Menanti Pulang (Cinta Yang Tak Mau Mati – Sekuel 4)


6 Agustus 2006. 23.30. Wine Cellar, La Piazza. Duduk sendirian ditemani sebotol Rioja. Tinggal seperempat botol. Pikiran terus mengembara. Mencari-cari bayanganmu. Sedang apa kamu disana, kekasih? Bulan demi bulan, perjalanan panjang, tidak juga membuat kamu lekang dari hatiku.. Sedang apa kamu di sana? Pernahkah kamu merindukan aku? Pernahkah bayanganku melintas di dalam lamunanmu? Apa kabarmu, kekasih? Aku sangat kesepian dalam pengembaraanku. Kembali ke kota kita dan terdampar dalam kesepian yang lain.


Angin meniup bendera kecil warna-warni di
Thongla Pass – biru, putih, merah, hijau, dan kuning. 5.050 meter di atas permukaan laut doa-doa dipanjatkan kepada langit, bumi, udara, api, dan air. Sementara itu di depan Jokhang Temple, penduduk Lhasa melakukan Kora. Cahaya matahari senja yang redup merekam bayang-bayang kehidupan di tanah.

Ohh…cinta yang menolak mati. Kesepian mencari bayanganmu di antara bayangan manusia-manusia yang tidak kukenal. Ribuan kilometer dari Jakarta, kakiku gemetar menopang jiwaku yang sekarat. Sedang apa kamu di sana, matahari? Aku ingin pulang kepadamu. Apakah pintu hatimu masih tertutup rapat?

Aku hanyut bersama arus manusia. Menanti suaramu memanggilku pulang. ****

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: