Posts Tagged ‘arsip’


ADALAH seekor serigala yang sangat lapar. Demikian laparnya. Lambungnya seperti diremas-remas oleh tangan raksasa. Maka ia memutuskan untuk turun ke kampung di tepi hutan itu untuk mencuri ternak. Menjelang akhir tepian hutan, menjelang masuk ke tepian kampung, ia melolong panjang memperdengarkan kehadirannya dari balik kabut. Di dekat sebuah rumah paling tepi di kampung itu ia mendengar suara tangis seorang bocah kecil. Ia juga mendengar nenek si bocah menghardik mencoba mendiamkannya,”Berhentilah menangis, cucuku. Kalau kau tidak berhenti juga menangis, nenek akan menyerahkanmu kepada serigala yang melolong-lolong lapar itu”.

Mendengar kata-kata si nenek, serigala itu memutuskan untuk berhenti berburu. Daripada berlelah-lelah mengintai dan mengejar buruan lebih baik menunggu saja sampai nenek itu memberikan cucunya, pikir serigala itu. Maka iapun menunggu dekat rumah kecil di tepi kampung itu.

Sampai malam ia menunggu. Perutnya semakin melilit diremas-remas tangan raksasa yang tinggal di dalam perutnya yang semakin ganas itu. Si nenek tidak juga muncul menyerahkan cucunya kepada si serigala. “Ah, barangkali ia tidak mengetahui kehadiranku,” demikian pikir si serigala. Maka iapun beranjak semakin mendekat sampai ke sisi jendela rumah. Di sana ia menanti sambil memperdengarkan lolongannya. Sepi. Tidak ada satu suarapun yang ia dengar kecuali bunyi serangga-serangga malam. Maka ia kembali memperdengarkan lolongannya untuk memastikan si nenek mengetahui kehadirannya. Si bocah kecil di dalam rumah pun terdengar menangis lagi ketakutan mendengar lolongannya. Si serigala akhirnya mendengar si nenek berkata,”Sudahlah, cucuku. Berhentilah menangis. Jangan takut. Aku tidak akan menyerahkanmu kepada serigala itu. Kalau serigala itu berani mendekat, biar nanti nenek akan membunuhnya”. Serigala itupun kecewa mendengarnya. Ia tidak lagi percaya kepada manusia. Manusia hanya bisa berkata-kata, pikirnya. Ia berlari masuk kembali ke dalam hutan bersama kekecewaannya yang menyesakkan dada.

(Didedikasikan untuk Darmanto Jatman)

Reblog this post [with Zemanta]

ANDA ada di pihak mana ketika Obama menang dalam pemilihan presiden Amerika dua hari kemarin? Di pihak yang melihat kemenangan tersebut sebagai bagian dari kemenangan kecil umat manusia? Atau di pihak yang melihat kemenangan itu hanya sebagai sebuah hiruk-pikuk politik di belahan dunia yang jauh dan tidak penting bagi Anda?

Saya sendiri, awalnya, terbelah di antara dua pihak tersebut. Selama dua hari saya tidak dapat menentukan posisi saya. Haruskah saya ikut dalam pesta pora kemenangan Obama? Ataukah saya sebaiknya ikut masuk dalam barisan manusia yang dengan sinis melihatnya sebagai peristiwa yang sama sekali tidak terkait dengan diri saya dan tidak akan mempengaruhi atau membuat kehidupan saya menjadi lebih baik?

Kemarin saya masih condong pada pilihan kedua. Obama, meskipun pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya di Indonesia, tetap bukan siapa-siapa bagi saya. Ikatan Obama dengan Indonesia, saya rasa, terlalu dibesar-besarkan. Dalam banyak hal, Obama dan McCain sama saja bagi saya. Sentimen anti Amerika saya yang tidak adil dan rasis barangkali akan menyamakan mereka, dan orang Amerika mana pun, dengan George Bush – American Born Idiot!

Tapi, pagi ini, entah apa yang memulai, meskipun indeks finansial dunia kembali ambruk (07/11) (membuktikan faktor Obama tidak banyak pengaruhnya – setidaknya sampai hari ini), saya tiba-tiba sudah berada di pihak yang berbeda. Meskipun kurang tidur karena imsonia saya kembali kambuh, pikiran saya rasanya lebih bebas. Saya masih percaya pada kebaikan hati manusia. Saya masih percaya pada harapan. Saya masih percaya bahwa hasrat manusia untuk bebas, -untuk menjalani hidupnya dengan merdeka, untuk mendapatkan keadilan, untuk menikmati kualitas hidup yang lebih baik-, tidak boleh dibunuh – bahkan walau hanya oleh sikap sinis kita.

Saya masih percaya bahwa nasib manusia terkait dengan manusia lain. Itu adalah yang telah ditetapkan sejak manusia masih menjalani kehidupannya dalam pertarungan di padang rumput perburuan purba. Hanya dengan cara mengaitkan diri dengan manusia lain, manusia bisa selamat melewati guillotine seleksi alam yang tak kenal ampun.

Lagipula, bicara tentang politik dan nasib manusia Indonesia, rasanya terlalu tidak tahu diri bila kita mengatakan bahwa masa depan manusia tidak punya kaitan dengan peristiwa-peristiwa yang bergelombang di belahan dunia lain. Siapa yang bisa menyangkal bahwa gelombang demokrasi yang riaknya mulai menggelora di Indonesia sejak awal 90-an dan memuncak pada tahun 1998 merupakan bagian dari gelombang demokratisasi di belahan dunia lain.

Siapa yang bisa menyangkal bahwa perestroika yang dicanangkan seorang komunis Rusia merupakan salah satu program politik penting yang ikut mengubah wajah dunia kita? Begitu juga dengan runtuhnya tembok Berlin dan munculnya tulisan God is Tot di reruntuhan tembok itu yang seakan memaklumatkan kematian tuhan-tuhan kecil manusia – setelah kematian Tuhan dimaklumatkan oleh Niesztche. Martir-martir Lapangan Tiannamen, para paderi dan massa rakyat Burma yang dianiaya kediktatoran junta, rakyat yang terus berjuang mempertahankan haknya atas tanah di tepian Brantas sampai pesisir Danau Toba, mari kita deretkan di sini orang-orang tak bernama yang punya harapan bahwa masa depan bisa dibuat lebih baik lagi, mereka yang masih bisa percaya pada kebaikan hati manusia. Siapa berani bilang bahwa sikap diam kita tidak punya pengaruh apa-apa terhadap derita berkepanjangan manusia-manusia yang tergusur hak hidupnya di setiap sudut bumi? Jadi mengapa harus diam dan sinis ketika ada suara yang membawa harapan (walau sedikit) akan perubahan masa depan manusia?

Pagi ini saya bangun dengan kondisi kurang tidur, tapi sebagai manusia yang percaya bahwa masih ada harapan tersimpan di dalam kotak Pandora. Karena hanya dengan memelihara harapan-harapan itu-lah saya masih punya peluang (baca: harapan) untuk menjadi manusia, bukan budak dari apa pun, termasuk budak dari rasa takut saya akan kebebasan.

Reblog this post [with Zemanta]

Poster Promo Surfer Girl di La Piazza. Diskon sampai 80% menyambut liburan sekolah. Entah kealpaan atau kesengajaan. Scool Holiday?

Lepas dari kealpaan atau kesengajaan di atas, beberapa hari lalu saya menerima sms dari sebuah bank. Isinya: sebagai pemegang kartu kredit tertentu (saya malas menyebut nama penerbit kartu kreditnya) saya bisa beli produk elektronik di Carrefour dengan diskon sampai dengan 20%. Kebetulan mesin cuci di rumah sudah rusak. Jadi, pada hari Minggu (15/06), saya pergi ke Carrefour untuk lihat-lihat mesin cuci yang saya butuhkan. Siapa tahu dapat yang murah-meriah plus tambahan diskon. Sebelumnya, saya menelpon layanan pelanggan bank penerbit kartu kredit tersebut untuk memastikan kebenaran sms yang saya terima, sekaligus meminta informasi yang lebih lengkap. Siapa tahu saja ada hal yang tidak disampaikan melalui sms tersebut. Dan informasi yang terima melalui telepon tersebut kelihatannya tidak ada masalah. Semua baik-baik saja. Saya bisa mendapatkan mesin cuci baru dengan diskon 20%.

Ternyata produk elektronik yang mendapat diskon khusus tersebut hanya produk Sharp, tidak untuk produk elektronik merek lain. Itu pun hanya diskon 15%! Sialnya, setelah bertanya-tanya penuh harap kepada pihak Carrefour, tidak ada mesin cuci Sharp yang diskon 20%. (Bagi saya, itu artinya kesempatan saya mendapatkan diskon 5% telah dirampok). Dan segala benefit itu hanya bisa saya dapatkan pada hari itu saja. (Sebagai orang Indonesia, saya hanya bisa bilang, “Untung saya datang hari itu”).

Pelajaran yang saya petik hari itu adalah, pertama, siap-siaplah kecewa bila Anda percaya pada kata “sampai dengan” yang tertera pada promosi dan, kedua, siap-siaplah kecewa pada kata-kata yang tidak spesifik seperti “produk elektronik”, “produk fashion”, dsb.

Untunglah saya masih mendapatkan fasilitas kredit 0% selama 12 bulan.Related articles by Zemanta

Reblog this post [with Zemanta]