Menguji Cinta – Bagian 2


KEDEKATANKU dengan Martin terjadi tanpa direncanakan ketika pada suatu malam, empat tahun lalu, alkohol menjatuhkan kepalaku ke pundaknya dan kemudian mempertemukan bibir kami dalam sebuah ciuman setengah mabuk. Keputus-asaan bahkan menggerakkan kakiku untuk berlari ke dalam pelukannya ketika ia berpamitan setelah mengantarku pulang. Ketika itu aku sudah memiliki Viktor dan Martin pun memiliki Mei dengan belitan persoalan asmara kami sendiri-sendiri. Aku dengan kekeras-kepalaan Viktor. Martin dengan sifat kepala batunya. Kami adalah dua manusia yang datang dari dua titik yang berlawanan dan bertemu di sebuah persimpangan yang sepi. Luka-luka yang kami alami ketika membangun cinta masing-masing menyatukan kami di dalam satu hubungan tak bernama.

(Joan Chen dalam film Lust Caution.)

Setelah itu aku dan Martin seperti tidak terpisahkan sampai-sampai membuat Viktor cemburu setengah mati. Aku sendiri tidak habis pikir bagaimana Martin bisa mengisi bagian dari diriku yang tidak bisa diisi oleh Viktor. Martin seperti memberikan perhatian yang tidak kudapatkan dari Viktor. Ia begitu peka dan bisa memahami aku. Bagaimana bisa Martin, yang dalam banyak sifatnya merupakan cerminan pribadi Viktor, bisa mengisi ruang-ruang yang kosong diabaikan oleh Viktor? Yang jelas, dengan Martin, aku bisa bercerita banyak hal tentang apa yang kuinginkan tetapi tidak dipenuhi oleh kehadiran Viktor. Begitu juga sebaliknya dengan Martin. Pelan-pelan, Martin mengisi kedambaanku akan cinta yang dianggap Viktor cuma sebagai kecengengan melankolis seorang perempuan. Apakah hatiku telah beralih kepada Martin? Aku tidak punya keberanian sejauh itu. Aku sendiri sadar bahwa hatiku tetap terarah kepada Viktor meskipun ketidakpeduliannya membuatku merasa tidak dapat bersaing dalam perebutan tempat dengan kelelakiannya. Dan Martin, kurasa pun seperti itu dengan Mei. Bahkan dalam pertengkaran mereka yang paling sengit sekali pun, aku melihat bagaimana cinta Martin kepada Mei begitu membara meskipun dalam suaranya yang sengit ketika bercerita kepadaku.

“Ahhh….aku tidak tahan lagi. Mei terlalu sensitif dan terlalu cerewet dengan banyak hal. Terlalu perempuan,” kata Martin kala itu.

Ah, bukankah aku juga seperti Mei dengan segala macam tuntutanku kepada Viktor? Dan, seperti yang telah terjadi berulang-ulang, Martin selalu kembali kepada Mei. Tidak peduli seberapa parah pun pertengkaran yang terjadi di antara mereka.

“Bagaimana kamu bisa bertahan dalam hubungan yang diisi oleh pertengkaran-pertengkaran yang semakin lama semakin sengit begitu?” tanyaku suatu kali.

“Aku akhirnya selalu mengalah,” jawab Martin.

Yang belakangan aku sadari, dan Martin pun menyadarinya setelah semuanya terlambat, adalah apa yang disebut mengalah oleh Martin sebenarnya adalah palsu. Ia memendam marah terhadap setiap langkah mundur yang diambilnya. Persoalan dia dan Mei tidak pernah diselesaikan tuntas. Kemarahan-kemarahan itu terus menumpuk seiring dengan semakin banyaknya Martin melakukan apa yang ia sebut mengalah itu. Dan gunung kemarahan tersebut akhirnya meledak dalam klimaks yang meluluh-lantakkan segalanya. ***

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: