Menunggumu di Sepotong Senja (Cinta Yang Tak Mau Mati – Sekuel 7)


SUATU HARI – Desember 2006. Menikmati sepotong senja di Bundaran HI. Aku duduk sendirian di depan air mancur Plaza Indonesia. Menatap lalu-lalang manusia di bawah langit yang mulai temaram kehilangan cahaya matahari – seperti aku yang kehilangan kamu. Bayanganmu lamat-lamat kembali datang. Samar, tapi masih menyengat tajam pada ingatan yang terdalam. Sepintas melintas angan, sosokmu melintas di depanku.

Wajah demi wajah melintas di depanku. Tetapi kamu tidak juga lewat. Dan aku mulai merasa tidak akan pernah lagi mendengar suaramu memanggilku selembut dulu. Sampai kapan pun. Mungkin aku harus kembali meneruskan hidup. Sendirian mengejar kematian. Sambil menyimpan kenangan kita yang mulai melepuh.

Satu jam lewat. Ah, bahkan senja pun tak mampu bertahan. Tapi kenapa cinta ini tetap menolak untuk mati? ***

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: