Posts Tagged ‘newspaper’


I found this fascinating quote today:

Here are nine:

  • Give us content for free, that should be the first tenet of newspapers’ new business model. Put the content online and quit wasting resources on printing the darn things.
  • Provide localized (whether geographically or interest-level), personalized stories. Quit giving me articles written from the traditional third-person view that a sixth-grader could read because our world today is about you and me, not some weird narrator from “The Truman Show.” Continue Reading »
Advertisements

KEKHAWATIRAN akan matinya media cetak karena gerusan perubahan pola konsumsi media semakin memuncak di belahan dunia Barat. Apalagi setelah beberapa koran di Amerika, satu demi satu, tidak mampu bertahan – readership menurun, pemasukan dari iklan pun semakin berkurang – dan akhirnya ditutup. Berbagai seminar dan debat telah diselenggarakan untuk mencari jalan keluar dan menyelamatkan media cetak dari kematian. Solusi yang ditawarkan pun bermacam-macam. Ada yang bilang bahwa media cetak juga harus punya dukungan dari versi onlinenya untuk bertahan hidup, atau menyempitkan diri dalam ceruk pasar yang sangat tersegmentasi, mengembangkan model media yang lebih interaktif dengan mempromosikan citizen journalism, memperkuat sisi grafisnya untuk memperkuat content dan menjadi lebih menarik untuk dibaca, sampai saran untuk menjadi media gratis.

Jadi apa yang ditawarkan oleh teknologi untuk menyelamatkan media cetak? Salah satunya adalah Kindle 2. Ini adalah Kindle generasi kedua. Tapi karena posting ini tidak akan membicarakan Kindle 2 ini secara khusus maka saya tidak membahasnya secara detail. Dengan alat berbobot sekitar 289 gram ini Anda bisa membaca bukan saja buku, tetapi juga koran. Tebalnya tidak sampai 1 cm, hanya sekitar 0,7 cm. Dilengkapi dengan wifi yang membuat Anda bisa mendownload buku atau koran yang ingin Anda baca (hampir) di mana saja. Continue Reading »


SEBAGIAN orang berpendapat bahwa ada beberapa opsi untuk menyelamatkan koran dari kematian, antara lain mengubah format ukuran, menjadi lokal, gratis, lebih segmented (niche), opinion driven, atau menyesuaikan diri dengan pola oran mengonsumsi media (pagi baca koran, di mobil dengar radio, siang cek email dan baca berita di internet, malam nonton televisi).

Jacek Utko, seorang mantan arsitek yang beralih profesi menjadi desainer grafis, tidak percaya itu. Ia telah mendesain ulang sejumlah koran yang terbit di negara-negara bekas blok Soviet. Pada tahun 2004, ketika bekerja sebagai art director di Puls Biznesu, koran kecil yang terbit di Warsawa, ia mengubah desain koran bisnis tersebut sehingga mendapatkan penghargaan dari The Society for News Design (SND) sebagai koran dengan desain terbaik di dunia. Sekarang Jacek bekerja sebagai art director di Bonnier Business Press, memberikan supervisi untuk koran-koran di negara Eropa Timur dan Baltik. Supervisinya terhadap koran-koran tersebut secara konsisten terus mendapatkan penghargaan besar (termasuk desain terbaik di dunia dari SND di tahun 2007 untuk Aripaev, koran yang terbit di Estonia). Hebatnya, penghargaan-penghargaan tersebut diraihnya meskipun ia bekerja dengan tim-tim yang kecil dan dengan sumberdaya terbatas.

Jacek merancang ulang koran-koran yang ditanganinya dengan prinsip yang paling dasar. Ia menyarankan formula desain yang lebih segar – mengubah koran yang membosankan dan terlalu serius menjadi lebih segar dan menghibur. Seperti memasukkan musik ke dalam lembar-lembar kertas koran yang lusuh, kata Jacek. Untuk itu ia tidak ragu menabrak garis-garis desain koran konvensional.

(Video Source: http://www.ted.com/index.php/talks/jacek_utko_asks_can_design_save_the_newspaper.html)

Berdasarkan pengalaman Jacek, desain dapat meningkatkan respon pembaca – readership dan oplah pun naik. Jacek membuktikan bahwa desain yang bagus dapat membantu koran mendapatkan pembacanya kembali.

Lalu, benarkah desain dapat membatalkan kematian koran? Tidak. Tidak sendirian. Jacek tetap mengakui bahwa konten tetap merupakan jiwa koran. Antara konten dan desain adalah seperti fungsi dan bentuk. Namun demikian, tetap saja, konten yang bagus tanpa desain yang dapat menarik pembaca untuk menengok konten tersebut adalah percuma. Jadi, saran Jacek, inilah saatnya merancangulang koran.

Related articles by Zemanta

Reblog this post [with Zemanta]

KAMIS, 26/2/2009, satu lagi kabar buruk datang dari dunia suratkabar. Pemilik EW Scripps, penerbit The Rocky Mountain News, mengumumkan kegagalan upaya mencari investor baru yang bisa menyelamatkan koran ini. Upaya tersebut telah dilakukan sejak awal Desember tahun lalu. “Today the Rocky Mountain News, long the leading voice in Denver, becomes a victim of changing times in our industry and huge economic challenges,” kata Scripps CEO Rich Boehne. Tahun lalu suratkabar yang telah terbit selama 150 tahun di Denver, Colorado, ini mengalami kerugian sampai $16 juta dolar US. Dan, Jumat (27/2/2009) adalah hari terakhir warga Denver bisa menikmati koran ini.

Ini adalah hari-hari yang buruk bagi dunia suratkabar di Amerika. Nasib The Rocky Mountain News kemungkinan juga akan dialami oleh The Seattle Post Intelligencer, The San Fransisco Chronicle, dan The Tucson Citizen. Satu demi satu suratkabar di Amerika rontok. Sebagian mulai berpikir untuk beralih ke model bisnis online. Faktanya, pada tahun 2007, angka sirkulasi suratkabar di Amerika turun 3%. Dan dalam kurun lima tahun terakhir angka sirkulasi tersebut turun sebesar 8%. Hal tersebut diperburuk dengan penurunan pemasukan dari iklan sebesar 3% pada tahun 2007.

It’s hard to losing the best job in the world. Suasana di newsroom The Rocky Mountain News pada saat penutupan suratkabar tersebut diumumkan. 230 orang staf editorial kehilangan apa yang mereka sebut “pekerjaan terbaik di dunia dan the most amazing family”.

Bila dunia suratkabar di Amerika sedang sekarang, sejawatnya di Eropa juga sedang sakit parah. Angka sirkulasi di Eropa turun 1.9% pada tahun 2007. Menurut sebuah studi, ini adalah karena di kedua belahan dunia itu suratkabar bersaing dengan sangat ketat dan terdesak oleh suratkabar-suratkabar gratis dan internet dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Ini berbanding terbalik dengan angka sirkulasi dunia yang secara keseluruhan meningkat 2,6% pada tahun yang sama berkat pertumbuhan industri suratkabar di Asia, khususnya China dan India. China merupakan pasar suratkabar terbesar di dunia saat ini dengan angka sirkulasi 107 juta eksemplar per hari, diikuti oleh India dengan 99 juta eksemplar terjual per hari, menurut World Association of Newspapers.

Kesenjangan ekonomi dan teknologi nampaknya justru menguntungkan Asia dalam tren ini. Namun, bila memang demikian, dunia suratkabar Asia yang sedang berkembang ini pada saatnya (mungkin 10 tahun ke depan) akan mengalami senjakala juga seperti yang terjadi saat ini di Amerika dan Eropa.
Related articles by Zemanta

Reblog this post [with Zemanta]