:00, empat tahun sebelumnya. Saya mengenal Lisa, -bekerja di sebuah perusahaan farmasi. 25 tahun, perempuan Indonesia keturunan Tionghoa, matanya membentuk garis tajam yang mengingatkan saya pada Lucy Liu-, di pusat kebugaran sebuah hotel di Surabaya. (Kami sama-sama sedang dalam perjalanan tugas dari kantor masing-masing.) Diawali dengan sedikit bantuan ketika ia mendapatkan kesulitan menggunakan sebuah mesin. Bertemu lagi pada saat breakfast. Kemudian dipisahkan oleh pekerjaan masing-masing setelah sebelumnya membuat janji untuk makan malam bersama.
Setelah itu, rutinitas bertukar kabar via telepon atau sms, belasan makan siang, ribuan email lucu sedikit porno, plus makan malam, film, dan pesta.
Semuanya baik-baik saja. Satu-satunya yang keliru dalam hubungan kami adalah saya tidak pernah lagi bisa mengantarnya pulang ke rumah usai kencan kami – sejak pandangan yang aneh dari kedua orangtuanya ketika pertamakali melihat saya di depan pintu rumah mereka. Yah, kami berdua baik-baik saja seandainya warna kulit kami tidak terlalu berbeda.

==================
“Jangan pernah melompat bila Anda tidak tahu dimana Anda akan mendarat.”
– Anonim –
==================

20:00, suatu malam/05/2004. Dan ini adalah perselisihan ke-seratus tentang hal yang sama dalam hubungan kami sejak perkenalan di Surabaya. Semuanya tidak sama lagi.
“Beri aku alasan kenapa kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini hanya karena orangtuamu ribut soal ras?” tanya saya dengan sengit, memaki peradaban manusia modern yang hipokrit.
“Jangan paksa aku memilih,” protesnya terhadap keberatan saya.
Kemudian Ia mulai menangis. Saya hanya bisa termangu.
“Biar bagaimanapun kamu harus memilih!” kata saya memecah keheningan.
“Aduh, kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya….,” kata-katanya terhenti ditelan sedu-sedan.
“Rasanya apa, Lisa?” tanya saya bersungut.
Tidak ada jawaban. Diam yang panjang lagi.
“Maafkan aku. Aku juga tidak pernah menginginkan semuanya jadi seperti ini,” katanya setelah jeda hening yang menyiksa.

==================
“Satu-satunya perbedaan antara saya dan orang gila adalah saya tidak gila.”
– Salvador Dali –
==================

21:00, malam yang sama/05/2004. Tidak satupun di antara kami yang berkata-kata lagi. Saya yakin kami adalah pasangan yang sepadan – semacam ejekan dan amarah yang brutal terhadap sejarah manusia yang rasis. Dan saya katakan kepada Lisa bahwa tidak ada alasan bagi kami untuk mengakhiri hubungan dengan cara seperti ini. Saya ingin dia bahagia. Saya ingin foto saya tetap ada di dalam dompetnya. Dan bahwa semua itu tidak ada kaitannya dengan takdir yang melahirkan saya. Lisa terdiam seakan berusaha mencari pegangan pada suara saya yang mengambang di udara.
“Masalahnya bukan pada kamu,” keluhnya lirih kemudian.
Saya hanya mengangguk setelah kembali terdiam. Tidak ada guna lagi berkata-kata. Lisa sudah menyerah. Butuh dua orang pemberani untuk mempertahankan hubungan ini. Dan sudah jelas tidak ada cara lain untuk lolos bila salah satu dari kami sudah menyerah.
“Yah, sudahlah kalau memang itu keputusanmu!” seru saya, tidak sepenuhnya yakin pada apa yang saya katakan. Ia tidak memberikan respon apa-apa. Saya terbatuk kecil dan membetulkan posisi duduk, gelisah, merasa dilahirkan kembali di dunia abad pertengahan.
“Maksudku..…tidak ada lagi yang bisa dilakukan,” lanjut saya dengan suara yang lebih lunak.
“Kamu bisa menerimanya?” akhirnya Lisa bersuara meski pelan.
Saya hanya mengangguk – khawatir suara saya akan terdengar bergetar dan tidak bisa menyembunyikan harga diri saya yang tersinggung.
Lalu kami berpisah setelah pelukan erat dan hangat selayaknya kawan yang tahu bahwa tidak akan ada kesempatan untuk bertemu lagi. Berikutnya saya sudah berjalan ke tempat parkir yang separuh kosong di gedung teater yang baru direnovasi. Beberapa pasang lelaki dan perempuan berjalan berdampingan dengan tawa yang riang. Seorang pria paruh baya berjalan rapat di samping seorang gadis – tangannya secara tersembunyi meraba dan meremas pantat si gadis. Gadis itu memekik genit.
“Cinta adalah candu, bukan?” akal sehat saya berkata.
Apa salahnya dengan itu? kata batin saya.
“Candu membuatmu sakaw,” kata akal sehat saya lagi dengan nada penuh ejekan.

==================
“Saya tidak gagal, hanya menemukan 10.000 cara yang tidak jalan.”
– Thomas Alva Edison –
==================

Modesto, 21:30, 06/07/2004. Dan gadis itu masih menari. Masih dengan gelinjang yang menggelorakan hasrat lelaki manapun. Saya beringsut mencari posisi yang pas agar bisa lebih leluasa memandang keindahannya. Mungkin ia akan melihat saya dan – barangkali – akan ada bonus pertukaran pandang yang membawa kami ke dalam situasi yang baru.
Berulang-ulang saya mengejar bola matanya, tetapi tatapan kami tidak juga bertemu. Sepertinya ia tidak tertarik dengan segala hal yang bergerak di sekelilingnya, kecuali: musik, gelas minumannya (entah apa), dan gurauan teman-temannya. Apa-apaan ini? Apa saya sudah kehilangan daya pesona? Apa ini saat yang tepat untuk menawarinya satu shot flaming bikini? Bagaimana kalau ia terlalu sibuk dengan teman-temannya dan menolak tawaran saya? (Hal yang sangat mungkin terjadi – sepertinya ia sama sekali tidak menganggap saya ada).
Saya menyukai perempuan ini. Tapi kelihatannya ini bukan malam yang menguntungkan untuk berburu. Mungkin ini bukan lingkungan yang tepat buat saya.

==================
“Satu kali adalah kebetulan. Dua kali adalah ketidaksengajaan. Ketiga kali pasti perbuatan musuh Anda.”
– Auric Goldfinger, dalam serial James Bond, “Goldfinger” –
==================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: