Di Antara Dua Kencan (Men’s Health, Juni 2005)


Satu perempuan terlalu sedikit, dua perempuan terlalu banyak.

Musik berdentum-dentum. Beberapa kepala berayun mengikuti irama “Wild Thing” – demikian juga saya. Sampai seseorang dengan gegabah mengganggu irama itu dengan “Dancing Queen”. Free-flow tequila for ladies di lantai dua. Di lantai satu, saya dan sekelompok pria yang kurang kerjaan termangu-mangu menatap kegembiraan di lantai dua melalui layar-layar raksasa yang dialihkan ke commercial break setiap kali sampai di adegan gila tertentu. (Bagaimanapun juga, ide memasang garis demarkasi di antara pria dan wanita bukan hal yang pintar, kawan!).
Seorang pria (yang beruntung) berdiri rapat dengan seorang wanita. Sekilas saya melihat tangan pria itu menyelinap ke belakang dan meremas pantat si wanita dengan gerakan yang sangat intim. Sial. Kiki, 23 tahun, seorang konsultan desain interior yang saya kenal di sebuah milis dan kencan saya tiga minggu terakhir ini, sudah terlanjur berlari ke lantai dua untuk bersenang-senang – sebelum saya sempat meremas pantatnya).

=========================
“Kita tidak mungkin hidup selamanya, karena jika kita bisa hidup selamanya, maka kita akan hidup selamanya, tetapi kita tidak bisa hidup selamanya, jadi saya tidak mungkin hidup selamanya.”
— Miss Alabama, di kontes pemilihan Miss Universe 1994, menjawab pertanyaan: “Jika Anda bisa hidup selamanya, maukah Anda dan mengapa?” –
=========================

Kiki sibuk di depan cermin dengan tas riasnya. Mengeluarkan sebuah botol berbentuk aneh, mengelap mukanya dengan cairan yang tidak saya ketahui namanya, menutup botol, memasukkannya kembali ke dalam tas, dan mengeluarkan yang lain. Satu demi satu dengan gerakan yang menurut saya sangat lambat.
“Siap untuk sarapan?” tanya saya.
“Belum,” jawab Kiki, “Sepuluh menit lagi yah.”
Saya melihat jam tangan dengan gugup. Sudah jam 08.40. Sudah satu jam lebih dan Kiki belum juga selesai dengan ritual pagi harinya. Padahal kemarin Rani, kencan saya selain Kiki, (seorang perempuan yang sedang punya masalah berat dengan pacarnya – mereka hampir putus dan saya sudah berhasil melumat bibirnya) menelepon dan mengatakan akan mampir menjelang makan siang. (Ia bisa muncul setiap saat di depan pintu apartemen saya.)

=========================
“Kecepatan-intensitas-volume-power adalah mantra kehidupan pria modern.”
– Don’t Stand Too Close To A Naked Man, Tim Allen –
=========================

Sarapan yang sangat terlambat itu akhirnya selesai juga. (Menurut perkiraan saya!). Pukul 10.05, saya sudah bersiap-siap memanggil pelayan untuk meminta bill. Tetapi Kiki malah mengisi kembali cangkirnya dengan chinese tea. Cangkir kopi saya sudah penuh dengan gumpalan kertas tissue.
“Ya ampun, aku lupa,” kata saya dengan keterkejutan yang penuh pura-pura, melihat jam. “Aku harus menghadiri rapat penting jam 11.00 nanti. Gawat!”
“Rapat penting? Di akhir pekan seperti ini?”
Jelas sekali itu adalah alasan yang sulit sekali dipercaya oleh Kiki – bahkan siapapun.
Saya mengangguk – berusaha terlihat sepasti mungkin.
“Biasalah. Itu susahnya bila kamu punya profesi jurnalis,” kata saya.
“Kamu kan menulis untuk majalah bulanan. Apakah sampai sebegitunya?”
“Yah, kami sedang menerapkan sebuah sistem produksi baru. Jadi setiap bagian harus melakukan penyesuaian.” Saya tahu saya kedengaran semakin ngawur dan tidak masuk akal.

