Candu Seks (Men’s Health, November 2004)


Saya ingin lagi, lagi, dan lebih banyak lagi.

Saya punya masalah besar. Belakangan saya seperti tidak bisa berhenti berpikir tentang seks. Saya seperti punya keinginan menggebu-gebu untuk bercinta dengan perempuan mana pun yang lewat di depan hidung saya. Saya kurang tidur karena hampir setiap malam sampai menjelang subuh menjelajah internet – dari satu bilik percakapan seks ke bilik percakapan seks yang lain – bersama webcam saya.
Hidup saya benar-benar kacau. Benar-benar kacau karena semua perempuan yang saya temui seperti bersepakat menjauhi saya dan tawaran kehidupan asmara saya yang penuh luapan libido. Raut wajah saya sendiri seperti berkhianat dan mengirimkan tanda bahaya kepada apapun yang berpayudara dan bergerak di dekat saya. Ini benar-benar masalah gawat.

==================
“Saya kira……itu sebabnya saya tetap lajang.”
– Lizz Winstead –
==================

Saya mengeluhkan tentang kehidupan saya yang kacau dan –terutama- perempuan-perempuan yang seperti berlari menghindari saya pada Chintya – seorang perempuan yang saya kenal lima bulan lalu melalui emailnya yang menanggapi tulisan-tulisan.. Ia satu-satunya perempuan yang sepertinya tidak terganggu dengan tatapan mata saya yang memancarkan birahi – 27 tahun, tubuh semolek Demi Moore, pendengar yang baik, berpikiran terbuka, selalu bersedia mencoba hal-hal baru yang paling gila sekalipun.
“Jelas karena matamu terlalu terus-terang, menelanjangi. Seperti sekarang, seakan-akan kamu menginterogasi tubuhku dan mengintip ukuran braku.” katanya dalam obrolan kami di sebuah kafe semalam.
“Tidak seorang perempuan pun bisa menerima tatapan seperti itu dengan tenang.”
Saya membuang pandangan mata saya ke pasangan yang berusaha menyembunyikan bayangan mereka di balik kegelapan sudut lounge.
“Tetapi bukankah itu hal yang biasa pada pria?” kata saya.

==================
“Saya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk bercinta atau tampil di televisi.”
– Gore Vidal –
==================

Siapa yang membantah bahwa seks adalah salah satu hal yang menguasai wilayah besar di otak pria – selain ego? Saya kira saya bukan satu-satunya pria yang memiliki pandangan mata berpretensi terhadap setiap wanita cantik yang lewat di depan mata saya. Pria cenderung menganggap seks sebagai pintu masuk ke arah romantisme. (Meskipun, faktanya, mereka lebih sering berhenti di depan pintu itu daripada masuk ke dalam). Dan perempuan menganggap romantisme berjalan mendahului seks. Tetapi kenapa perempuan tidak dapat menerima pandangan penuh hasrat seperti itu sebagai sebuah komplimen – layaknya seikat bunga atau pujian gombal “Kamu cantik sekali….dan kelihatannya kamu berbakat untuk jalan di atas catwalk”?
“Mungkin kamu ada benarnya. Tapi tidak bisakah melakukannya dengan cara lain – apapun itu selama bisa menyembunyikan seks di kepalamu barang sebentar?” ujar Chintya.
Perempuan tidak menyukai ketelanjangan yang vulgar.

==================
“Ketika perempuan mengalami depresi mereka makan atau pergi belanja. Sementara pria menginvansi negeri baru.”
– Elayne Boosler –
==================

Tetapi bukan persoalan itu yang utama mengganggu saya. Saya mulai mengkhawatirkan hal lain menyangkut apa yang ditanyakan Chintya kemudian.
“Coba berapa sering kamu berpikir soal seks dalam sehari ini”.
Tengah malam kemarin mengakses web porno selama dua jam. Kemudian susah payah menahan keinginan untuk meremas pantat sekretaris redaksi di pagi harinya. Lalu Membaca cerita porno di internet seusai jam makan siang. Selanjutnya membayangkan kemungkinan bercinta dengan seorang model perempuan yang sedang naik tangga menuju studio foto. Berikutnya menelepon beberapa teman perempuan yang mungkin sedang tidak punya acara dan bisa diajak bersenang-senang di kafe. Terus mengagumi pantat seorang perempuan yang sedang melakukan latihan lying leg curl ketika di gym sore tadi. Dan sekarang…..membayangkan betapa nikmatnya membenamkan wajah saya di tengah kelembutan yang tersimpan rapi di balik seutas kain bernomor 34B di dada Chintya.
“Tiga kali,” jawab saya.
Diam-diam saya menjadi benar-benar khawatir dengan banyaknya saya berpikir tentang seks. Apakah seks sudah demikian dalam meracuni pikiran saya sehingga – tanpa bisa saya tahan – setiap perempuan cantik yang lewat selalu membangkitkan keinginan saya untuk menyeretnya ke tempat tidur?
Segala pertanyaan tetap menggantung – kemudian terlupakan – ketika Chintya menggamit tangan saya ke lantai dansa. Dan, – saya benar-benar tidak kuasa menahannya –, birahi mengapung saat tubuh kami merapat dan bergesekan.

==================
“Jam tiga adalah waktu yang terlalu awal sekaligus terlalu terlambat untuk melakukan sesuatu.”
– Jean-Paul Sartre –
==================

Pukul lima pagi. Saya terbangun dengan perasaan seluruh tulang di tubuh saya dilolosi. Sesuatu yang berat mengganjal di bahu kiri saya – membuat sebagian tubuh saya terasa kram. Sambil meregangkan otot leher dengan menggerakkan kepala saya perlahan-lahan pikiran jernih saya menajam. Tubuh yang menindih sebagian tubuh saya itu begitu lembut dan menguarkan hawa panas di balik selimut. Chintya. Saya ingat bagaimana ketelanjangannya beberapa jam lalu membuat segala sesuatu seperti bergerak begitu cepat – menggelora dengan kecepatan cahaya.
Ia menggeliat – tidurnya terganggu oleh gerakan kecil tubuh saya yang tidak tahan ingin mengusir rasa kebas. Wajahnya kelihatan menarik, kusut, dan memanggil hasrat.
“Jam berapa ini?” tanyanya.
“Masih sangat pagi.”
Dan ia kembali menyusupkan kepalanya ke sisi leher saya.
“Chintya?” seru saya pelan.
“Hmmm,” sebuah gumaman.
“Impresi pertamamu…..apakah saya jenis pria yang dengan siapa kamu ingin bercinta atau sekedar lelaki menarik saja?”
Sebuah pertanyaan bodoh. (Apa lagi yang bisa membuat perempuan ini berada di atas tempat tidur saya sekarang kalau bukan hal yang pertama?). Chintya menatap saya dengan mata yang mengantuk.
“….lelaki yang baik. Tapi itu tidak jelek kok,” katanya dengan suara menggumam.
“Jadi kita masih bisa mengulangi kegiatan ini di hari-hari berikutnya, kan?” lagi sebuah pertanyaan bodoh yang berlalu tanpa jawaban. Chintya sudah kembali mendengkur halus – meniupkan helaan nafas pelan yang menggelitik kulit leher saya.
Secara keseluruhan saya merasa baik-baik saja sekarang. Atau sebenarnya apa yang saya alami hanya sejenis depresi yang tidak penting – sama sekali bukan kecanduan seks? Kenapa pula harus peduli kalau kehidupan saya sudah bisa kembali normal seperti semula? Tinggal satu hal yang masih mengganjal. Satu fakta yang saya baca kemarin siang di dalam sebuah jurnal ilmiah: “Antara tiga sampai tujuh persen dari populasi kita menunjukkan tanda-tanda kecanduan seks, dan mayoritas adalah pria.”
“Chyntia, bagaimana kalau suatu kali nanti kita mengajak seorang temanmu – perempuan – untuk bergabung di tempat tidur ini?” tanya saya.

==================
“Buatlah segala sesuatunya sesederhana mungkin, tetapi jangan terlalu sederhana.”
– Albert Einstein –
==================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: