Cinta Lewat Monitor (Men’s Health, Januari 2005)


Seks itu lebih dari sekedar dua pasang kaki telanjang yang saling tindih di tempat tidur.

Seorang perempuan Indonesia – entah di bagian mana Benua Amerika sana – muncul di layar monitor. Wajahnya mengantuk (atau mabuk?), sesekali menenggak hard liquor. Adegan selanjutnya, setelah beberapa tenggakan yang memabukkan, ia pasti akan mulai melolosi pakaiannya di depan layar monitor bak seorang penari telanjang. Kali ini penontonnya adalah para pria jalang (dan wanita) yang birahinya ogah dibungkam kesunyian malam. Saya sudah hafal dengan ritual ini setelah tujuh malam berturut-turut tenggelam dalam kesimpang-siuran gelombang data. Namanya Manda – entah nama sebenarnya.
Dan satu lagi pesta-pora dimulai di tengah jaman yang padat dengan euforia digital – meminjam istilah seorang staf IT di kantor saya. (Dia mengklaim dirinya sebagai pencipta istilah itu).

===================
“Dunia internet itu sangat besar, sangat kuat dan tanpa batas, sehingga sebagian orang menganggapnya sebagai pengganti kehidupan yang sempurna.”
– Andrew Brown –
===================

Sepotong nama baru masuk ke dalam bilik percakapan. Chelline. Klik kanan. View profile. Dan window di computer saya menampilkan profil seorang perempuan di Yahoo. Chelline, 28 tahun, perempuan, Philipina, status perkawinan tidak diketahui.
Saya mencoba langkah berikutnya. View webcam. Ditolak. Lalu sebaris kalimat muncul.
“Maaf. Aku tidak suka mempertontonkan diriku. Hanya ingin mengamati orang-orang di sini,” katanya ketika itu.
Begitulah saya mengenalnya – seorang geologis yang setiap dua minggu dia menghabiskan waktunya di sebuah hotel, di sebuah kota, di Amerika dan di Manila dua minggu berikutnya. Ia bekerja di sebuah lembaga riset internasional yang banyak membangun kontrak dengan perusahaan-perusahaan minyak dunia.
Chelline selalu berada dalam posisi stealth mode. Entah apa alasannya untuk ikut tenggelam bersama saya dan banyak pria lain yang seperti tidak ingin melewatkan kesempatan untuk masturbasi di depan monitor komputer mereka.
Ia mengaku bukan seorang lesbian, bukan juga seorang biseks. Mungkin hanya seorang gila lain yang menganggap Matrix bukan sekedar film rekaan Andy Wachowsky. Atau mungkin ia hanya seorang perempuan asing yang ingin melihat tubuh pria telanjang tanpa harus pergi ke tempat-tempat seperti Casa Rosso di OZ Achterburgwal – Amsterdam. (Live show setiap malam, dengan partisipasi audiens – sebuah kalimat di brosur).

===================
“Saling ketertarikan yang paling menggetarkan justru terjadi di antara lawan jenis yang belum pernah bertemu sebelumnya.”
– Andy Warhol –
===================

Ini memang tempat dimana perkenalan bisa berlangsung dengan cara yang amat sederhana. Obrolan kami, di luar keasyikan kami menikmati tarian telanjang di monitor, lalu melompat-lompat dari keajaiban orang-orang yang berlalu-lalang di lintasan cepat pertukaran data ini sampai ke pekerjaannya mengamati pergeseran angin, badai, tornado, dan gempa.
“Badai Ivan sedang mengganas di sini,” katanya suatu kali.
Dan tempat tidur saya sudah lama tidak disinggahi badai, pikir saya.
Hubungan digital kami pelan-pelan sampai pada tahap dimana kami merasakan kehilangan sepenggal momen penting dalam hidup bila satu malam saja lewat tanpa percakapan intens di antara kami. Begitu banyak kecocokan, begitu banyak ketertarikan. Sebelas malam kami saling menyelami, mengungkap kerinduan, bicara tentang masa depan, dan melepas libido…….sepotong cinta lewat monitor. Pertemuan kelamin di dunia yang benar-benar antah-berantah.
Satu-satunya masalah adalah hubungan ini nampaknya akan tetap tinggal sebagai keping-keping kode yang mengawang di langit dini hari. Tidak ada cukup kekuatan untuk menyeretnya keluar dari jaring-jaring elektromagnetik.

===================
“Saya tahu setiap orang akan bilang mereka mencari wanita dengan citarasa humor yang baik, tetapi saya lebih mempertimbangkan ukuran payudaranya.”
– Tokoh Charlie dalam So I Married an Axe Murderer –
===================

Saya menanyakan peluang saya dan Chelline kepada Lia dan Andri. Dua kenalan saya yang – saya tahu belakangan – bertaut melalui dimensi digital yang sama. (Dan saya juga mengenal mereka melalui internet – sungguh absurd).
“Sebagian orang dapat mengungkapkan perasaannya secara ekspresif, sebagian lagi tidak. Kenyataannya, lebih mudah menyapa seseorang yang asing di instant messenger daripada ketika berhadapan muka,” kata Andri.
“Aku pernah bertemu dengan tiga orang yang melakukan hal yang sama dan berhasil,” kata Lia, mantan wartawan.
Tetapi seks tanpa persentuhan kulit? Cinta tanpa ….ehhrrr….?
Rasanya itu persoalan yang terlalu besar untuk dua orang asing yang bertemu di jagat maya. Apa ini bukan sebuah jebakan mikrokosmos, dunia matriks, campuran antara ketertarikan pada misteri yang tersembunyi di relung-relung hubungan digital, perasaan terasing manusia modern, dan pencarian kedekatan personal yang semakin langka belakangan ini?

===================
“Aku selalu mengatakan hal yang sebenarnya. Bahkan ketika aku berbohong.”
– Tokoh Tony Montana dalam Scarface –
===================

Malam ketujuhbelas. Di luar kelam. Awan menggantung malas, pelan-pelan beringsut dari muka bulan digantikan gumpalan yang lain.
Dan hidup adalah pilihan. Meskipun seks adalah hal yang bisa Anda lakukan tanpa peduli apakah Anda seorang ahli ataukah pemula. Faktanya, seks bukan semata masalah keahlian, melainkan interaksi. Kualitas di dalamnya tergantung dengan siapa Anda melakukannya. Lalu seks seperti apa yang Anda harapkan dari seseorang yang baru tiga bulan Anda kenal melalui internet?
Sudah tujuhbelas malam lewat. Segala sesuatunya masih sama. Tidak ada yang bergeming dari titik pijaknya semula. Perjalanan waktu seperti tidak memiliki makna di sini. Semuanya membeku bersama kebebalan jaman.
Dan kehidupan di luar sana terus beranjak cepat.
“Mungkin sebaiknya kita menyudahinya di sini,” pesan Chelline muncul di layar monitor, mengambang di tengah kekelaman yang memadat.
Saya kira Chelline benar. Sudah waktunya untuk mengakhiri semuanya. Toh, kami tidak akan kemana-mana. Ini mungkin berhasil untuk beberapa orang, tetapi saya menginginkan lebih. (Jarak masih tetap masalah yang tidak gampang diretas – bahkan di jaman mobilisasi lintas benua seperti ini.) Mungkin juga masing-masing kami akan bertemu – dan jatuh cinta – pada orang asing lain besok. Terlalu banyak yang harus dipertahankan sekaligus dipertanyakan.
Saya kira sebaiknya sekarang saya harus mulai khawatir dengan tagihan telepon saya.

===================
“Waktu tidak punya arti di sini.”
– The Matrix Warrior, Jake Horsley –
===================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: