Pria Tak Pernah Salah (Men’s Health, Mei 2005)


Ini saatnya untuk melakukan segala sesuatunya dengan cara saya!

Jalanan lengang. (Pukul 1 dini hari). Saya baru saja ditendang keluar dari apartemen Amanda, meninggalkan debaman pintu yang dibanting dengan kasar di belakang saya.
Supir taksi di sebelah saya mengemudikan taksi dengan kecepatan seorang setan jalanan. Saya melirik untuk memastikan dia duduk di belakang kemudi dengan mata terbuka. (Malam ini saya sudah mendapatkan cukup banyak masalah tanpa harus mempercayakan jiwa saya pada seorang setan jalanan yang mengantuk).
Di sebuah persimpangan – di ruas jalan Casablanca – barikade menghadang. Sepasukan polisi berdiri di tengah jalan memberikan isyarat berhenti kepada kendaraan yang lewat. Sebagian yang lain menggeledah pria dan mobil-mobil mereka. Razia orang-orang malam!
Selepas penggeledahan, setan jalanan di samping saya kembali menginjak pedal gas dalam-dalam – bahkan sebelum saya selesai mengaitkan sabuk pengaman. Entah ada masalah apa antara pria ini dengan kecepatan.

=======================
“Setiap wanita akan berkembang menjadi seperti ibu mereka. Itu adalah tragedi mereka.”
– Oscar Wilde –
=======================

Enam jam sebelumnya. Saya berada di pembaringan bersama Amanda, 28 tahun, 34B/169/52, seorang konsultan pemasaran – perempuan yang memperkenalkan saya dengan sebotol Chateau Trianon Saint – Emilion Grand Cru, yang mendengar harganya saja sudah membuat saya mabuk.
Matanya terpejam membuat efek bulu mata yang runcing indah, kemudian menurun dalam lengkungan drastis di pangkal hidung yang bangir, kemudian mencuat lagi dengan indah pada bentuk bibirnya yang menggairahkan. Dadanya yang telanjang naik-turun dengan lembut seperti hendak menguapkan kristal-kristal keringat di pucuknya.
”Sayang, bagaimana kalau kita pergi ke Pelabuhan Ratu akhir pekan nanti. Aku ingin melihat matahari tenggelam,” katanya bersama sensasi orgasmik yang menguap ke langit-langit kamar.
”Bukannya kamu bilang kamu akan pergi ke Surabaya bersama keluargamu?” kata saya, ”Dan aku sudah merencanakan untuk pergi ke Gunung Halimun pada akhir pekan itu.” Saya tidak mengatakan bahwa saya akan pergi bersama seorang perempuan lain dalam perjalanan itu.
”Ya, tapi aku berubah pikiran. Rasanya lebih asyik menghabiskan waktu bersamamu. Apa kamu kamu tidak bisa mengubah rencanamu?” tanyanya lagi.
Sebenarnya mudah saja untuk membatalkan rencana petualangan saya. Tetapi saya sudah terlanjur punya janji dengan perempuan lain itu. Dan itu membuatnya jadi lebih sulit. Lagipula saya kira saya membutuhkan perjalanan tersebut – baik untuk testosteron saya.
Responnya sama sekali tidak terduga. Entah setan dari neraka mana yang merasuki Amanda. Ia mulai meracau tentang hal-hal yang tidak berkaitan. Semakin lama dalam nada yang semakin tinggi dan kata-kata yang semakin tajam begitu menerima penolakan saya untuk mengubah rencana. Setiap jawaban saya ditangkis dengan masalah yang semakin melebar. Ia mulai bicara tentang waktu yang sangat sedikit saya habiskan bersama dia, tentang bagaimana saya tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang penting (ia menuntut diperkenalkan kepada setiap orang yang ada di buku alamat saya), tentang saya yang lebih mementingkan petualangan, maskulinitas, dan pekerjaan saya daripada dirinya (apa saya harus jadi pengangguran?).
Siapa pula yang salah bila ia mengubah rencananya? Mengapa saya harus mengubah rencana saya hanya karena ia secara mendadak mengubah rencananya.

=======================
“Secara teoritis, sebaiknya seorang wanita menikah dengan pria yang lebih tua karena mereka lebih dewasa. Persoalannya, sebuah teori baru mengatakan bahwa pria tidak pernah menjadi dewasa.”
— Anonim –
=======================

Sejak perkenalan kami di sebuah acara wine tasting enam bulan lalu, saya menikmati benar waktu saya bersama Amanda di tempat tidur, di dapur apartemennya, ataupun ketika kami bercerita dan tertawa di sebuah cofee shop atau wine lounge. Semuanya benar-benar menyenangkan. (Seks-nya juga hebat). Sampai sisi kewanitaannya mulai histeris dan – di tingkat yang parah – menginvasi teritori kelelakian saya.
Barangkali saya tidak bisa menyalahkan Amanda – meskipun saya yakin sekali bahwa saya juga tidak bersalah. (Toh, perempuan lain itu bukan siapa-siapa). Saya katakan kepadanya bahwa mungkin ia memang terlalu menuntut (dan benar-benar menyebalkan!), tetapi itu bukan salahnya. Mungkin memang seperti itulah adanya dia.
Tetapi, nyatanya, apapun yang saya katakan dalam keadaan seperti itu malah membuat Amanda menjadi semakin histeris dan menimbulkan kegaduhan dengan pintu apartemennya sendiri. Amanda sepertinya punya cara menumpahkan kekesalan yang sama gilanya dengan caranya bermabuk-mabukan bersama botol-botol grand cru berharga jutaan rupiah.

=======================
“Saya tidak akan hidup selamanya, karena kita tidak mungkin hidup selamanya, karena jika kita bisa hidup selamanya, maka kita akan hidup selamanya, tetapi kita tidak bisa hidup selamanya, dengan demikian saya tidak mungkin hidup selamanya.”
— Miss Alabama, di kontes pemilihan Miss Universe 1994, menjawab pertanyaan: “Jika Anda bisa hidup selamanya, maukah Anda dan mengapa?” –
=======================

Jiwa saya yang gelisah bangun dengan limbung. Mandi. Makan. Lalu tertawa membaca lembar-lembar cerita tentang seorang pria bernama Dick (baca: penis). Sebuah cerita yang menarik tentang penis.
Saya kira penis adalah organ yang sangat emosional. Ia adalah barometer ego Anda. Pria pasti tahu bagaimana sulitnya mengabaikan penis. Anda bisa mengabaikan liver Anda dengan mudah, juga pankreas, atau kolorectal. Organ-organ itu bekerja secara diam-diam, dan Anda hanya menyadari kehadiran mereka bila organ-organ itu mengalami kerusakan fungsi.
Tidak demikian halnya dengan penis. Ia selalu memastikan bahwa Anda sadar dia berada di bawah sana. Bergeser, mengembang ketika melihat belahan dada yang rendah seorang perempuan seksi yang duduk di hadapan Anda ketika berada di ruang tunggu, menciut kembali ketika perempuan itu dipanggil masuk. Ia harus selalu disentuh, digeser, dibenahi posisinya (terlalu cepat menarik ritsleiting bisa berakibat fatal), diarahkan (dalam arti yang sebenarnya), dan disembunyikan baik-baik di balik celana Anda (jangan lupa mencuci tangan Anda).
Dan perempuan selalu mengatakan bahwa itulah masalah kita – terlalu sibuk dengan penis (dan ego) kita. Yang mereka tidak pahami adalah kita – pria – tidak berfungsi tanpa keduanya.

=======================
“Kecepatan-intensitas-volume-power adalah mantra kehidupan pria modern.”
– Don’t Stand Too Close To A Naked Man, Tim Allen –
=======================

Beberapa jam kemudian, suara Amanda terdengar parau di telepon saya – kurang tidur dan banyak menangis.
”Maafkan aku sudah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan kemarin,” katanya, ”bagaimana kalau kita melupakannya dan mulai lagi dari awal lagi?”
Saya biarkan keheningan menggantung.
”Halo? Kamu masih di situ?” suara Amanda lagi.
”Yah, sorry, tidak apa-apa. Rasanya sekarang aku sedang butuh waktu dengan diriku sendiri. Bagaimana kalau lain hari kutelpon lagi?,” jawab saya tanpa tahu apakah saya akan menelponnya lagi atau menghilang begitu saja persis seperti ketika kabur dari apartemennya malam kemarin.
Berakhir di situ. Saya kira saya melakukan hal yang benar. Belum terlalu terlambat untuk menjemput perempuan yang ingin pergi bersama saya ke Gunung Halimun.

=======================
“Jika aku berjanji akan merindukanmu…..maukah kamu pergi?”
– Anonim –
=======================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: