Menguji Cinta – Bagian 3


BELAKANGAN aku mendengar bahwa rencana pernikahan Martin dan Mei hancur berantakan sepuluh hari sebelum tanggal pemberkatan. Setelah itu Martin seperti menghilang ditelan bumi. Ia seperti menghindari semua orang, mungkin seluruh dunia.

Sesekali kami masih berpapasan dan saling menanyakan kabar seperti biasa. Tetapi sampai setahun lebih aku tidak tahu persis apa yang terjadi pada rencana pernikahan Martin dan Mei. Satu-satunya jawaban samar tentang itu terlontar pada saat Martin, pada salah satu pertemuan selintas kami, memberikan peringatan kepadaku bahwa Viktor sedang melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukannya.

Hubunganku dengan Viktor memang sudah beberapa lama naik-turun tidak menentu. Sementara angka 30 pada kalender kelahiranku mulai menuntut untuk aku memikirkan kepastian dalam hubungan kami. Sementara Viktor sepertinya tidak mau memusingkan banyak hal dalam hidup. Bahkan ia menertawakan usulanku untuk membuka rekening tabungan atas nama kami berdua walaupun tujuanku sebenarnya hanya ingin mendorong dia lebih memperhatikan kondisi keuangannya yang seperti bursa efek di masa krisis. Aku rasa keinginanku itu adalah sesuatu yang tidak perlu ditertawakan bila ia sadar bahwa kekacauan hidupnya bisa terancam oleh kemapanan karierku yang tengah meningkat. Bukankah ego lelaki seringkali menjadi kerikil yang tidak sepele? Tapi bagi Viktor segala rencana tentang masa depan hubungan kami adalah hal yang terlalu memusingkan kepala. Ia bersikeras bahwa ia selalu berusaha mendapatkan yang terbaik untuk hubungan kami dan itu sudah cukup. Tapi itu hanya kata-kata. Bukankah setiap usaha memerlukan rencana? Aku tidak bisa mengerti mengapa Viktor seperti enggan membagi rencana itu denganku, kalau pun rencana itu ada. Bukankah kami nanti akan menjalaninya bersama? Betapa tidak pekanya lelaki.

Jakarta / Indonesia, JavaImage by flydime via Flickr

Hujan di luar mulai reda, Tinggal gerimis kecil. Namun kekacauan di jalan-jalan di bawah sana malah semakin menjadi. Orang Jakarta yang trauma dengan kemacetan dan banjir membuatnya semakin parah. Rutinitas gila sehabis hujan.

“Lelaki selalu sibuk menantang dan berkelahi dengan apapun yang menghadangnya di luar sana. Tapi lupa untuk menaklukkan dirinya sendiri. Itulah yang menghancurkan hubunganku dengan Mei. Aku berhasil melumerkan orangtua Mei meskipun mereka pernah menolak mengijinkan aku berpacaran dengan anaknya. Tapi aku terlalu sibuk menghadapi hal-hal dari luar yang kuanggap memusuhi hubungan kami sampai lupa bahwa Mei juga memiliki impian-impian yang ingin diraihnya, dengan atau tanpa aku,” kata Martin.

“Tetapi bukankah pada akhirnya kamu selalu mengalah? Lantas kenapa bisa jadi seperti ini?” tanyaku tidak mengerti.

“Aku memang selalu mengalah. Setidaknya sebelum ini. Tetapi aku tidak mengalah dalam kesadaran bahwa hal itu memang harus kulakukan. Diam-diam aku menganggap itu adalah kekalahan. Aku biarkan egoku memendam kemarahan terhadap semua kekalahan itu. Aku kira aku bisa mengalahkan semuanya demi kegemilangan cinta kami. Tapi aku lupa bahwa di dalam diriku ada musuh yang kusepelekan. Dan musuh itulah yang mengalahkan kami,” jawab Martin.
Martin dalam banyak hal mirip dengan Viktor. Ia juga selalu berusaha menenangkan Mei dengan mengatakan kekuatannya akan sanggup menghadang apa pun yang menentang cinta mereka. Kelelakian menulikan telinga Martin sehingga tidak dapat mendengar suara hati Mei.

“Jadi kekonyolan seperti itu yang membuat apa yang seharusnya abadi menjadi tidak berarti?” keluhku.

“Yah, terkadang cinta tidak perlu diuji terlalu berat. Bahkan ujian yang sepele pun setingkali tidak perlu dan terlalu berlebihan,” kata Martin.

Aku tidak bisa menghentikan diriku untuk bersimpati padanya meskipun aku sedang menghadapi lelaki dari jenis yang sama dalam hubungan cintaku sendiri. Ahhh….seandainya Viktor bisa menyadari hal itu sebelum ia menghancurkan hubungan kami seperti Martin menghancurkan hubungannya bersama Mei. ****

Reblog this post [with Zemanta]
Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: