Persimpangan Hidup (Men’s Health, April 2005)


Jalan manapun yang Anda ambil, selalu ada lubang di setiap persimpangan.

Harga BBM naik, Malaysia berniat menyerobot Ambalat. Di jalanan tuntutan penurunan harga saling tindih dengan teriakan “Ganyang Malaysia!”. Lagu Indonesia Raya berkumandang di situs klpages. Butir-butir Pancasila dan foto Dian Sastro dipasang dengan paksa di situs pejsultanperak. (Demam nasionalisme!)
Dalam dunia kecil saya, Noni sedang berada di suatu tempat di Macao, melakukan riset pasar internasional. Sementara saya masih berkutat di depan novel yang tidak kunjung rampung, minggu yang penuh dengan kompetisi ketat dan aksi hebat meremukkan kepongahan beberapa orang yang sok tahu, plus dua akhir pekan panjang yang akan datang berurutan tanpa rencana apapun.
Benar-benar kehidupan yang riuh!
Lalu salah satu sosok dari masa lalu muncul begitu saja dari balik punggung saya seperti hantu.

======================
“Dokumentasi itu seperti seks. Jika bagus maka akan sangat bagus; dan ketika buruk, yah, tetap lebih baik daripada tidak ada sama sekali.”
– Dick Brandon –
======================

Tanpa sebuah rencana saya berpapasan dengan Lisa (baca: Cinta Hitam Putih, Men’s Health no. 9/IV-September 2004) di sebuah pusat perbelanjaan di selatan kota. Ia masih dalam postur yang sempuran – pinggul dan payudara paling menggairahkan yang pernah saya kenal.
Pertemuan saya terakhir dengannya adalah akhir tahun lalu – enam bulan setelah kami memutuskan untuk berpisah. Itu adalah di hari pernikahannya dengan seorang pria dari klan yang dekat dengan keluarganya sejak beberapa generasi. (Membosankan. Ini sudah terdengar seperti sebuah lagu cengeng.)
Dan sekarang, di sebuah gerai kopi, Lisa duduk di depan saya, berupaya keras menyembunyikan matanya yang berkabut dan berbicara lirih tentang segala macam kesusahannya. Tentang pria di tempat tidurnya yang tidak sepenuhnya ia cintai, bahwa mereka hanya bercinta satu kali sejak hari pernikahan, bahwa ikatan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. (Kenapa pula saya harus mendengarkan semua kemalangannya seakan-akan saya punya tanggungjawab di situ?)
”Aku tidak ingin pulang,” katanya di tengah sedu-sedan yang membuat saya sulit mendengar ucapannya dengan utuh.
Tawaran yang menggiurkan. Tetap itu harusnya ia ucapkan dulu – ketika semuanya belum terlanjur.
”Itu bukan tindakan yang benar,” tukas saya.

======================
“Sebagian pria dilahirkan sebagai orang hebat, sebagian lagi menjadi orang besar dengan bekerja keras, sisanya – bagian terbanyak – membayar tenaga PR.”
– Kakek saya –
======================

Harus ada dua orang untuk menghidupi cinta. Namun demikian, ada pula hal-hal tertentu yang harus Anda hadapi sendirian – sementara yang lain menunggu Anda di persimpangan. Bila Anda akhirnya muncul maka Anda berdua bisa melanjutkan perjalanan. Bila tidak, ada jalan menikung yang memisahkan – dengan atau tanpa penyesalan.
“Kita tidak pernah tahu apakah kita akan hidup-bahagia-selamanya atau berakhir di neraka. Tetapi pilihan harus ditentukan – dimanapun nanti kita berakhir,” kata saya.
Faktanya, dulu Lisa sudah mengambil pilihan itu. Begitu juga saya. Dan tidak satupun di antara kami yang bisa menggulung kembali benang waktu itu. Apa yang disesali oleh Lisa adalah sesuatu yang di luar tangggungjawab saya.
Bila Lisa benar-benar ingin memberontak terhadap rumah dan keluarganya, seharusnya itu dilakukan ketika kesempatan masih ada. Seseorang sudah terlanjur masuk ke dalam kehidupan Lisa sekarang. Terlalu banyak hambatan. Terlalu banyak kesulitan. Dan saya kira itu kesusahan yang terlalu berlebihan.

======================
“Perkawinan adalah cerita roman dimana para pahlawannya mati di babak awal.”
– Anonim –
======================

Sejarah selalu berulang. Sepertinya ada setan di dalam kehidupan setiap orang yang selalu mencari jalan untuk menguasai kembali hidup Anda. (Saya tidak mengerti mengapa selalu bertaut dengan Lisa setiap kali hubungan saya dengan Noni berada di titik paling rendah.)
Bayangan Lisa dan sisa percakapan tadi masih terus menghantui sisa hari saya di sebuah lounge bersama sebotol Chianti sambil mendengarkan kesedihan lain dari mulut seorang wanita yang pernah berpose seksi untuk artikel ini.
Saya sudah hampir sampai pada kesimpulan bahwa ini bukan hari yang terlalu buruk (setiap pria tahu bahwa ada jalan yang sangat mudah untuk masuk ke dalam hati seorang perempuan yang sedang rapuh.) Kalau saja perempuan itu tidak mulai bercerita panjang-lebar tentang kisah cintanya yang selalu kandas, tentang pria-pria yang mengganggu hidupnya, bujuk-rayu yang palsu, dan kebiasaannya jatuh cinta pada pria asing. Saya tahu bahwa malam ini tidak akan beranjak lebih jauh dari sini. (Jadi buat apa bersusah-susah menghiburnya?)
Di perjalanan pulang, sejuta pertanyaan merajam kepala saya dengan kejam. Apakah hubungan saya dengan Noni juga akan bertabrakan lagi dengan hantu masa silam bila dua bulan nanti kami berdua sampai pada keputusan yang membawa kami pada cabang jalan hidup yang tidak diinginkan?

======================
“Waktu adalah guru terbaik, tetapi sayangnya ia membunuh semua muridnya.”
– Hector Berlioz –
======================

Terkutuklah para penulis roman dan pemujaan terhadap cinta yang melambung ke langit. (Maaf, tuan H.C. Andersen. Faktanya, saya tidak pernah menyukai Anda.) Saya lebih percaya pada cinta dalam arti yang lebih nyata – walaupun terkadang membuat remuk, setidaknya cukup manusiawi untuk digumuli di tempat tidur – daripada roman yang terlalu tinggi untuk diraih manusia normal.
Telepon genggam saya menciptakan suara dengung di atas meja. Pesan singkat dari Noni.
“Hai, saying. Aku sedang berada di Cause Way Bay sekarang. Big sale! Kowloon benar-benar surga belanja. Aku belikan kamu tiga buah t-shirt Nautica.”
Pulang dari perjalanan mengelilingi hampir separuh dunia hanya membawa segunung belanjaan yang bisa diperoleh di Jakarta? Mungkin saya salah. Mungkin cinta benar-benar absurd seperti dongeng pengantar tidur lainnya.

======================
“Gravitasi tidak berlaku untuk mereka yang sedang jatuh cinta.”
– Albert Einstein –
======================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: