Menguji Cinta – Bagian 1


SENJA turun diselingi hujan. Butir-butir air menerjang dinding kaca seperti hendak melumerkan dinding-dinding gedung yang berdiri angkuh tempat aku bersama Martin bertemu setelah sekian lama hanya bertukar kabar lewat pesan singkat dan email. Di bawah sana lalu-lintas mengular dalam antrian panjang yang seakan tak berujung. Tanganku menangkup bibir gelas berisi teh panas yang masih mengepul. Rasa hangat pelan-pelan mengalir dari telapak tangan namun tetap tak mampu mengusir tekanan dingin dari mesin pengatur udara yang semakin menggila didukung cuaca.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Martin?” tanyaku kepada lelaki yang duduk di depanku.
Lelaki itu membiarkan pertanyaanku menggantung tanpa jawab beberapa jenak sambil menatap entah apa di luar sana.

Sekian lama ia menghilang dari lingkaran pergaulan kami dimana aku biasa menemukan lelaki ini berada di tengah teman-temannya seronok dan ribut. Entah apa yang membuatnya bisa menjadi pusat perhatian di tengah orang-orang gila dari bagian redaksi dan artistik di kantor kami. Ia orang yang biasa saja. Tidak mengesankan sebagai pria metroseksual sebagaimana pria-pria lain di kantor kami. Tidak ada tanda sama sekali yang menunjukkan bahwa ia adalah salah satu penulis yang menentukan tren gaya hidup kaum urban Jakarta. Hal-hal yang dibicarakannya pun selalu terkait dengan topik-topik yang terlalu serius untuk orang-orang media yang bekerja di majalah gaya hidup. Ia lebih sering bicara tentang filsafat, sejarah, politik, dan sastra ketimbang bicara tentang fashion show ataupun pesta-pesta paling happening dan selibritas yang datang ke pesta itu.

Aku rasa Martin lebih cocok bekerja sebagai wartawan surat kabar daripada wartawan majalah gaya hidup. Ia terlalu tidak glamour, kata beberapa temanku. Kalaupun Martin hadir dalam pesta di sebuah klub, aku selalu melihatnya duduk sendiri di meja bar atau berdiri di salah satu sudut yang gelap seakan menjauh dari cahaya. Ia hanya diam dan sesekali menenggak Jack Daniels sambil mengamati tingkah laku orang di sekitarnya. Di salah satu sudut itulah suatu malam, empat tahun lalu, aku seperti didorong untuk masuk ke dalam lingkaran pengaruh Martin.

“Badai yang tidak juga reda. Sudah dua tahun. Dan tidak ada tanda-tanda akan mereda,” jawabnya tanpa melepaskan tatapan kosongnya pada cuaca di luar.

Tatapan matanya tidak segarang dulu. Pria yang dulu kukenal angkuh dan keras kepala ini sudah luluh-lantak pusat egonya. Yang tinggal adalah jiwa yang renta tepekur di tengah puing-puing kesombongan. Selama dua tahun menekuri kenangan yang mulai melepuh. Kesepian dan loyo. Lelaki ini patah hati.

“Aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Seharusnya aku menikahi Mei, bukan meninggalkannya.”

“Kenapa kamu meninggalkannya waktu itu?” tanyaku.

“Aku tidak dapat membedakan mana yang lebih penting, apakah kemarahanku ataukah Mei. Dan aku lebih memilih kemarahanku daripada membayangkan kemungkinan bahagia yang bisa kurengkuh bersama Mei bila hubungan kami berlanjut.” ***

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: