Posts Tagged ‘cerpen’


BELAKANGAN aku mendengar bahwa rencana pernikahan Martin dan Mei hancur berantakan sepuluh hari sebelum tanggal pemberkatan. Setelah itu Martin seperti menghilang ditelan bumi. Ia seperti menghindari semua orang, mungkin seluruh dunia.

Sesekali kami masih berpapasan dan saling menanyakan kabar seperti biasa. Tetapi sampai setahun lebih aku tidak tahu persis apa yang terjadi pada rencana pernikahan Martin dan Mei. Satu-satunya jawaban samar tentang itu terlontar pada saat Martin, pada salah satu pertemuan selintas kami, memberikan peringatan kepadaku bahwa Viktor sedang melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukannya.

Hubunganku dengan Viktor memang sudah beberapa lama naik-turun tidak menentu. Sementara angka 30 pada kalender kelahiranku mulai menuntut untuk aku memikirkan kepastian dalam hubungan kami. Sementara Viktor sepertinya tidak mau memusingkan banyak hal dalam hidup. Bahkan ia menertawakan usulanku untuk membuka rekening tabungan atas nama kami berdua walaupun tujuanku sebenarnya hanya ingin mendorong dia lebih memperhatikan kondisi keuangannya yang seperti bursa efek di masa krisis. Aku rasa keinginanku itu adalah sesuatu yang tidak perlu ditertawakan bila ia sadar bahwa kekacauan hidupnya bisa terancam oleh kemapanan karierku yang tengah meningkat. Bukankah ego lelaki seringkali menjadi kerikil yang tidak sepele? Tapi bagi Viktor segala rencana tentang masa depan hubungan kami adalah hal yang terlalu memusingkan kepala. Ia bersikeras bahwa ia selalu berusaha mendapatkan yang terbaik untuk hubungan kami dan itu sudah cukup. Tapi itu hanya kata-kata. Bukankah setiap usaha memerlukan rencana? Aku tidak bisa mengerti mengapa Viktor seperti enggan membagi rencana itu denganku, kalau pun rencana itu ada. Bukankah kami nanti akan menjalaninya bersama? Betapa tidak pekanya lelaki.

Jakarta / Indonesia, JavaImage by flydime via Flickr

Hujan di luar mulai reda, Tinggal gerimis kecil. Namun kekacauan di jalan-jalan di bawah sana malah semakin menjadi. Orang Jakarta yang trauma dengan kemacetan dan banjir membuatnya semakin parah. Rutinitas gila sehabis hujan.

“Lelaki selalu sibuk menantang dan berkelahi dengan apapun yang menghadangnya di luar sana. Tapi lupa untuk menaklukkan dirinya sendiri. Itulah yang menghancurkan hubunganku dengan Mei. Aku berhasil melumerkan orangtua Mei meskipun mereka pernah menolak mengijinkan aku berpacaran dengan anaknya. Tapi aku terlalu sibuk menghadapi hal-hal dari luar yang kuanggap memusuhi hubungan kami sampai lupa bahwa Mei juga memiliki impian-impian yang ingin diraihnya, dengan atau tanpa aku,” kata Martin.

“Tetapi bukankah pada akhirnya kamu selalu mengalah? Lantas kenapa bisa jadi seperti ini?” tanyaku tidak mengerti.

“Aku memang selalu mengalah. Setidaknya sebelum ini. Tetapi aku tidak mengalah dalam kesadaran bahwa hal itu memang harus kulakukan. Diam-diam aku menganggap itu adalah kekalahan. Aku biarkan egoku memendam kemarahan terhadap semua kekalahan itu. Aku kira aku bisa mengalahkan semuanya demi kegemilangan cinta kami. Tapi aku lupa bahwa di dalam diriku ada musuh yang kusepelekan. Dan musuh itulah yang mengalahkan kami,” jawab Martin.
Martin dalam banyak hal mirip dengan Viktor. Ia juga selalu berusaha menenangkan Mei dengan mengatakan kekuatannya akan sanggup menghadang apa pun yang menentang cinta mereka. Kelelakian menulikan telinga Martin sehingga tidak dapat mendengar suara hati Mei.

“Jadi kekonyolan seperti itu yang membuat apa yang seharusnya abadi menjadi tidak berarti?” keluhku.

“Yah, terkadang cinta tidak perlu diuji terlalu berat. Bahkan ujian yang sepele pun setingkali tidak perlu dan terlalu berlebihan,” kata Martin.

Aku tidak bisa menghentikan diriku untuk bersimpati padanya meskipun aku sedang menghadapi lelaki dari jenis yang sama dalam hubungan cintaku sendiri. Ahhh….seandainya Viktor bisa menyadari hal itu sebelum ia menghancurkan hubungan kami seperti Martin menghancurkan hubungannya bersama Mei. ****

Reblog this post [with Zemanta]

KEDEKATANKU dengan Martin terjadi tanpa direncanakan ketika pada suatu malam, empat tahun lalu, alkohol menjatuhkan kepalaku ke pundaknya dan kemudian mempertemukan bibir kami dalam sebuah ciuman setengah mabuk. Keputus-asaan bahkan menggerakkan kakiku untuk berlari ke dalam pelukannya ketika ia berpamitan setelah mengantarku pulang. Ketika itu aku sudah memiliki Viktor dan Martin pun memiliki Mei dengan belitan persoalan asmara kami sendiri-sendiri. Aku dengan kekeras-kepalaan Viktor. Martin dengan sifat kepala batunya. Kami adalah dua manusia yang datang dari dua titik yang berlawanan dan bertemu di sebuah persimpangan yang sepi. Luka-luka yang kami alami ketika membangun cinta masing-masing menyatukan kami di dalam satu hubungan tak bernama.

(Joan Chen dalam film Lust Caution.)

Setelah itu aku dan Martin seperti tidak terpisahkan sampai-sampai membuat Viktor cemburu setengah mati. Aku sendiri tidak habis pikir bagaimana Martin bisa mengisi bagian dari diriku yang tidak bisa diisi oleh Viktor. Martin seperti memberikan perhatian yang tidak kudapatkan dari Viktor. Ia begitu peka dan bisa memahami aku. Bagaimana bisa Martin, yang dalam banyak sifatnya merupakan cerminan pribadi Viktor, bisa mengisi ruang-ruang yang kosong diabaikan oleh Viktor? Yang jelas, dengan Martin, aku bisa bercerita banyak hal tentang apa yang kuinginkan tetapi tidak dipenuhi oleh kehadiran Viktor. Begitu juga sebaliknya dengan Martin. Pelan-pelan, Martin mengisi kedambaanku akan cinta yang dianggap Viktor cuma sebagai kecengengan melankolis seorang perempuan. Apakah hatiku telah beralih kepada Martin? Aku tidak punya keberanian sejauh itu. Aku sendiri sadar bahwa hatiku tetap terarah kepada Viktor meskipun ketidakpeduliannya membuatku merasa tidak dapat bersaing dalam perebutan tempat dengan kelelakiannya. Dan Martin, kurasa pun seperti itu dengan Mei. Bahkan dalam pertengkaran mereka yang paling sengit sekali pun, aku melihat bagaimana cinta Martin kepada Mei begitu membara meskipun dalam suaranya yang sengit ketika bercerita kepadaku.

“Ahhh….aku tidak tahan lagi. Mei terlalu sensitif dan terlalu cerewet dengan banyak hal. Terlalu perempuan,” kata Martin kala itu.

Ah, bukankah aku juga seperti Mei dengan segala macam tuntutanku kepada Viktor? Dan, seperti yang telah terjadi berulang-ulang, Martin selalu kembali kepada Mei. Tidak peduli seberapa parah pun pertengkaran yang terjadi di antara mereka.

“Bagaimana kamu bisa bertahan dalam hubungan yang diisi oleh pertengkaran-pertengkaran yang semakin lama semakin sengit begitu?” tanyaku suatu kali.

“Aku akhirnya selalu mengalah,” jawab Martin.

Yang belakangan aku sadari, dan Martin pun menyadarinya setelah semuanya terlambat, adalah apa yang disebut mengalah oleh Martin sebenarnya adalah palsu. Ia memendam marah terhadap setiap langkah mundur yang diambilnya. Persoalan dia dan Mei tidak pernah diselesaikan tuntas. Kemarahan-kemarahan itu terus menumpuk seiring dengan semakin banyaknya Martin melakukan apa yang ia sebut mengalah itu. Dan gunung kemarahan tersebut akhirnya meledak dalam klimaks yang meluluh-lantakkan segalanya. ***


18 Juni 2007. 611 hari. Satu setengah tahun. Aku menekuri bintang sambil menatap bayang-bayangmu lamat di kejauhan. Berpendar-pendar, timbul dan hilang. Aku masih berhenti di puing-puing ruang batin yang kita ciptakan bertahun-tahun lalu. Berdiri sendirian mengamati sosokmu memudar, datang dan pergi, di luar lingkaran jagat kecil kita yang sekarat. Menantimu pulang….. ***

SUATU HARI – Desember 2006. Menikmati sepotong senja di Bundaran HI. Aku duduk sendirian di depan air mancur Plaza Indonesia. Menatap lalu-lalang manusia di bawah langit yang mulai temaram kehilangan cahaya matahari – seperti aku yang kehilangan kamu. Bayanganmu lamat-lamat kembali datang. Samar, tapi masih menyengat tajam pada ingatan yang terdalam. Sepintas melintas angan, sosokmu melintas di depanku.

Wajah demi wajah melintas di depanku. Tetapi kamu tidak juga lewat. Dan aku mulai merasa tidak akan pernah lagi mendengar suaramu memanggilku selembut dulu. Sampai kapan pun. Mungkin aku harus kembali meneruskan hidup. Sendirian mengejar kematian. Sambil menyimpan kenangan kita yang mulai melepuh.

Satu jam lewat. Ah, bahkan senja pun tak mampu bertahan. Tapi kenapa cinta ini tetap menolak untuk mati? ***


Happy Birthday!
17 September 2006
. Hari ini aku berulang tahun. Aku merayakannya sendirian bersama malam. Berulangkali aku membaca kartu ucapan yang sudah kadaluarsa – kartu ucapan ulangtahun terakhir kuterima darimu. Tertulis “I couldn’t have asked for a better husband”. God, I miss you so much. No matter what, I’ll always love you.***


28 AGUSTUS 2006. Aku menerima sms darimu. “Are you there? Bisa kita bicara nanti?”, katamu. Sayangnya, tidak. Aku berada ribuan kilometer darimu. Dan kamu telah memperpanjang jarak itu sehingga tidak tertempuh (seberapa cepatpun aku berlari ke arahmu) dengan keputusanmu membunuh apa yang kita punya.

Tapi aku ingat. Mungkin kamu tidak mengira aku ingat. Yah, aku ingat, setiap detilnya. Aku ingat hari itu setahun yang lalu kamu mengenakan baju batik berwarna biru muda, melambangkan cinta kita yang telah ditakdirkan di antara debu bintang. Aku ingat ketika kita begitu kikuk saat aku mengenakan seuntai kalung sederhana di lehermu di hadapan keluarga kita. Itulah hari pertunangan kita. Aku ingat semua itu, matahari.
Entah
kenapa, setahun kemudian, kamu memilih hari itu untuk meminta maaf atas tiga hal yang kamu bilang meninggalkan luka batin yang tidak kecil di dalam diriku. Tahukah kamu bahwa itu tidak berarti sama sekali? Tahukah kamu bahwa ketiga hal yang kamu sebut itu memang melukaiku teramat parah, tetapi itu tidak berarti apa-apa karena toh aku memilih menjalani kesakitan itu bersama keputusanku untuk mencatat kisah kita di kubah langit? Kenapa kamu menganggap ketiga hal itu sebegitu penting dan meminta maaf setelah satu tahun lewat? Tahukah kamu bahwa ketiga hal itu tidak berarti apa-apa bagiku? Tidak tahukah kamu bahwa bagiku kesakitan yang tak tertahan, sampai kapan pun, adalah kamu tidak lagi menjadi hal pertama yang aku lihat ketika membuka mata di pagi hari?

Dan aku tepekur di kegelapan, menatap debu bintang bersama suara jangkrik, mencoba menangkap raut wajahmu dengan menarik garis dari satu titik bintang ke titik bintang. ***


6 Agustus 2006. 23.30. Wine Cellar, La Piazza. Duduk sendirian ditemani sebotol Rioja. Tinggal seperempat botol. Pikiran terus mengembara. Mencari-cari bayanganmu. Sedang apa kamu disana, kekasih? Bulan demi bulan, perjalanan panjang, tidak juga membuat kamu lekang dari hatiku.. Sedang apa kamu di sana? Pernahkah kamu merindukan aku? Pernahkah bayanganku melintas di dalam lamunanmu? Apa kabarmu, kekasih? Aku sangat kesepian dalam pengembaraanku. Kembali ke kota kita dan terdampar dalam kesepian yang lain.


Angin meniup bendera kecil warna-warni di
Thongla Pass – biru, putih, merah, hijau, dan kuning. 5.050 meter di atas permukaan laut doa-doa dipanjatkan kepada langit, bumi, udara, api, dan air. Sementara itu di depan Jokhang Temple, penduduk Lhasa melakukan Kora. Cahaya matahari senja yang redup merekam bayang-bayang kehidupan di tanah.

Ohh…cinta yang menolak mati. Kesepian mencari bayanganmu di antara bayangan manusia-manusia yang tidak kukenal. Ribuan kilometer dari Jakarta, kakiku gemetar menopang jiwaku yang sekarat. Sedang apa kamu di sana, matahari? Aku ingin pulang kepadamu. Apakah pintu hatimu masih tertutup rapat?

Aku hanyut bersama arus manusia. Menanti suaramu memanggilku pulang. ****