=========================
“Bila Anda tidak tertangkap artinya Anda tidak melanggar hukum.”
– Tulisan di sebuah T-Shirt –
=========================

Pukul 10.25, sebuah taksi membawa Kiki pergi bersama ketidakpercayaannya pada omongkosong saya. Saya bergegas kembali ke apartemen dan tergesa-gesa melakukan pemeriksaan. Kamar mandi: memindai segala macam produk non-maskulin, gumpalan tissue yang kusut dengan bekas lipstick. Bersih. Tempat tidur: lembaran rambut panjang di atas bantal, anting-anting. Beres. Dapur: gelas dengan bekas lipstick di bibirnya. Selesss …
Bel berbunyi.
Rani! Gawat! Sisa parfum Kiki di tempat tidur!
“Sebentar!” teriak saya panik. Saya membutuhkan sesuatu dengan aroma yang cukup menyengat. Saya berlari ke kamar mandi, meraih aftershave, dan menuangkan sebanyak mungkin ke tangan saya. Berlari kembali ke kamar tidur, memercikkan aftershave di tangan saya ke atas bantal dan seprai. Secepat kilat kembali ke depan pintu. Membuka pintu, sekilas mencium bibir perempuan yang sudah menunggu di belakang pintu itu, lalu menyeretnya masuk.
“Kok aku seperti masuk ke barbershop?” tanyanya heran ketika masuk ke dalam.
“Aku baru saja selesai bercukur,” jawab saya.

=========================
“Baiklah, kamu mengaku secara jujur atau kamu ingin bilang bahwa ini adalah kali yang pertama?”
-Tokoh Heidi dalam serial Old School –
=========================

Rani melepaskan sepatu dan menghempaskan pantatnya ke atas sofa. Sebuah penjepit rambut dengan gigi-gigi seperti taring hiu menyembul sedikit dari bawah bantal sofa. Saya lupa kalau saya sempat bergumul dengan Kiki di sofa semalam.
“Jalan-jalan yuk?” ajak saya sebelum Rani sempat menemukan hal-hal mencurigakan yang mungkin terlewat oleh aksi pembersihan saya. Seperti penjepit rambut itu!
“Tidak bisa. Aku hanya mampir sebentar. Hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu,” jawabnya.
Paling soal pacarnya yang brengsek itu, pikir saya.
Handphone saya berdering ribut di dalam saku celana. (Saya lupa menyetel deringnya ke mode getar). (Pasti Kiki!). Saya membiarkannya.
“Kamu tidak ingin menerima telepon itu?,” kata Rani ketika akhirnya saya merogoh kantong dan mematikan handphone.
“Ah, biarkan saja. Pasti bukan hal yang penting,” kata saya kepada Rani.
Lalu saya menanyakan kenapa ia hanya bisa sebentar saja bersama saya hari ini dan persoalan apa yang ingin ia bicarakan.
“Roy meminta saya untuk menemaninya pergi ke acara ulangtahun temannya nanti malam. Dia memang brengsek, tapi setelah kami bercakap-cakap dua hari lalu, aku rasa dia mungkin bisa berubah,” katanya.
Saya merebahkan punggung ke sofa, menjalin jari-jari di belakang kepala, dan menatap bibirnya yang masih saya ingat terasa sangat manis di bibir saya.
“Jadi kalian akan rujuk kembali?” tanya saya dengan nada yang malas.
“Kelihatannya begitu….aku juga tidak tahu pasti bagaimana kelanjutannya nanti,” jawab Rani.
“Oohhh,” gumam saya sambil memandang Rani dengan tatapan bosan. Seharusnya ia mengatakan hal itu sebelumnya di telepon, tanpa harus bertemu saya. Bukankah setiap pria normal pasti pernah menginginkan dua hubungan romantis sekaligus dalam sekali waktu?
Tiba-tiba saya sangat ingin Kiki kembali di depan saya.

=========================
“Bila tidak ada mobil patroli, berarti tidak ada batas kecepatan.”
– Peter Beckmann –
=========================

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: