Main Api (Men’s Health, Maret 2005)


Bila Anda menebar angin, bersiaplah menuai badai.

Saya kangen Noni. Saya tidak menerima kabar apapun darinya sejak pengaturan temporary break up sebulan lalu.
Dalam satu hal, kehidupan saya tanpa Noni terasa tenteram tanpa gangguan-gangguan kecil dari sisi wanitanya yang lemah. Serbuan pesan singkat menanyakan hal-hal yang tidak perlu ketika saya berada di tengah rapat penting. (Ia seperti selalu tahu saat-saat yang tepat untuk membuat saya jengkel). Ajakan makan siang meskipun tahu bahwa saya sedang dikepung deadline yang mematikan. (Benar-benar menyebalkan!). Atau rengekan di tengah malam karena ia merasa mendengar suara mencurigakan di depan pintu apartemennya. (Saya tahu bahwa itu hanya trik meminta perhatian saya).
Tetapi setelah sekian lama, dengan alasan yang tidak bisa dimengerti, hari-hari belakangan ini saya justru merindukan gangguan-gangguan tersebut. Dan ini mulai mengganggu dan menggoda saya untuk mencari solusi secara acak.

=========================
”Jika benar-benar ingin mencari kebenaran, Anda setidaknya harus pernah meragukan sesuatu dalam hidup, bahkan sebisa mungkin, ragukan segalanya.”
– Rene Descartes, Discours de la Méthode –
=========================

Siang yang gelisah di meja kerja saya. Membuka-buka file, lalu menutupnya kembali, tanpa satu baris kalimatpun yang muncul di layar monitor. Jari-jari saya seperti malas mengetuk papan vokal dan konsonan. Apa yang terjadi antara saya dengan Noni adalah cara yang bodoh untuk kehilangan seseorang yang bisa jadi menentukan sisa hidup Anda. Di satu masa Anda mendekap orang tersebut, sebuah keping kehidupan yang paling berharga, menjadikannya sebagai pusat dunia Anda, dan kemudian – tanpa peringatan – Anda kehilangan semuanya.
Sambil membuang punggung saya ke sandaran kursi, tangan menyilang di belakang kepala, pandangan saya jatuh ke sepotong paras yang menyembul dari balik monitor – dua meja di seberang saya. Silvia, 34A/47/165, dan – kabarnya – jatuh hati pada saya. Sadar ada sepasang mata liar sedang menjilati wajahnya, ia mengangkat muka. Kemudian tersipu.
”Apaan sih?” bisiknya dengan pipi merona merah.
Kelihatannya sebuah babak baru siap dimulai.

=========================
“Saya yakin ada 15.747.724.136.275.002.577.605.653.961.181.555.468.044. 717.914.527.116.709.366.231.425.076.185.631.031.296 proton di alam semesta plus elektron sejumlah yang sama.”
– Sir Arthur Eddington, The Philosophy of Physical Science –
=========================

Saya hanya menyeringai. Dengan jarak sekitar tiga meter di antara saya dan dia, tidak mungkin juga bisa merayunya tanpa menimbulkan keributan di tengah suasana kerja yang sedang serius diteror deadline. Maka saya meraih handphone dan mulai mengetik di sana.
”Bagaimana kalau kita makan malam pulang kerja nanti, manis?” tulis saya di sms.
Rayuan gombal tersebut melayang bersama kode-kode digital. Sempat saya ragu apakah ini sebuah tindakan yang tepat. (Bagaimanapun juga, bermain api di tempat kerja bukan ide yang cukup bagus). Tetapi pesan itu tidak bisa ditarik lagi. Jadi sekarang saya hanya bisa menunggu.

=========================
“Melihat ke belakang, saya punya penyesalan yang mendalam karena seringkali tidak mengungkap perasaan saya ketika jatuh cinta.”
– David Grayson –
=========================

Bunyi ”beep” samar dari depan saya. Hening. Lima menit lewat tanpa jawaban. Kemudian saya beranjak dari kursi dan pergi keluar kantor untuk mencari secangkir kopi panas-kental-hitam-manis.
Baru saja saya mulai menyeruput kopi, handphone saya bergetar menimbulkan rasa geli di dalam kantong celana. Sebuah sms dari si manis. Isinya sebuah penolakan. Ia menganggap saya seorang donjuan – kesimpulan yang ditariknya sepihak dari cerita orang tentang kencan-kencan saya. (Kabar buruk berkeliling dunia dua kali lebih cepat daripada suara).
”Apa yang mudah kamu dapat, pasti akan mudah pula kamu lepas. Jadi tetaplah berusaha,” katanya.
Ah, sebuah jebakan lagi. Ia menolak, tetapi meminta saya untuk tetap berusaha menyakinkannya tentang keseriusan saya. Ia menuntut sebuah komitmen. Dan saya rasa ketertarikan saya pada dia tidak dalam pengertian sebagaimana yang dia minta.

=========================
“Kehidupan adalah sekumpulan probabilitas.”
– Walter Bagehot, The World of Mathematics –
=========================

Kencan memiliki anatomi sebuah jembatan kecil yang harus dititih dengan hati-hati, penuh ranjau, dan terkadang Anda tidak boleh melakukan kesalahan.
”Apakah kamu serius dengan dia?” tanya Rudi, teman saya yang berkantor di belakang gedung kantor saya.
Saya tahu maksud pertanyaannya. Antara lelaki dan perempuan memang ada sebuah garis tipis yang memisahkan antara pertemanan dan asmara. Tetapi, selama itu berlangsung di ruang sempit dimana Anda berdua beraktivitas 8 jam sehari-5 hari seminggu, garis tipis itu sangat tegas. Bila Anda hanya menginginkan pertemanan, berlakulah sebagai teman. Artinya tidak ada tangan jahil yang menyelinap ke balik rok mininya. Jika Anda memberikan satu signal yang membingungkan, ia kemungkinan akan jatuh ke pelukan Anda dan selanjutnya – ketika selingan itu mulai membosankan – menjadi musuh yang paling mengerikan.
Saya mengerti itu. Tetapi saya benar-benar suka mendengar tawanya yang meningkatkan angka di termostat libido saya – walaupun benar juga bahwa ketertarikan saya hanya itu.
”Kamu benar-benar suka bermain api,” gerutu Rudi.
Rasanya Rudi benar. Dan saya sudah memiliki cukup banyak akhir pekan yang menyulitkan sejak berpisah dengan Noni. Saya tidak punya banyak waktu untuk hal-hal seperti ini. Jadi sebaiknya saya biarkan si manis berada dalam jarak yang aman.

=========================
”Satu pikiran berbahagia…dan kamu akan terbang.”
– Tinker Bell, Peter Pan –
=========================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: