Membaca Bintang (Cinta Yang Tak Mau Mati – Sekuel 2)


14 Mei 2006. Dulu aku punya kawan pemusik underground. Entah di mana dia sekarang. Dia pernah mencipta sebuah lagu melankolis tentang takdir. Aku pernah mendengar ia menyanyikannya, lalu hanyut dalam pertanyaannya: Do you believe in fate, Malorry? Entah siapa perempuan bernama Mallory yang disebut-sebut dalam refrain lagunya itu. Bukan urusanku. Tetapi sebuah pertanyaan tentang takdir? Bisakah kamu melewatkannya tanpa peduli sama sekali? Percayakah kamu pada takdir, matahari? Percayakah kamu pada garis yang ditarik dari satu titik bintang ke titik bintang lain di sudut kubah langit sana?
Percayakah kamu pada takdir, matahari? Aku? Aku percaya pada dua pasang tangan yang sepakat melukis kubah langit dengan kisah cinta yang menolak mati.

Aku percaya pada garis nasib yang pernah menyatukan kita di bawah salah satu bintang di atassana. Aku percaya pada kehendak bebas manusia untuk memilih meneruskan garis yang sempat putus itu agar menjadi tarikan sempurna yang menghubungkan dua bintang. Dan kita akan meniti kembali garis itu dengan harga apapun.Akankah kamu datang untuk kembali mengangkat pena ini bersamaku, matahari?

Suaraku hilang bersama ketukan pada papan vocal dan konsonan. Entah kamu akan sempat mendengarnya. Semoga bintang-bintang itu akan membisikkannya di telingamu pada suatu malam yang benar-benar hening. Entah kapan.

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: