Salah Sambung (Men’s Health, Desember 2004)


Terkadang, seorang teman bisa menjadi sesuatu yang baik untuk kesehatan Anda.

Saya mendengar nama Mia dari Tommy – sahabat saya sejak lama – ketika kami bertemu di sebuah coffee shop dua bulan lalu. Tommy mengenal Mia dari Friendster. Duapuluh tahun. Mahasiswi Ekonomi. Tinggal di bilangan Grogol.
“Perempuan muda yang bisa membuat aku lupa jalan pulang ke rumah,” begitu cara Tommy menggambarkan sosok Mia.
Dan, -entah kenapa-, ketika saya meminta nomor telepon Mia, Tommy memberikannya begitu saja. Mungkin karena Tommy sendiri tidak ada keinginan untuk secara serius berhubungan lebih jauh lagi dengan Mia. Toh, Tommy sudah beristri. Setidaknya begitulah analisa yang bisa saya tarik.
Sebuah kontradiksi yang membingungkan kalau saya membandingkannya dengan cara Tommy menggambarkan Mia. Tetapi saya tidak memikirkannya lagi – bahkan kemudian lupa kalau saya menyimpan nomor telepon Mia.

=========================
“Clinton bohong. Pria boleh lupa dimana dia memarkir mobilnya atau dimana dia tinggal, tetapi dia tidak akan pernah lupa pada oral seks – seburuk apapun itu.”
– Barbara Bush –
=========================

Tampaknya, jodoh datang lewat jalur telepon salah sambung yang ceroboh. Sebuah kesalahan bodoh yang membawa saya ke situasi tidak terduga. Itu terjadi ketika saya mencoba menghubungi seorang dokter kenalan saya – Dr. Menaldy.
“Hai, ini aku,” terdengar suara seksi yang manja dari seberang sana. “Tinggalkan pesan dan saya akan menghubungi Anda kembali.”
Kalau ini adalah phone sex, ini adalah 8 detik terbaik yang pernah saya alami.
Tuuutttt.
Saya langsung menutupnya. Sial. Kenapa Dr. Menaldy berubah jadi perempuan? Saya periksa nomor yang baru saja saya hubungi dan menemukan nama yang salah. Ini Mia – nama perempuan yang sebulan lalu nomor teleponnya saya contek dari handphone Tommy – bukan Dr. Menaldy. Tetapi suara perempuan satu ini benar-benar seksi. Dan saya pun tergoda untuk menelepon lagi.
Suara seksi itu lagi. Kemudian bunyi tuutttt. Masih tersambung dengan mailbox. Saya mulai bicara dengan air liur menggumpal di sudut mulut. Bagaimanapun juga, ini akan menjadi salah satu titik balik dalam kehidupan saya yang terekam dalam sebuah kotak suara.
“Hmmm…kelihatannya saya menekan nomor telepon yang salah, tetapi Anda memiliki…ehhh….suara terseksi yang pernah saya dengar, dan rasanya bodoh kalau saya melewatkan kesempatan untuk berbicara dengan Anda.”
Saya kemudian meninggalkan nama dan nomor telepon. Meletakkan gagang telepon. Saya menyeringai dengan gugup. Lalu melupakannya.

=========================
“Diet yang tepat akan menyalurkan energi seksual Anda ke arah yang tepat pula.”
– Barbara Cartland –
=========================

Satu hari kemudian, sebuah voice mail masuk. Dari Mia.
“Hai, Den, ini Mia. Barangkali ini bukan tindakan yang benar, tetapi saya merasa tidak ada salahya juga. Jadi setelah memilikirkannya berulangkali…..hmmm…apa yah. Well, kamu tahu nomor teleponku kalau kamu mau ngobrol.”
Duapuluh tiga jam kemudian saya memutuskan menelepon Mia lagi untuk menuntaskan urusan yang mungkin akan berkembang menyenangkan di antara kami.
Ia menjawab. Suara seksi itu. Dia membuat Marcella Zalianty terdengar seperti Komeng. Selanjutnya, -setelah menjelaskan peristiwa salah sambung itu dengan kebohongan yang masuk akal-, percakapan kami mengalir dengan tenang. Saling mencari kesamaan dan perbedaan kecil yang tidak penting. Tentang kegilaan romantis bertemu seseorang yang bisa diajak tertawa dan didekap di dalam dunia yang tidak masuk akal ini. Ditutup kesepakatan untuk sebuah kencan di waktu yang tepat.

=========================
“Saya punya anak dan istri. Apakah saya kelihatan seperti seorang pria yang berbahagia, kawan?”
– Bearnie dalam film Old School –
=========================

Saya tidak pernah menduga akan mendapatkan reaksi yang sangat keras dari Tommy ketika saya meneleponnya untuk bicara tentang Mia.
“Hei….masih ingat Mia?” tanya saya.
“Ya, kenapa?” jawab Tommy.
“Apakah kamu pernah berkencan dengan dia?” tanya saya lagi.
“Belum. Hubungan kami baru sebatas percakapan lewat telepon. Kenapa?”
“Aku meneleponnya semalam dan kami berbicara panjang lebar. Itu adalah percakapan telepon pertama antara aku dan Mia. Tetapi kami merencanakan sebuah kencan dalam waktu dekat ini,” saya bercerita kepada Tommy tanpa prasangka.
“Bajingan! Itu kan sama saja kamu menusukku dari balik lipatan.”.
Pengkhianatan! Tuduhan paling rendah apalagi yang bisa dilontarkan seorang pria selain itu?
“Aku kira urusanmu dengan perempuan itu sudah selesai. Bukankah sudah berbulan-bulan sejak aku mendapatkan nomor teleponnya darimu?” kilah saya.
Tentu saja saya tidak merasa bersalah. Lagipula buat apa Tommy memberikan nomor telepon perempuan itu bila ia masih berminat untuk mendekatinya dan tidak menginginkan adanya persaingan di antara kami?
“Jadi salahku kalau aku tidak seagresif kamu?” sergahnya lagi tanpa ampun sambil membanting gagang telepon.
Dan saya jadi sadar bahwa persahabatan kami sedang dalam bahaya. Maka saya mengirimkan sms kepada Tommy – karena tahu ia tidak akan menerima telepon saya setelah pembicaraan kami tadi – yang menyatakan bahwa saya akan menarik diri dan membiarkan Tommy melanjutkan upayanya mendekati Mia tanpa harus mengkhawatirkan adanya interupsi dari saya.

=========================
“Persahabatan itu seperti uang – lebih mudah mendapatkannya daripada menyimpannya.”
– Samuel Butler –
=========================

Ternyata saya tidak sepenuhnya memahami akibat dari tindakan konyol saya menelepon Mia. Saya sudah terlanjur mengambil langkah yang salah – meskipun itu bukan sebuah kesengajaan. Seharusnya sedari awal saya bertanya kepada Tommy apakah saya sudah bisa mendekati Mia. Tetapi itu tidak saya lakukan.
Tetapi persoalannya bukan apakah saya mau melepaskan kesempatan untuk mendapatkan Mia. Sekarang saya tidak bisa berharap bahwa hanya dengan menahan langkah, memberikan tempat kepada Tommy, lalu semuanya bisa kembali normal. Tidak ada seorang pria pun yang bersedia mengambil tawaran seperti itu. (“Hei, kawan, kamu terlalu lambat. Okelah aku mengalah dengan memberimu kesempatan melangkah lebih dulu.”). Ada terlalu banyak harga diri yang dikorbankan.
“Jadi orangtuamu sedang keluar kota?” tanya saya kepada Mia kemarin malam lewat telepon.
Mia kemudian bercerita tentang tradisi keluarga berkumpul di rumah kakeknya setiap akhir tahun. Tahun ini ia tidak bisa ikut karena ada urusan dengan dosen pembimbing.
“Aku sendirian di rumah selama mereka di luar kota. Mau mampir kemari?”
Saya tidak tahu apa yang ada di balik tawaran menggiurkan itu. Persetan! Seharusnya saya tidak usah memberitahu Tommy bahwa saya menghubungi Mia.
“Hmm…mungkin lain waktu. Ada pekerjaan yang sudah harus siap besok pagi-pagi sekali,” jawab saya.
“Okelah kalau begitu. Telepon aku yah”.
Di hari-hari berikutnya kami tetap saling menelepon. Tetapi jadwal kami tidak pernah cocok. Sampai akhirnya frekwensi hubungan lewat gelombang elektromagnetik itu semakin sayup dan kemudian benar-benar hilang.

=========================
“Saya tidak suka bercinta dengan beberapa orang sekaligus pada saat yang sama karena hal itu membuat saya tidak tahu dimana saya harus meletakkan tangan saya.”
– Martin Cruz Smith –
=========================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: