Menguji Cinta (Men’s Health, Februari 2005)


Dalam cinta, terkadang Anda tidak perlu menguji apa-apa.

Pria dan wanita tumbuh bersama dongeng yang sama – selama berkaitan dengan cinta. Wanita menunggu seorang pangeran ganteng berkuda putih untuk menyelamatkan dirinya dari menara yang dijaga naga bernafas api. Dan pria-pria yang merasa hebat itu selalu memandang dirinya sebagai pangeran berjubah besi yang tidak terkalahkan.
Masalahnya, ada banyak putri cantik di menara yang perlu diselamatkan. Dan ini membuat saya merasa menjadi pengangguran yang tidak berguna setelah satu operasi penyelamatan – berkode Operasi Penyelamatan Noni – sementara ada banyak putri lain yang menunggu untuk diselamatkan.
Sebuah akhir yang membosankan untuk sebuah dongeng. Dan akhir dongeng itu adalah masa-masa dimana hubungan cinta mulai membeku, terjebak dalam kebuntuan rutinitas asmara yang itu-itu saja.
Itulah yang tengah terjadi di antara saya dan Noni saat ini. Rasanya kami sudah makan malam di semua tempat romantis. Bercinta di setiap sudut apartemennya (termasuk di balkon yang menghadap ke jalan protokol) dan semua hotel di Jakarta. Bertengkar untuk hal-hal yang melulu sama.
Pendeknya, cinta ini (sedang) kehilangan api.

======================
“Cinta itu bukan plester penutup luka.”
– Hugh Elliot –
======================

Saya mengeluhkan masalah ini kepada Henny, 25 tahun, seorang kenalan saya yang bekerja di sebuah perusahaan distribusi.
“Mungkin kalian butuh waktu untuk diri kalian masing-masing,” katanya, “Kenapa tidak mencoba melewatkan dua atau tiga minggu untuk melakukan kegiatan secara terpisah – lakukan apa saja yang kalian sukai untuk diri kalian masing-masing. Mungkin setelah itu kalian akan dapat menemukan kembali gelombang listrik di dalam asmara kalian – semacam penyegaran ingatan.”
“Semacam temporary break-up, maksudmu?” tanya saya balik.
“Tidak tepat seperti itu. Katakanlah kalian tetap bisa saling menelpon, meskipun mengurangi – atau bahkan menghilangkan – frekuensi pertemuan kalian dalam dua-tiga minggu tersebut,” katanya. “Sementara itu, cobalah kamu sendirian melakukan hal yang benar-benar berbeda daripada yang biasa kalian lakukan – katakanlah sebuah perjalanan yang penuh petualangan.”
Tetapi saya kelihatannya lebih memilih mengartikan usul tersebut melebihi apa yang dimaksud Henny. Temporary break up – kelihatannya bukan ide yang terlalu buruk. Saya mulai membayangkan bagaimana pengaturannya: saya dan Noni tetap berada dalam satu komitmen yang serius, tetapi untuk sementara harus saling menjaga jarak, masing-masing memiliki kesempatan untuk bertemu dengan orang baru dan menilai kembali semuanya.

======================
“Apakah Anda menang atau kalah nantinya, persoalannya apakah Anda menang sebagai seorang pria?”
– Tony D’Amato, Any Given Sunday –
======================

Tidak sepenuhnya sejalan dengan saran Henny, saya menemukan pembenaran dalam falsafah Plato: Hidup yang tidak pernah diperiksa adalah kesia-siaan. Dan cinta adalah dimensi hidup yang harus terus-menerus diuji agar mengkilap seperti kain yang baru keluar dari mesin cuci. Toh, itu baik untuk kami berdua. Bukankah cinta yang tahan segala macam ujian juga dambaan bagi perempuan seperti Noni? (Sementara kelelakian saya yang curang mencoba mencari kemungkinan yang paling menguntungkan dari pengaturan ini. Sebuah kebebasan yang tidak dihantui oleh tanggungjawab atas sebuah komitmen.)
Saya lalu menawarkan kesepakatan ini kepada Noni setelah terlebih dahulu mengatur agar kami bisa berlibur bersama. (Kondisi yang dituntut Noni bila kami hendak membicarakan persoalan-persoalan berat dalam hubungan kami).
“Untuk berapa lama?” tanya Noni. Sumringah wajah yang baru saja melalui permainan cinta yang menggebu-gebu di tempat tidur itu hilang seperti awan tipis disapu angin semilir.
Perempuan yang sudah berhubungan dengan saya selama bertahun-tahun ini membalikkan badannya di atas tempat tidur, menopang dirinya dengan bantal kuning yang kontras dengan seprai putih dan lingerie merah jambunya. Rambutnya yang kini bercat pirang mengurai seakan siap menjirat leher pria mana saja yang berada di dekatnya.
“Katakanlah enam bulan,” jawab saya dari bangku di seberang tempat tidur, sambil membenahi posisi duduk dan menarik karet celana boxer saya lebih ke atas lagi, “bila kita bisa lolos dari ujian ini berarti memang kita sudah ditakdirkan untuk berjodoh.”
“Tidak ada kontak sama sekali di antara kita selama masa itu? SMS, telpon, email, atau apapun?” tanyanya lagi.
“Memikirkan hal itu pun sebaiknya jangan,” tandas saya berusaha mengabaikan kelemahan feminin yang menggantung di sudut matanya.

======================
“Hanya jika kehilangan segalanya barulah kamu bisa bebas untuk melakukan apapun.”
– Tyler Durden dalam Fight Club –
======================

Tanpa bisa menghindar saya harus menceritakan apa yang terjadi di antara Noni dan saya kepada Roni, teman baik saya yang lain, seorang suami dari satu istri dan ayah dari satu anak -, ketika saya datang tanpa Noni dalam acara makan malam kecil untuk perayaan ulangtahun perkawinannya yang kelima.
“Itu benar-benar pengaturan yang bodoh. Kamu tidak sungguh-sungguh dengan kesepakatan seperti itu, kan?” kata Roni.
Rentetan pertanyaan berikutnya menggebrak dengan kekasaran yang tidak mengenal kesopanan. Apakah saya bisa menerima bahwa Noni juga punya hak yang sama dengan saya dalam pengaturan ini? Siapa pula yang bisa menjamin bahwa saya tidak akan kehilangan wilayah pribadi di dalam kehidupan Noni bila saya memutuskan untuk berada di luar lingkaran kehidupannya sementara waktu? Bagaimana kalau ada seorang pria yang cukup licik menyelinap di tengah kekacauan ini dan menjarah tempat saya di sana? Tidak ada seorang pun lelaki yang bisa menerima kemungkinan seperti itu.
“Tentu saja aku tidak sebodoh itu, kawan,” jawab saya tanpa keyakinan.

======================
“Aku akan membuat penawaran yang tidak akan dapat dia tolak.”
– Michael Corleone, The Godfather –
======================

Percakapan dengan Roni belakangan menjadi salah satu percakapan yang paling saya sesali. Karena telah membuat saya berpikir lain dan tiba-tiba saja membuat saya merasa kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup saya.
Tetapi apa yang harus saya lakukan? Menelpon Noni dan membatalkan pengaturan yang saya tawarkan seminggu lalu? Menjilat kembali ludah yang sudah bercampur dengan debu tanah?
Harga diri saya terlalu besar. Jadi saya memutuskan untuk menunggu, membiarkan semuanya berjalan sesuai kesepakatan, dan menghabiskan sisa akhir pekan saya dengan menonton DVD. Mungkin, -bila beruntung-, saya akan benar-benar menikmati kebebasan ini sekaligus tetap memiliki Noni enam bulan kemudian.
“Mungkin cinta bukan hal yang membutuhkan usaha keras,” kata Renee Zelweger dalam film Jerry McGuire di layar televisi seperti menyindir ketololan saya.

======================
“Pria pintar selalu benar, bahkan ketika salah – ia selalu benar.”
– Lefty dalam Donnie Brasco –
======================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: